Paula Verhoeven dan Asri Welas Ditunjuk Jadi Bunda Asuh Anak Stunting, Apa Saja Tugasnya?

ERA.id - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjuk figur publik Paula Verhoeven dan Asri Welas sebagai Bunda Asuh Anak Stunting untuk mengedukasi masyarakat cara mencegah stunting.

"Kami tunjuk figur publik sebagai Bunda Asuh Stunting supaya diingat betul, kalau Paula dan Asri yang ngomong, pasti diingat betul," kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, dikutip Antara.

Lalu, kata Hasto, meski dirinya berprofesi sebagai dokter kebidanan, ucapannya sering kali tidak didengarkan oleh wanita yang ingin menikah muda.

Untuk itu, penunjukan Bunda Asuh Anak Stunting dari kalangan figur publik menjadi penting sebagai cara membentuk sistem sosialisasi stunting yang masif.

"Jadi, kami harus melakukan massive information system. Tentu seperti Paula dan Asri ini pengikutnya banyak, dan mereka ini memiliki pengalaman (merawat anak)," ujar Hasto.

Bunda Asuh Anak Stunting (Dok: Antara)

Lebih lanjut, tugas Paula dan Asri Welas nantinya akan bersama-sama melakukan kampanye di DKI Jakarta, juga tentu di seluruh Indonesia tentang stunting kepada ibu dan anak.

Sementara itu, Paula Verhoeven mengaku penunjukan dirinya sebagai Bunda Asuh Anak Stunting itu menjadi kesempatan untuk saling berbagi. Mengingat ada banyak informasi yang baru-baru mengenai stunting yang belum dia ketahui.

"Banyak juga hal-hal baru yang baru kita tahu seperti tadi kayak ternyata kalau hamil itu ada minimal lingkar lengan, umur juga, terlalu tua juga ternyata enggak baik," ujar Paula.

Sementara itu Asri Welas mengatakan akan memaksimalkan penugasan yang diberikan oleh Kepala BKKBN dengan cermat agar informasi mengenai pencegahan stunting bisa diketahui oleh masyarakat luas.

"Kita memberikan ibu yang dia butuhkan. Sehingga ibu siap untuk menghadapi situasi dan kondisi yang ada sekarang. Jadi bisa mengedukasi, sampai paling tidak ibu ini siap, berani berkorban untuk anaknya sampai anaknya hidup mandiri secara ekonomi, secara semuanya sehingga terkurangi lah (stunting DKI)," kata Asri.

Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, prevalensi balita stunting DKI Jakarta 14 persen dari total populasi anak dengan usia di bawah lima tahun. Dalam data yang dimiliki BKKBN, DKI Jakarta setidaknya memiliki hampir 799 ribu balita. Maka, dengan angka prevalensi 14 persen, anak balita berisiko stunting di DKI Jakarta jumlahnya masih sekitar 110 ribu.