Berbagai Tips Mengenalkan Pendidikan Seks pada Anak Sesuai Umur

ERA.id - Pendidikan seks merupakan hal yang penting bagi anak, bahkan sejak usia dini. Namun, sebagian orang tua masih bingung mengenai cara memberikan edukasi tersebut. Tips mengenalkan pendidikan seks pada anak bisa menjadi referensi yang penting agar hal tersebut bisa dilakukan dengan baik dan tepat.

Dikutip Era.id dari WebMD, orang tua perlu memberikan pendidikan seks kepada anak, termasuk membiasakan diskusi mengenai seks di rumah. Pendidikan seks yang tepat membuat rasa ingin tahu anak terpenuhi sehinga bisa mencegah anak-anak melakukan perilaku seksual berbahaya dan merugikan.

Pendidikan seks juga bisa meningkatkan kesadaran anak terhadap pentingnya menjaga kesehatan organ reproduksi. Perlu diingat, pendidikan seks tidak hanya soal kegiatan seksual. Berbagai hal perlu dijelaskan saat memberikan pendidikan seks, misalnya soal kehamilan, penyakit menular seksual, privasi (terkait hal intim), dan bahaya pornografi.

Meski demikian, penyampaian informai tersebut perlu disesuaikan dengan usia si anak. Dilansir Aicare, berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua terkait pendidikan seks pada anak berdasarkan usia.

Ilustrasi diskusi ibu dengan anak perempuannya (unsplash)

Berbagai Tips Mengenalkan Pendidikan Seks pada Anak

·         Usia balita (di bawah 5 tahun)

Pendidikan seks bisa dilakukan sejak anak masih berusia di bawah lima tahun. Hal yang bisa dilakukan adalah pengenalan anggota tubuh, termasuk organ intim.

Anda bisa menyebut alat kelamin dengan istilah asli “penis” atau “vagina”. Jika Anda menggunakan bahasa kiasan untuk menyebut alat kelamin, anak bisa mengalami kebingungan saat berkomunikasi dengan gurunya atau orang lain.

Anda juga bisa menjelaskan soal larangan menyentuh organ intim milik orang lain. Anak juga diberi penjelasan bahwa tidak semua orang boleh menyentuh organ intim yang dia miliki.

Terkadang, balita bertanya soal asal datangnya bayi dan bagaimana itu dibuat. Anda bisa memberikan penjelasan dengan bahasa sederhana, contohnya, “Bayi terbentuk dari pertemuan sperma ayah dan sel telur ibu di dalam rahim ibu”. Jika anak bertanya lebih jauh dan membuat Anda sulit menjelaskan, Anda bisa mengatakan bahwa hal tersebut akan dipelajari si anak di sekolah saat usianya sudah tepat untuk mempelajarinya.

·         Usia 6—8 tahun

Pada usia ini, Anda bisa mulai menjelaskan soal pubertas dan perubahan fisik yang terjadi pada anak selama masa pubertas. Lakukan hal tersebut secara bertahap dan dengan bahasa yang sederhana.

Anda juga perlu menjelaskan mengenai apa yang pantas dan tidak pantas terkait hal tersebut. Anda perlu kembali mengajarkan soal aturan privasi, yaitu tidak semua orang boleh menyentuhnya pada bagian-bagian tertentu. Dia juga tidak boleh menyentuh bagian-bagian tertentu dari orang lain.

·         Usia 9—12 tahun

Tanda-tanda pubertas bisa mulai muncul saat anak menginjak usia ini. Berikan penjelasan bahwa hal tersebut adalah hal yang wajar terjadi.

Penyebabnya adalah perubahan hormon dan anak tidak perlu takut atau malu. Jika Anda bingung atau tidak tahu mengenai apa yang ditanyakan anak, katakanlah “tidak tahu”. Anda bisa menyarankan si anak bertanya kepada guru atau orang yang lebih memahami hal tersebut.

·         Usia 13—18 tahun

Pada rentang usia ini, anak masuk tahap menjelang dewasa. Anda bisa membicarakan seks dengan pemabahasan yang lebih serius, mengenai tanggung jawab, sexual consent, penyakit menular seksual, kekerasan seksual, aturan, norma, dan sebagainya.

Jika anak memiliki ketertarikan kepada lawan jenis, Anda bisa menjadi teman curhatnya sehingga anak tidak terjerumus ke dalam hubungan yang tidak diinginkan.

Mengenalkan pendidikan seks pada anak bukan hanya sulit bagi orang tua, tetapi juga bagi anak. Tak ada salahnya untuk menggunakan media lain yang terpercaya untuk membantu proses edukasi ini, misalnya dengan buku, situs website yang terpercaya, atau kanal YouTube mengenai pendidikan seks untuk anak.