Sejarah Hari Puisi Sedunia dan Tema Tahun Ini

ERA.id - Hari ini, 21 Maret, diperingati sebagai Hari Puisi Sedunia atau World Poetry Day. Ini berbeda dengan Hari Puisi Nasional yang jatuh pada 29 April. Sejarah Hari Puisi Sedunia tentu juga berbeda dengan yang ada di Indonesia.

Puisi sudah ada sejak ribuan tahun lalu, andilnya juga sudah sangat banyak terhadap dunia. Puisi hidup dan berkembang bersama manusia yang terus berjalan di lintasan waktu—hingga saat ini.

Oleh sebab itu, tak heran jika puisi memiliki hari besarnya sendiri. Tujuan dari perayaan ini adalah menghormati penyair-penyair yang telah membawa para pembaca ke alam lain untuk memahami esensi semesta dan kehidupan di dalamnya.

Sejarah Hari Puisi Sedunia

Hari Puisi Sedunia diperingati setiap tahun dengan tema tertentu. Tahun 2023, Hari Puisi Sedunia memiliki tema always be a poet, even in prose atau ‘selalu menjadi penyair, bahkan dalam bentuk prosa’, seperti dikutip Era.id dari National Today.

 Ilustrasi melihat alam melalui puisi (pexels)

Puisi memiliki kekuatan untuk menyentuh perasaan dan membuka pikiran pembaca terhadap sesuatu. Hal tersebut tak berbeda jauh dengan pemaknaan KBBI, yaitu gubahan dalam bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman hidup dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus.

Menurut H.B. Jassin, sastrawan, puisi merupakan karya sastra yang diucapkan dengan perasaan dan memiliki gagasan atau pikiran serta tanggapan terhadap suatu hal atau kejadian tertentu.

Hari Puisi Dunia ditetapkan pada 21 Maret oleh UNESCO dalam Konferensi Umum ke-30 yang digelar di Paris. Acara ini dilaksanakan di Perancis pada 26 Oktober hingga 7 November 1999.

Penetapan Hari Puisi Dunia dilakukan untuk mendukung keragaman bahasa melalui ekspresi puitis dan meningkatkan kesempatan bahasa yang terancam punah untuk didengar. Ini menjadi momen bagi masyarakat dunia untuk menghormati para penyair, menghidupkan lagi tradisi penulisan dan pembacaan puisi, mendorong konvergensi puisi dengan seni yang lain (seperti musik, teater, tari, dan rupa), serta meningkatkan visibilitas puisi di berbagai media.

Puisi mampu menyatukan orang-orang dari berbagai tempat, bahkan yang tepisah samudra. Selain itu, gagasan, rasa, dan semangat pada masa lampau bisa kembali hidup di hati dan pikiran masyarakat modern melalui puisi.

Dilansir National Today, puisi paling awal memiliki judul “Epic of Gilgamesh", sekitar tahun 2000 SM. Meski demikian, terdapat kemungkinan bahwa puisi telah ada sebelum literasi menyebar.

Soneta pertama kali diciptakan pada abad ke-14. Karya soneta awal yang paling terkenal adalah tulisan Francesco Petrarca. Seiring waktu berjalan, berbagai bentuk puisi lahir dan menjadi tren di masa-masa selanjutnya. Sejarah Hari Puisi Sedunia mungkin dimulai sejak 1999, tetapi puisi memiliki sejarah yang jauh melebihi perhitungan manusia.