Kilas Balik Sejarah Derby Della Madonnina, Persaingan Panas Dua Raksasa Italia

ERA.id - Besok pagi (dini hari), semifinal Liga Champions akan digelar dengan tajuk Derby Della Madonnina. Dua raksana Italia, AC Milan dan Inter Milan, akan bertarung di panggung Eropa demi tiket final Liga Champions.

Laga ini akan menyedot perhatian banyak fan bola. Bukan hanya karena berstatus semifinal, tetapi juga terkait sejarah Derby Della Madonnina yang melegenda. Pertandingan leg pertama akan digelar di Stadion San Siro, Kamis 11 Mei 2023, pukul 02.00 WIB.

Derby Della Madonnina di UCL 2023 (Twitter @SerieA_ID)

Sejarah Derby Della Madonnina

Dikutip Era.id dari berbagai sumber, derby Kota Milan tidak terlepas dari sejarah berdirinya AC Milan dan Inter Milan. Kedua tim ini sering dipersonifikasikan sebagai i cugini atau ‘saudara sepupu’ sebab erasal dari menjadi bagian dari tim yang sama.

Kisah berawal dari dua ekspatriat asal Nottingham, Inggris, bernama Alfred Edwards dan Herbert Kilpin. Pada 1899, keduanya membentuk tim kriket dan sepak bola dengan nama AC Milan.

Pada 1908, terjadi perpecahan di internal AC Milan akibat kebijakan klub yang melarang pemain asal luar negeri. Menyusul kebijakan tersebut, sebagian anggota klub—yang dikabarkan merupakan kalangan terpelajar—berkumpul di sebuah restoran di Kota Milan. Mereka berdiskusi tentang pembentukan klub baru.

Gagasan memisahkan diri dari AC Milan muncul sebagai bentuk solidaritas terhadap salah satu orang dari Swiss yang dilarang bermain. Setelah melalui beberapa perundingan, sebuah klub baru lahir dengan nama Internazionale atau Internazionale Milano atau Inter Milan. Nama tersebut merujuk semangat persaudaraan lintas negara.

Hal tersebut menjadi titik awal rivalitas kedua tim. Masyarakat Kota Milan yang berasal dari kelas pekerja cenderung memberikan dukungan kepada AC Milan. Sementara, orang-orang berduit mendukung klub yang baru lahir, Inter Milan.

Nama Derby Della Madonnina

Sekitar tujuh bulan sejak Inter Milan lahir, derby perdana Kota Milan terjadi, yaitu dalam final Chiasso Cup. AC Milan keluar sebagai pemenang dengan skor akhir 2-1.

Pertandingan tim sekota ini kemudian diberi nama Derby Della Madonnina. Nama ini merujuk kepada patung Madonnina atau Bunda Maria yang berada di puncak gereja Katerdral Milan, Piazza Duomo. Patung tersebut merupakan lambang atau ikon Kota Milan.

Persaingan kedua tim di berbagai kompetisi kerap diwarnai tensi yang panas. Aura persaingan tidak hanya tersaji di atas lapangan hijau, tetapi juga di pendukung masing-masing tim. Seiring berjalannya waktu, derby ini semakin terkenal dan menjadi perhatian penikmat sepak bola dari berbagai penjuru dunia.

Kedua tim memang bersaing dengan sengit. Namun uniknya, AC Milan dan Inter Milan masih bermarkas di stadion yang sama, yaitu San Siro. Stadion ini berdiri pada 1925. Penggagas pembangunan San Siro adalah mantan presiden AC Milan, Piero Pirelli.

Pada awalnya, San Siro diperuntukkan sebagai markas AC Milan. Sementara, markas Inter Milan adalah Arena Civica, lapangan sepak bola yang pernah menjadi tempat parade militer pasukan Napoleon Buonaparte.

Akan tetapi, pada 1935 AC Milan dilanda krisis keuangan sehingga manajemen harus menjual San Siro ke pemerintah Kota Milan. Di tangan pemkot, San Siro mengalami renovasi. Kemudian, pada 1947, Inter Milan yang saat itu prestasinya sedang baik memutuskan untuk pindah markas ke stadion tersebut.

Pemkot Milan kemudian mengubah nama stadion tersebut menjadi Giuseppe Meazza pada 1980. Nama tersebut dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu legenda sepak bola timnas Italia, Giuseppe Meazzza, yang pernah memperkuat Inter Milan dan AC Milan.

Nama memang sudah diubah, tetapi pendukung AC Milan tetap menyebut stadion itu sebagai San Siro. Ini karena Giuseppe Meazzza lebih identik dengan Inter Milan.