Apa Itu Flu Babi Afrika dan Seberapa Berbahaya?

ERA.id - African Swine Fever (ASF) sudah masuk ke Indonesia dan jadi masalah kesehatan yang perlu diwaspadai. Virus flu babi Afrika tersebut ditemukan merambah di Pulau Bulan, Batam. Lantas apa itu flu babi Afrika dan perbedaannya dengan flu babi biasa?

Flu babi Afrika merupakan virus yang menyerang hewan babi, baik babi peternakan maupun babi hutan. Virus ini tidak bersifat zoonotik (zoonosis), jadi tidak menular ke manusia. Meski demikian, penyebaran virus ini perlu diwaspadai dan dicegah karena bisa menyebabkan kematian tinggi pada hewan. 

Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pertanian (Mentan), mengungkapkan pihaknya langsung mengisolasi total dan intervensi vaksin di Pulau Bulan, Batam, untuk mencegah merebaknya flu babi Afrika. Apa itu flu babi Afrika dan seberapa berbahaya?

Apa Itu Flu Babi Afrika?

Flu babi Afrika merupakan penyakit virus babi yang menular dan menyebabkan kematian pada hewan yang terjangkit. Flu ini berasal dari virus family Asfarviridae dan tidak berbahaya bagi manusia. 

ilustrasi flu babi Afrika (Snappy Goat)

Jenis flu yang satu ini berbeda dengan flu babi yang menyerang manusia. Jika flu babi biasa mengakibatkan masalah kesehatan pada saluran pernapasan manusia, flu babi Afrika hanya menyerang pada binatang. 

Flu babi Afrika (ASF) pertama kali ditemukan di Afrika sub-Sahara. Sementara penyebaran ASF di Eropa, terbatas di Pulau Sardinia Italia dari tahun 1995 hingga 2007. Namun pada tahun 2007, penyakit ini mulai merebak ke negara-negara tetangga. 

Bahaya Flu Babi Afrika

Flu babi Afrika memang tidak berbahaya bagi manusia. Namun virus ini dapat menyebabkan kematian tinggi pada hewan babi, yang bisa mengganggu ekonomi dan sosial di suatu daerah. ASF dibagi menjadi dua jenis berdasarkan tingkat keparahannya. 

Akut

Babi yang menderita ASF tingkat akut akan mengalami hilang nafsu makan. Selain itu, babi akan merasakan gejala demam, lesu, lemah, dan pendarahan di dalam kulit telinga, kaki, dan perut. Babi juga dapat mengalami diare, keguguran, muntah, hingga kematian dalam waktu kurang dari 20 hari. 

Subakut dan Kronis

Babi yang terjangkit ASF dalam tingkat subakut dan kronis akan mengalami gejala yang lebih ringan. Babi yang menderita dalam tahap ini juga memiliki risiko kematian yang lebih rendah, yakni sekitar 30-70%. 

Demikianlah ulasan mengenai apa itu flu babi Afrika. Hingga saat ini flu babi Afrika belum terbukti menular ke manusia. Penyakit ini menyebar dari hewan yang sakit ke hewan lainnya. Meski demikian masalah kesehatan ini dapat menyebabkan gangguan sosial ekonomi yang signifikan di banyak negara karena butuh waktu lama untuk memberantas flu babi Afrika. 

Ikuti artikel-artikel menarik lainnya juga ya. Kalo kamu mau tahu informasi menarik lainnya, jangan ketinggalan pantau terus kabar terupdate dari ERA dan follow semua akun sosial medianya! Bikin Paham, Bikin Nyaman…