Menjaring Suara Ahokers di Pilpres 2019

Jakarta, era.id - Untuk menang di Pilpres 2019, dua pasang capres-cawapres, Joko Widodo-Ma'ruf Amin serta Prabowo Subianto-Sandiaga Uno terus bergerilya mendekati sejumlah tokoh yang memiliki pengaruh suara. Sosok mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pun tak luput menjadi sasaran gerilya mereka. Para pendukung Ahok dianggap sangat penting sebagai salah satu lumbung suara.

Meski saat menjabat sebagai Ketua MUI Ma'ruf Amin, sempat mengeluarkan fatwa bahwa Ahok melakukan penistaan agama dalam kata sambutan yang disampaikan di Kepulauan Seribu pada 2016 yang lalu. Toh, nyatanya suara pendukung Ahok masih tetap berusaha diraih oleh kubu pasangan nomor urut satu ini. Tapi, jalan peraihan suara itu juga dianggap masih cukup mudah.

Sebabnya, menurut analisis Pengamat politik sekaligus Analisis Komunikasi Politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio, rata-rata pendukung Ahok itu merupakan fans garis keras Jokowi. Jadi, tak sulit bagi kubu Jokowi-Ma'ruf Amin untuk memenangkan hati mereka, karena sosok yang dilihat oleh pendukung Ahok lebih kepada sosok Jokowi sebagai capres.

"Pendukung Ahok itu pendukung die harder Jokowi. Jadi ya, apa kata Jokowi, mereka nurut. Yang paling besar meraih suara pendukung Ahok ya, Jokowi. Kan Ma'ruf Amin kan wakil yang lebih dilihat kan Jokowinya saja," kata Hendri kepada era.id, Senin (24/9/2018).

Jika masih ada suara pendukung Ahok yang meragukan kualitas Ma'ruf Amin, atau keberatan dengan terpilihnya mantan Rais Aam PBNU itu, Hendri bilang akan segera menghapus keraguan dan rasa berat tersebut lewat musyawarah. Apalagi, musyawarah jadi hal biasa dalam memecahkan suatu masalah.

"Bikin aja satu sesi khusus pertemukan Kiai Ma'ruf Amin dengan die-harder garis kerasnya Ahok. Buat mereka buka-bukaan saja di situ. Tanya keganjalan-keganjalan mereka terhadap Kiai Ma'ruf. Saya kira dengan dialog semua bisa diselesaikan. Indonesia kan suka dengan musyawarah mufakat," ujarnya.

Soal dukungan di Pilpres 2019 juga disampaikan oleh seorang relawan yang juga pendiri Teman Ahok, Aditya Yogi Prabowo. Menurut Adit, cukup banyak relawan Ahok di Teman Ahok yang kini berubah nama jadi Sejuta Teman, berjuang memenangkan Jokowi pada Pilpres 2019 nanti, meski cukup banyak juga para relawan Ahok yang merasa ragu untuk memberikan dukungan.

"Kami tidak bisa juga mengklaim kalau semua pendukung Ahok akan ke Jokowi-Maruf. Mungkin saja ada yang punya pendapat berbeda. Karena itu yang bisa kami lakukan diskusi dengan teman-teman sebanyak mungkin, dan adakan jajak pendapat lewat sosial media, dan hasilnya seperti itu (adanya keraguan)," ungkap Adit lewat pesan singkat.

Sehingga untuk menyelesaikan keraguan para pendukung Ahok ini, hampir mirip dengan pernyataan Hendri, Adit setuju bila para pendukung Ahok ini diajak bertemu bersama dengan cawapres Jokowi tersebut. "Kami menyambut baik jika Kiai Maruf ingin bertemu, agar jika ada teman-teman lain yang masih punya keraguan bisa lebih yakin lagi," jelasnya.

Selain itu, selaku salah satu pendiri Sejuta Teman, sebagai pendiri dan pendukung setia gerakan relawan itu, Adit masih yakin untuk mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin nantinya di Pilpres. Bahkan, keputusan yang diambil itu sudah melalui diskusi yang panjang "Keputusan tersebut kami ambil setelah melalui berbagai diskusi yg cukup panjang. Menurut kami, Golput bukan pilihan karena itu kami harus tentukan pilihan," terangnya.

Sebagai informasi, pada Senin (24/9) kemarin politisi Partai Golkar Nusron Wahid mendatangi kediaman cawapres Ma'ruf Amin di Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat. Kedatangan Nusron merupakan langkah untuk menggaet suara pendukung mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok).

Rencananya, Nusron akan menjadi penyambung antara Relawan Nusantara yang merupakan pendukung Ahok yang merasa kaget dengan pilihan Jokowi untuk menjadikan Ketua MUI, Ma'ruf Amin sebagai cawapresnya.

"Ketika kiai Ma'ruf ditetapkan menjadi cawapres sempat ada yang kaget, karena bagaimana pun juga, Kiai Ma'ruf Amin yang memberikan fatwa bahwa Ahok adalah penista agama dan ahok dipenjara pada waktu itu. Tapi setelah kita yakinkan tentang posisi Kiai Ma'ruf Amin, Alhamdulillah, teman-teman relawan nusantara atau relawan NU menerima dan mau melakukan dukungan pada pak kiai Ma'ruf Amin, minimal tidak golput lagi," ungkapnya.

Sementara itu, sebagai cawapres Ma'ruf Amin akan menemui pendukung mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok). Pertemuan itu, kata Ma'ruf bertujuan untuk meluruskan fatwa yang pernah dikeluarkan dirinya semasa menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).

"Ada dugaan bahwa pernah melihat masa lalu saya sebagai Ketua Umum MUI, katanya relawan Ahok agak gimana, rasanya seperti apa. Saya sebetulnya enggak ada salah. Sekarang saya bergaul dengan siapapun untuk keutuhan bangsa, harus kita nomor satukan," kata Ma'ruf kepada wartawan di kediamannya di Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (24/9).

Ma'ruf juga bilang, pertemuan yang diinisiasi oleh politikus Partai Golkar Nusron Wahid itu bakal segera dilakukan. Pertemuan itu, disebut oleh mantan Rais Aam PBNU ini sangat penting bagi keutuhan bangsa.

"Pak Nusron ingin nanti saya bertemu mereka secara khusus. Kalau secara umum di berbagai forum, biasa. Kalau secara khsus, perlu ada pertemuan dan saya sangat gembira. Semua kalangan lah Saya akan temui untuk kepentingan bangsa," jelasnya.