Semangat Suminah yang Tunaikan Haji pada Usia 103 Tahun, Masih 'Gagah' Berhaji Tanpa Pendamping Keluarga

ERA.id - Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Solo baru saja menerima jamaah calon haji (calhaj) asal Kabupaten Rembang dan Kudus yang tergabung Kelompok Terbang (Kloter) 90 di Asrama Haji Donohudan Boyolali, Jawa Tengah, Selasa, sekitar pukul 09.00 WIB.

Jamaah calhaj tersebut berangkat dari daerah masing-masing dengan naik bus menuju Asrama Haji Donohudan Boyolali. Kehadiran mereka langsung disambut Satgas PPIH Embarkasi Solo di Gedung Jedah dengan pelayanan ramah, menerapkan tema penyelenggaraan ibadah haji tahun ini, "Ramah Lansia".

Begitu tiba di asrama, mereka segera menjalani cek kesehatan terakhir sebelum diberangkatkan ke Tanah Suci. Calhaj satu per satu mengikuti petunjuk Satgas PPIH Embarkasi Solo, dengan menunjukkan identitas diri. Mereka menjalani cek kesehatan untuk mengetahui kondisi kesehatan sebelum diterbangkan ke Tanah Suci.

Salah seorang calhaj Kloter 90, Suminah binti Sadani, warga Desa Pengkol, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, merupakan calhaj tertua di Embarkasi Solo.

Calhaj berusia 103 tahun itu, saat turun dari kabin bus tidak mau dibantu Satgas PPIH. Ia yakin mampu melangkah turun dari bus yang ditumpangi dari Rembang.

Suminah mengaku mendaftarkan ibadah haji pada 2015 dan seharusnya berangkat pada tahun 2020. Namun, karena pandemi COVID-19, ia batal berangkat. Dia baru bisa berangkat pada tahun ini  bersama Kloter 90 asal Rembang dan Kudus.

Suminah, pada usianya 103 tahun, berangkat haji tanpa ada pendampingan dari keluarga.  Meski demikian, ia sangat percaya diri, yakin akan mampu menjalani rukun kelima Islam itu. Keberanian turun dari kabin bus tanpa bantuan orang lain menunjukkan betapa besar rasa percaya dirinya.

Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan peternak sapi tersebut bersyukur dan lega bisa berangkat haji pada tahun ini. Dengan usia lebih dari seabad, ia meyakini bisa menjalani seluruh rangkaian ibadah haji.

Ibu tiga anak, tujuh cucu, dan enam cicit tersebut, sebagai petani dan peternak, sudah terbiasa menjalani pekerjaan fisik yang mengandalkan kekuatan otot kaki, tangan, dan badannya.

Oleh karena itu, ia mampu melangkah sendiri tanpa pendamping, termasuk menunaikan ibadah haji yang juga menuntut kesehatan fisik dan psikis itu.

Suminah berkisah bisa melampaui usia seabad lebih itu, antara lain, berkat kebiasaan menyantap banyak sayuran dengan lauk tempe dan tahu.

Meski berprofesi sebagai peternak, ia jarang makan daging. "Yang penting hati selalu bahagia sehingga tetap sehat," tutur Suminah.

Kloter 90 berangkat dari rumah pada Senin (19/6), pukul 22.00 WIB, berkumpul di kompleks kabupaten. Suminah dan jamaah calon haji tiba di Asrama Haji Donohudan Boyolali, pada Selasa, sekitar pukul 09.00 WIB. Perjalanan yang cukup lanjang bagi perempuan sesepuh Suminah.

Dengan menebar senyuman, ia bersemangat mengikuti prosesi penerimaan hingga pemberangkatan menuju Tanah Suci.

Yang mengagumkan, Suminah saat dicek kesehatan terakhir di embarkasi tidak ada masalah dan dinyatakan sehat atau layak terbang menuju Arab Saudi.

Jual sapi

Saat mendaftarkan haji pada 2015, ia menjual dengan menjual dua sapi dari enam ekor miliknya. Dua sapi, ketika itu, masing-masing laku Rp16 juta dan Rp17 juta. Dari uang tersebut bisa untuk bayar biaya haji pada 2020.

Ia menanami lahannya dengan tembakau dan cabai, namun sekarang ini yang menangani anak-anaknya, mulai dari mengolah lahan hingga menjual hasil panen.

Suminah membagikan kiat sederhana dalam persiapannya berhaji, yakni tetap menjaga kesehatan dan istirahat yang cukup. Di Tanah Suci nanti ia akan mendoakan keluarganya, terutama anak, cucu, dan buyut, agar mereka diberikan keselamatan, sehat, dan murah rezeki.

Hidup sederhana, ketekunan, kesabaran, serta sikap hidup pasrah yang dijalani Suminah  membuktikan bahwa pengorbanan selalu membuahkan hasil seperti yang diharapkan.

Jadwal pemberangkatan

PPIH Embarkasi Solo hingga pemberangkatan jamaah calhaj Kloter 86 ke Tanah Suci tercatat sebanyak 31.445 orang. PPIH Embarkasi Solo, Selasa ini, dijadwalkan memberangkatkan empat kloter.

Petugas Humas Embarkasi Solo Gentur Rama Indriyadi menyampaikan jamaah calhaj Kloter 86, gabungan asal Kabupaten Jepara dan Kudus, telah diberangkatkan melalui Bandara Adi Soemarmo Boyolali, Selasa, pada pukul 06.25 WIB. Jumlah calhaj Kloter 86 ini sebanyak 360 orang.

Dengan demikian, total calhaj yang sudah diterbangkan ke Tanah Suci hingga Kloter 86 ini sebanyak 31.445 orang dari total peserta pada tahun ini sebanyak 34.785 orang untuk Jateng dan D.I. Yogyakarta.

PPIH Embarkasi Solo akan memberangkatkan Kloter 87 asal Kabupaten Kudus pada pukul 17.40 WIB, kemudian disusul Kloter 88 pada pukul 21.00 WIB dan terakhir Kloter 89 asal Kudus, pukul 23.15 WIB.

Selain itu, PPIH Embarkasi Solo dijadwalkan kedatangan jamaah calhaj sebanyak tiga kloter, yakni Kloter 89B atau 97 asal Jateng dan D.I.Y., yang merupakan kuota tambahan, pada pukul 06.00 WIB. Kemudian disusul Kloter 90 asal Kudus dan Rembang pada pukul 09.00 WIB dan Kloter 91 asal Rembang pada pukul 19.00 WIB.

PPIH Embarkasi Solo hingga kedatangan jamaah calhaj Kloter 90 di Asrama Haji Donohudan Boyolali itu, sudah mencapai 32.985 orang atau 94 ,8 persen dari total 34.785 orang.

PPIH Embarkasi Solo mencatat jumlah calhaj yang sakit dan menjalani perawatan di Arab Saudi sebanyak 35 orang, terdiri yang dirawat di RS Mekkah sebanyak 33 orang dan dirawat di RS Madinah dua orang.

Adapun jamaah calhaj Embarkasi Solo yang sakit dan dirujuk ke rumah sakit di Tanah Air ada 13 orang, dengan rincian dirawat di RSU Dr. Moewardi Solo ada 10 orang, RS TU AU dua orang, dan Poliklinik Asrama Haji satu orang.

Jamaah calhaj Embarkasi Solo yang tertunda berangkat ke Tanah Suci karena kondisi kesehatan tidak layak terbang ada 35 orang, sedangkan calhaj meninggal dunia baik di Arab Saudi dan di Tanah Air tercatat 15 orang; 13 orang meninggal dunia di Tanah Suci, satu orang dalam pesawat saat perjalanan ke Arab Saudi, dan seorang di Indonesia.

Calhaj Embarkasi Solo yang meninggal di Tanah Suci, terakhir dilaporkan atas nama Sawiyem Sumarto (77), asal Kebumen Jateng Ia dilaporkan meninggal karena sakit di KHHI Mekkah, pada tanggal 19 Juni, pukul 15.15 WAS dan jenazahnya dimakamkan di Sharaya Arab Saudi.