TPA Cipeucang Tangsel Terancam Overload karena Sampah Berhenti Dibuang ke Serang

ERA.id -  Kerjasama antara Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dengan Pemerintah Kota Serang terkait pembuahan sampah kini telah terhenti. Akibat berhentinya itu, bakal berdampak pada kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Serpong yang terancam overload.

Pasalnya, dalam kerja sama tersebut, sampah asal Tangsel dibuang ke TPA Cilowong yang berada di Kota Serang. Namun, pada awal tahun 2023, kerjasama itu berhenti lantaran terdapat kendala teknis.

"Betul sampai sekarang belum jalan si dari Januari awal tahun ini 2023. Kendala teknis," ujar Kepala UPT TPA Cipeucang, Firdaus kepada wartawan, Sabtu (15/7/2023).

Meski berpotensi akan overload, Firdaus menyebut pihaknya akan memaksimalkan lahan yang ada. Saat kerjasama dengan TPA Cilowong berjalan, pihaknya bisa mengirimkan 600 sampai 800 ton sampah setiap harinya.

"Itu kita antisipasi penataan sampah di Cipeucang, karena kan sampah banyak, sekitar 400 yang masuk perhari jadi pengoptimalan lahan. Setiap hari dikirim (ke TPA Cilowong) sekitar 600 - 800 ton," sebutnya.

Diketahui, salah satu landfill yang berada di TPA tersebut telah mengalami longsor pada minggu lalu. Hal tersebut diduga lantaran daya tampung TPA yang semakin kecil. Sehingga, sistem tumpuk sampah itu dimaksimalkan. Namun, Firdaus mengklaim hal tersebut disebabkan oleh curah hujan yang tinggi.

"Kalau longsor si engga, cuma turun ke jalan aja sampah, tapi sekarang udah di naikin lagi. Penyebabnya curah hujan yang tinggi. Kita tarik lagi ke atas sampah yang turun," katanya.

"Lenfil 3 (yang longsor) Malam Minggu kemarin. Sekitar 15 meter tinggi landfill. Engga ada kendala, masih bisa kita tangani si, karena sampah jatuh kejalan kan jadi engga mengganggu . Karena kalo lenfil 3 jarak ke sungai itu sekitar 500 meter masih jauh," sambungnya.

Sebagai informasi, sampah yang ada di Tangsel sebagian besar akan bermuara di TPA Cipeucang itu menerima 400 ton sampah setiap harinya. Saat ini, di TPA tersebut, hanya ada pengolahan sampah secara tradisional seperti budidaya magot dan komposter.

Selain berpotensi overload, tumpukan sampah yang semakin banyak membuat radius bau yang ditimbulkan semakin terasa luas oleh warga sekitar.

"Dibilang Deket banget ama cipeucangya nggak juga. Kalo bau sampe. Cuma nggak setiap waktu. Kalo untuk komplain awalnya iya sempet pernah di demo tapi itu udah lama banget, dan sekarang sih ya jadi biasa ajah," pungkasnya.