Anaknya Pukuli Remaja sampai Tewas, Ketua DPRD Ambon Elly Toisuta: Kita Ambil Hikmahnya

ERA.id - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Ambon, Elly Toisuta menyebutkan, kasus anak kandungnya, Abdi Toisuta, yang menganiaya korban RRS hingga tewas adalah bentuk introspeksi diri.

“Saya kira ini ujian, ini musibah yang kita harus hadapi. Artinya hal ini untuk siapa saja pasti kita mengalami itu. Tapi dalam bentuk yang seperti apa, kapan waktunya kita tidak bisa memprediksi itu. Mungkin ini sebagai instropeksi,” kata Elly, Selasa kemarin.

Menurutnya, peristiwa tersebut adalah ujian dan musibah yang harus dihadapi keluarganya maupun keluarga korban. “Dari kejadian itu kita bisa diambil hikmahnya,” ujarnya.

Mengingat, Elly melanjutkan, pemberian dari Tuhan bukan hanya kesenangan, tapi juga ada ujian dan banyak hal lainnya. “Mungkin masalah ini nanti bukan buat ibu Elly saja, tapi ini buat semua orang,” tandasnya.

Diketahui bahwa Ketua DPRD Kota Ambon Elly Toisuta baru mulai berkantor mulai Senin silam setelah anaknya menganiaya remaja hingga tewas. Sebelumnya, dia tak terlihat berkantor selama sepekan terhitung sejak Senin (31/7) hingga Jumat (4/8).

Sebelumnya, Abdi memukuli kepala korban sebanyak tiga kali di kawasan Tanah Lapang Kecil (Talake), Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon, tepatnya di depan rumah Bripka Alamsyah Bakker depan Asrama Polri Talake, Minggu (30/7) sekitar pukul 21.00 WIT.

Insiden ini bermula dari korban bersama saksi Muhammad Fajri Semarang (16) berboncengan dari Ponegoro menuju rumah saudara mereka di Talake.

Saksi Muhammad Fajri kepada polisi menerangkan bahwa awalnya bersama korban berboncengan dengan menggunakan sepeda motor dari arah Ponegoro menuju rumah saudaranya di Talake untuk mengembalikan sebuah jaket.

Pada saat saksi dan korban memasuki Gapura lorong Masjid Talake, dia bersama korban melewati pelaku dan hampir menyenggol yang bersangkutan.

Saksi sempat menengok ke arah belakang dan melihat terduga pelaku sementara berjalan mengejar mereka.

Setelah saksi dan korban tiba di depan rumah saudaranya, korban yang masih menggunakan helm ini duduk di atas sepeda motor, sedangkan saksi telah turun dan langsung berhadapan dengan korban.

Terduga pelaku pun langsung menghampiri mereka dan tanpa bertanya langsung memukul korban dari bagian kepala yang masih menggunakan helm sebanyak satu kali.

AT mengatakan kepada korban dengan dialek Ambon, "Kalo maso (kalau masuk) orang kompleks itu kasih suara abang-abang dong."

Pelaku kembali memukuli korban dari bagian kepala untuk kedua kalinya, lalu korban mengatakan bahwa mereka mengendarai sepeda motor juga dengan perlahan.

Usai mendengarkan penjelasan korban, terduga pelaku kembali melayangkan pukulan untuk ketiga kalinya ke arah kepala korban dan pada saat itu saudara korban keluar dari dalam rumah mengatakan bila terjadi sesuatu maka terduga pelaku bertanggung jawab.

Akibat pemukulan tersebut, korban telah tertunduk di atas sepeda motor sambil meletakkan kepalanya di atas setir motor dalam keadaan pingsan.

Korban kemudian dievakuasi ke dalam rumah saudaranya. Namun, tidak siuman sehingga dilarikan ke Rumah Sakit Tentara dr. Latumeten Ambon pada pukul 21.25 WIT. Akhirnya korban dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis pada pukul 21.45 WIT.