Menelusuri Sejarah Panjat Pinang yang Jadi Permainan Populer 17 Agustus

ERA.id - Panjat pinang menjadi salah satu lomba yang kerap diadakan saat Hari Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus. Kelompok yang terdiri atas beberapa orang bekerja sama memanjat tiang setinggi 10 hingga 12 meter untuk mendapatkan hadiah yang dipasang di puncak tiang.

Lomba ini sudah dilakukan oleh masyarakat Indonesia sejak dahulu. Saat ini, kadang lomba ini dilakukan menggunakan bambu karena sulit untuk mendapatkan pinang sebagai bahan utama panjat pinang. Namun, apakah Anda tahu sejarah panjat pinang?

Mengibarkan bendera di puncak permainan panjat pinang (antaranews)

Sejarah Panjat Pinang yang Jadi Lomba Hari Kemerdekaan

Dikutip Era.id dari laman Budaya Tionghoa, Rinto Jiang menulis artikel soal panjat pinang dengan judul “Korelasi Perlombaan Panjat Pinang di Indonesia dengan Budaya Tionghua". Dia menjelaskan, panjat pinang telah ada dan populer di China sejak Dinasti Ming (1368—1644) dan Dinasti Qing (1644—1911). Permainan tersebut diberi nama qiang-gu.

Namun, permainan ini kemudian mengakibatkan korban jiwa, misalnya karena jatuh dari ketinggian. Akibatnya, otoritas kerajaan masa Dinasti Qing melarang qiang-gu dimainkan.

Ketika Taiwan ada di bawah pendudukan Jepang, permainan panjat pinang kembali diadakan di beberapa tempat. Hal ini berhubungan dengan festival hantu di wilayah tersebut.

Kisah panjat pinang tidak hanya ada di China. Permainan yang serupa dengan panjat pinang juga ada di Malta pada abad pertengahan, sejak kejatuhan Kekaisaran Romawi Barat pada abad ke-5 sampai abad ke-15.

Dilansir Time of Malta, masyarakat wilayah tersebut memainkan panjat pinang untuk meramaikan Festival Saint Julian. Dalam istilah lokal, permainan ini disebut dengan gostra.

Masa Penjajahan Belanda

Sebuah kisah menyebutkan bahwa pada masa penjajahan Belanda, perlombaan panjat pinang disebut de klimmast yang artinya ‘memanjat tiang’. Pada 1920-an, bahan makanan dan pakaian dipasang di puncak untuk diperebutkan masyarakat Nusantara.

Pada masa penjajahan, pakaian dan makanan tidak hanya menyenangkan, tetapi bisa digunakan untuk menyambung hidup. Benda-benda tersebut bahkan terkesan mewah karena masyarakat sedang berada di bawah kekuasaan penjajah.

Masyarakat Nusantara saling injak untuk bisa mendapatkan hadiah yang disediakan. Permainan ini menjadi tontonan orang-orang Belanda. Hal tersebut bisa dimaknai sebagai bentuk penindasan dengan menggunakan kekuasaan.

Pada masa penjajahan, panjat pinang dilakukan setiap 31 Agustus. Permainan ini diadakan untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Belanda.

Pada zaman dahulu, ini menjadi permainan yang melecehkan masyarakat Nusantara. Masyarakat yang terjajah dan dimiskinkan oleh Belanda diberi iming-iming hadiah agar saling berebut, bukan hanya sebatas “hadiah”, tetapi kebutuhan pokok.

Itulah sepenggal sejarah panjat pinang yang saat ini menjadi salah satu permainan terpopuler pada perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia.