Gen Z Rentan Terkena Masalah Kesehatan Mental, Pakar Jelaskan Cara Mengatasinya

ERA.id - Kesehatan mental sering kali menjadi masalah yang menimpa siapa saja, termasuk Generasi Z atau Gen Z. Bahkan belakangan Gen Z sering menjadi perbincangan di masyarakat. 

Gen Z merupakan orang-orang yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Saat ini, Gen Z termasuk dalam usia produktif dalam melakukan banyak hal di hidupnya. Namun sayang, di tengah proses ini, Gen Z juga disebut rentan terkena masalah kesehatan mental.

Psikolog Klinis, Tara de Thouars menjelaskan bahwa masalah kesehatan mental dialami Gen Z karena tekanan dari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Mereka sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain di sekitarnya.

"Gen Z punya risiko yang paling tinggi dalam mengalami masalah mental, terutama depresi dan gangguan kecemasan, karena melihat tidak diri mereka saja. Mereka selalu melihat diri mereka dibandingkan dengan orang lain," ungkap Tara de Thouars saat ditemui di kawasan Blok M, Jakarta, pada Sabtu (12/8/2023).

Tak hanya itu, media sosial juga berpengaruh besar terhadap masalah kesehatan mental yang dihadapi oleh Gen Z.

"Kayak kita mainan socmed deh, kita ngelihat kayaknya 'orang itu keren ya, tapi kok aku nggak kayak dia'. Itu memiliki pengaruh besar pada Gen Z dengan generasi sebelumnya yang berdampak pada kesehatan mental," jelasnya.

Tara de Thouars pun menjelaskan banyak hal yang bisa dilakukan oleh Gen Z untuk mencegah paparan masalah kesehatan mental. Salah satunya adalah dengan bijak menggunakan media sosial.

"Ketika kita bersosial media, penting untuk punya kekuatan mental ke diri sendiri, untuk tidak membandingkan, untuk bisa melihat diri kita dari aspek-aspek positif," tuturnya.

Lebih lanjut, Tara juga mengatakan bahwa penting bagi Gen Z untuk mengetahui potensi diri sendiri, sehingga tak perlu membandingkan dengan orang lain. Dengan mengetahui potensi diri, Gen Z akan fokus mengembangkan hal itu dan tidak perlu merasa tertinggal.

"Itu sebabnya penting bagi Gen Z untuk tidak hanya membandingkan, tetapi perlu tahu minatnya apa, potensinya apa, kekuatannya apa. Sehingga ketika dia bersosial media itu nggak membuat mereka jadi kurang atau merasa jadi kecil," pungkas Tara de Thouars.