Bagaimana Cara Kerja Gas Analyzer? Simak Penjelasan Berikut

ERA.id - Kondisi dari sistem kerja mesin dapat ditinjau dari sisa gas buang yang ada di ujung knalpot. Dari hasil perhitungan tersebut dapat dipastikan apakah kondisi mesin sesuai dengan spesifikasi atau tidak. Adapun cara memeriksa ini dapat dilakukan dengan alat yang disebut gas analyzer. Alat ini mampu mendeteksi setiap partikel gas buang secara akurat.

Gas analyzer merupakan instument/alat yang dimanfaatkan untuk mengukur proporsi dan komposisi dari gabungan gas buang pada mesin kendaraan bensin. Dalam gas analyzer ada beberapa komponen penting untuk memastikan kinerjanya, salah satunya yaitu sensor. Sensor pada gas analyzer memiliki fungsi untuk mendeteksi dan mengukur dari kadar gas sesuai dengan jenis sensornya.

Seperti yang kita tahu, bahwa kelayakan dari emisi gas buang kendaraan sudah diatur oleh peraturan, oleh sebab itu agar kendaraan dapat digunakan di jalan raya, salah satunya adalah harus lolos dari uji emisi gas buang. Uji emisi bermanfaat agar tidak terjadi pencemaran udara yang dapat mengakibatkan kerusakan pada lapisan ozon. Selain itu, kita dapat mengurangi emisi gas buang dari kendaraan menggunakan gas analyzer.

Ilustrasi (Pixabay)

Cara Kerja Gas Analyzer

Gas analyzer bekerja dengan cara mengambil sampel gas dari probe, kemudian masuk ke masing-masing sampel cell. Sampel gas selanjutnya akan dikomparasikan dengan gas standar yang melewati pemancaran sistem. Hasilnya adalah perbedaan panjang gelombang yang akan dikonversi menjadi sinyal analog oleh receiver. Prinsip kerja ini diaplikasikan untuk mengukur gas emisi udara pada mesin kendaraan, yaitu HC, CO2, O2, dan CO.

Karbon Dioksida (CO2)

Nilai Karbon Dioksida (CO2) biasanya mengacu pada hasil pembakaran yang ada di dalam mesin kendaraan. Nilai ideal untuk mesin adalah 12% karena semakin besar nilainya makan pembakaran akan semakin bagus. Artinya energi yang digunakan semakin banyak. Jika mesin kendaraan memiliki nilai ideal kurang dari 12% kemungkinan besar ada beberapa hal yang harus diperbaiki.

Monoksida (CO)

Hasil pengukuran memiliki nilai idealnya masing – masing. Seperti monoksida (CO) untuk menunjukkan efisiensi pembakaran pada silinder. Pembakaran pada kendaraan roda empat yang efisien adalah sekitar 0,2 sampai 1,5% dengan nilai ideal 0,5%. Untuk kendaraan roda empat yang masih menggunakan karburator nilai efisiennya sekitar 1 sampai 3,5% dengan nilai ideal 1 – 2%.

Oksigen (O2)

Jika sebuah kendaraan memiliki gas oksigen terlalu banyak maka itu menandakan proses pembakaran yang tidak efisien dalam mesin. Oksigen memiliki nilai ideal yang tidak boleh lebih dari 2%. Jika melebihi 2% maka kemungkinan besar terjadi kebocoran pada sistem gas pembuangan mesin.

Hidro Karbon (HC)

Hidrokarbon akan mendeteksi sisa bensin yang terbuang pada pembuangan gas dari mesin seperti knalpot. Nilai ideal dari hidrokarbon tidak boleh lebih dari 300 ppm. Karena jika semakin besar nilainya maka mesin akan menjadi boros dan mengkonsumsi bahan bakar lebih banyak.

Demikianlah ulasan tentang cara kerja gas analyzer, semoga bermanfaat.

Ikuti artikel-artikel menarik lainnya juga ya. Kalo kamu mau tahu informasi menarik lainnya, jangan ketinggalan pantau terus kabar terupdate dari ERA dan follow semua akun sosial medianya! Bikin Paham, Bikin Nyaman…