Menangis, Kepala Basarnas Janji Tak Menyerah Cari Korban Lion Air

Jakarta, era.id - Banyak keluhan yang datang dari para keluarga korban penumpang Lion Air PK LQP. Dengan penuh harap, mereka masih mempertanyakan keberadaan keluarganya yang menjadi korban. Mereka juga mendesak tim SAR gabungan agar bisa mempertemukan mereka dengan jasad korban.

Kepala Basarnas Marsekal Madya Muhammad Syaugi tak kuat menahan air mata saat mendengar keluhan dan isakan para keluarga korban penumpang pesawat yang jatuh di perairan Tanjung Karawang tersebut.

"Bapak ibu, setiap hari saya melihat... di laut...." potong Syaugi tak kuat menahan tangisannya di depan ratusan keluarga korban, di Hotel Ibis, Cawang, Jakarta Timur, Senin (5/11/2018).

"Maaf, saya serius untuk melakukan pencarian. Saya tidak menyerah," lanjut dia dan disambut oleh tepuk tangan dalam satu ruangan itu. Dia pun tampak beberapa kali mengelap matanya yang basah.

Memang, sejak hari pertama jatuhnya pesawat Syaugi, lebih sering berada di Dermaga JICT 2 dan kerap mengikuti kapal untuk melakukan pencarian. Syaugi pun merasa sangat tahu melihat keadaan jasad korban yang ditemukan di perairan.

"Kami memahami bahwa kami bukan manusia super, bukan manusia yang sempurna. Kami tetap berusaha sekuat tenaga dengan apa yg kami miliki. Kami yakin bisa mengevakuasi seluruh korban," ucap dia.

Kepada keluarga korban, Syaugi meminta didoakan agar tim pencarian bisa terus kuat menjalankan tugas mulia ini.

Upaya pencarian ini pun diperpanjang hingga 10 hari, yang sebelumnya ditetapkan 7 hari. Artinya, pencarian akan dilanjutkan hingga Rabu (7/11).

"Mudah-mudahan dengan waktu yang ada ini kami tetap all out. Walaupun sampai 10 hari nanti, kalaupun masih ada kemungkinan untuk bisa ditemukan, saya yakin bahwa saya akan terus untuk mencari saudara-saudara sekalian," kata dia.

Hingga saat ini, proses evakuasi sudah dilakukan. Sejumlah bagian tubuh korban dan bagian pesawat Lion Air beregistrasi PK LQP, termasuk Flight Data Recorder (FDR) black box, ini sudah ditemukan.

Diketahui sebelumnya, pesawat tersebut datang dari Jakarta pada pukul 06.20 WIB dan diperkirakan mendarat di Pangkalpinang sekitar pukul 07.05 WIB pada Senin (29/10).

Namun, Basarnas mendapat informasi dari air traffic control bahwa pesawat JT 610 kehilangan kontak pukul 6.50 WIB, Senin (29/10), dan dapat dipastikan jatuh di laut perairan Karawang, Jawa Barat.

Pesawat tersebut membawa 178 penumpang dewasa, satu anak dan dua bayi, dengan pilot, kopilot dan enam kru pesawat.

Total kantong jenazah telah terkumpul sebanyak 138, yang berisi potongan tubuh korban selama tujuh hari operasi evakuasi pesawat Lion Air PK LQP. Berikut daftar 14 jenazah yang sudah teridentifikasi:

1. Jannatun Cintya Dewi, perempuan, usia 24 tahun.

2. Candra Kirana, laki-laki, usia 29 tahun.

3. Munni, perempuan, usia 41 tahun.

4. Hizkia Jorry Saroinsong, laki-laki, usia 23 tahun.

5. Endang Sri Bagusnita, perempuan, usia 20 tahun.

6. Wahyu Susilo, laki-laki, usia 31 tahun.

7. Fauzan Azima, laki-laki, usia 25 tahun.

8. Rohmanir Pandi Sagala, laki-laki, usia 23 tahun.

9. Dodi Junaidi, laki-laki, usia 40 tahun.

10. Muhamad Nasir, laki-laki, usia 29 tahun.

11. Janry Efriyanto Santuri, laki-laki, usia 26 tahun.

12. Karmin, laki-laki, usia 68 tahun.

13. Harwinoko, laki-laki, usia 54 tahun.

14. Verian Utama, laki-laki, usia 31 tahun.

Tag: lion air jatuh