Jalan Terjal dan Berliku Garuda Muda Menuju Olimpiade

ERA.id - Sepak bola Indonesia sudah lama tak menggairahkan bagi para penggemarnya. Sebelumnya, di tingkat Asia Tenggara saja laju timnas masih tampak tertatih-tatih. Siapa sangka tahun ini menjadi momentum tim garuda mengepakkan sayapnya tinggi-tinggi. Setelah menorehkan sejarah lolos hingga babak semi final Piala AFC U-23 sebagai tim debutan, kali ini timnas membidik kursi olimpiade.

Sepanjang sejarah, timnas Indonesia baru sekali tampil di ajang empat tahunan itu pada Olimpiade 1956 di Melbourne, Australia. Asa untuk tembus ke ajang olahraga paling bergengsi di dunia itu kembali bergulir di kaki Garuda Muda setelah 68 tahun.  

Tim asuhan pelatih Shin Tae-yong tersebut akan melawan Guinea dalam laga play off di Paris, Prancis, pada Kamis (9/5/2024). Siapa pun pemenangnya nanti, ia akan menjadi peserta terakhir di Olimpiade Paris 2024 cabor sepak bola dan bergabung di Grup A bersama Prancis, Amerika Serikat, dan New Zealand.

Laga play off Kamis besok menjadi kunci terakhir Pratama Arhan dkk bisa lolos ke Olimpiade. Jika kalah melawan Guinea, Garuda Muda terpaksa harus mengemas koper lebih cepat dan segera pulang dari Paris. Lebih buruk lagi, timnas Indonesia U-23 harus bermain 'pincang' tanpa beberapa pemain andalannya. 

Justin Hubner yang tampil gemilang mengawal barisan pertahanan Indonesia terancam tak bisa tampil karena sudah kembali aktif di klubnya Cerezo Osaka. Sementara Rizky Ridho harus absen karena mendapat kartu merah saat semifinal Piala AFC U-23. Bagaimana nasib yang menanti Garuda Muda di Paris?

Kilas balik Piala Asia U-23 yang melebihi ekspektasi

Timnas U-23 sejatinya sudah melaju sangat jauh dan mengesankan walau tanpa lolos ke Olimpiade sekali pun. Di kaki mereka, sepak bola Indonesia yang dulu masih bersaing di level Asia Tenggara naik tingkat hingga bisa menumbangkan raksasa-raksasa Asia seperti Australia dan Korea Selatan.

Sebelumnya, Indonesia sudah lima kali mencoba peruntungan di Piala Asia U-23 sejak pertama digelar pada 2013. Sayangnya, Garuda Muda tak pernah melewati babak kualifikasi mulai edisi 2013, 2016, 2018, 2020, hingga 2022. Namun, tahun ini kutukan tersebut berhasil diangkat. 

Di fase kualifikasi, Garuda Muda meraih poin penuh dengan dua kemenangan dan berhasil lolos ke putaran final Piala AFC U-23 2024. PSSI memberi target Indonesia lolos ke babak 8 besar untuk perpanjangan kontrak Shin Tae-yong, tetapi pelatih asal Korea Selatan itu berhasil membawa tim asuhannya lebih jauh lagi.

Meskipun sempat kalah 2-0 oleh tim tuan rumah Qatar pada pertandingan perdananya, Indonesia berhasil comeback dengan menekuk Australia 1-0 lewat gol Komang Teguh dan menang melawan Yordania dengan skor telak 4-1.

Dua kemenangan tadi menempatkan Indonesia sebagai runner up grup dan berhasil melaju ke babak perempat final. Namun, yang menunggu mereka di sana adalah raksasa Asia Korea Selatan—negara yang tak pernah absen ikut Olimpiade selama 40 tahun.

Namun, lagi-lagi Indonesia berhasil memecahkan rekor dengan lolos ke semifinal Piala AFC U-23 usai membekuk Korea Selatan. Pertandingan di Stadion Abdullah bin Khalifa yang berjalan seri dengan skor 2-2 hingga babak tambahan itu berujung drama adu penalti mendebarkan.

Indonesia sebelumnya sempat unggul dua kali berkat dwigol Rafael Struick (15', 45+3'). Namun, Korea Selatan mampu membalasnya berkat gol bunuh diri Komang Teguh (45') dan gol Jeong Sang-bin (84').

Anak didik Shin Tae-yong lalu menggenggam kemenangan setelah tendangan penalti Pratama Arhan menjebol gawang kiper Jong-beom dan mengamankan skor akhir 11-10. Garuda Muda pun memutus rekor 40 tahun tak pernah absen olimpiade milik Korea Selatan.

Kiper Indonesia Ernando Ari tampil gemilang dengan menorehkan satu gol dalam adu penalti dan menangkis dua tendangan lawan dari Kang Sang Yoon dan Lee Kang Hee.

Kemenangan atas Korea Selatan itu menjadi yang pertama kali dalam sejarah timnas Indonesia U-23. Sebelumnya, Korea Selatan U-23 selalu mendominasi pertandingan dan Indonesia harus menelan kekalahan sepanjang tujuh pertemuan terakhir. Pada Kualifikasi Olimpiade 2000 di Seoul, Korea Selatan, Indonesia dibantai habis 7-0.

Indonesia bertemu dengan Uzbekistan di semifinal dan harus menelan kekalahan pahit 2-0 lewat pertandingan yang cukup kontroversial—kesempatan penalti dibatalkan, gol dianulir, dan kartu merah Rizky Ridho. Pada perebutan tempat ketiga, Indonesia kembali harus mengakui kehebatan Irak dan kalah dengan skor 2-1. Langkah menuju olimpiade semakin jauh.

Kendati begitu, Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengatakan penampilan Garuda Muda pada Piala Asia sangat membanggakan.

"Garuda Muda tampil sebagai tim debutan, tapi mampu menjadi salah satu dari empat tim terbaik di turnamen ini,” ujarnya.

Erick mengatakan peluang mereka untuk bisa tampil pada Olimpiade Paris 2024 juga masih terbuka melalui laga melawan Guinea.

"Kita harus berjuang di pertandingan melawan Guinea," katanya.

Mengintip kans menang Garuda Muda lawan Guinea

Guinea merupakan tim yang berstatus peringkat empat Piala Afrika U-23 2023. Dan di atas kertas, mereka lebih baik dari Indonesia. Berdasarkan ranking FIFA yang dirilis pada April, Guinea menempati peringkat ke-76 FIFA dengan 1.324,65 poin, sedangkan Indonesia berada di peringkat ke-134 FIFA dengan 1.102,7 poin.

“Ini bakal jadi pertandingan yang berat. Bukan hanya Indonesia yang mau lolos ke olimpiade, Guinea juga,” ujar eks pelatih PSM Makassar, Sumirlan saat dihubungi Era.id, Senin (6/5/2024). “Dan mereka itu tim kuat di Afrika, banyak pemainnya yang main di Eropa.”

Beberapa pemain unggulan Guinea banyak tersebar di kompetisi Eropa, seperti Aguibou Camara dan Algassime Bah yang sama-sama bermain di Liga Yunani.

Selain itu, Guinea kalah dari Mali pada perebutan tempat ketiga di Piala Afrika U-23 2023 lewat babak adu penalti pada 8 Juli 2023. Setelahnya, Guinea baru sekali bermain dalam laga uji coba melawan Amerika Serikat pada 22 April 2024. Sementara Garuda Muda sudah melalui enam pertandingan dalam satu bulan terakhir.

Namun, Sumirlan optimistis stamina dan fisik timnas Indonesia masih bisa bersaing dengan Guinea. 

“Yang jadi masalah itu mentalnya. Sudah dua kali kalah. Dan ada tekanan untuk lolos olimpiade juga. Karena pasti ada perasaan nanggung kalau kalah di sini,” ucap legenda PSM Makassar itu.

Ditambah lagi, pertandingan play off antara Indonesia dan Guinea nanti akan berlangsung tertutup tanpa penonton. 

“Bagi saya itu juga masalah. Saya ini juga mantan pemain. Kehadiran suporter itu memang sangat penting dan meningkatkan permainan. Tentu pertandingan nanti jadi lebih berat karena pemain timnas harus main tanpa penonton,” ujarnya.

Ia pun menilai seharusnya timnas U-23 bisa tampil dengan performa optimal mereka seperti saat mengalahkan Yordania, asalkan para pemain bisa menurunkan ego masing-masing dan bermain sebagai tim alih-alih individu.

Pada pertandingan terakhir kontra Irak, Sumirlan melihat beberapa pemain tampak ingin membuktikan diri dan mengabaikan permainan tim, seperti Marselino Ferdinan yang sering menggiring bola terlalu lama dan pamer skill

“Mungkin karena sudah dilirik main ke liga Italia, banyak dibicarakan orang, jadi ada niat untuk unjuk kebolehan. Ini nanti harus ditahan keinginan-keinginan bermain individu seperti ini,” ucap Sumirlan.

Sementara itu, pengamat sepakbola Weshley Hutagalung menilai kebugaran fisik pemain menjadi kunci untuk mengalahkan Guinea. 

“Bila Shin Tae-yong menemukan formula yang pas dan mengejutkan lawan, taktik itu akan bisa berjalan bila kebugaran pemain kembali seperti di fase grup Piala Asia U-23,” ujarnya kepada Era.id, Senin (6/5/2024).

Menurutnya, kekalahan dari Uzbekistan dan Irak terlihat jelas karena faktor kebugaran pemain. Dalam enam pertandingan Piala Asia kemarin, Shin Tae-yong hanya pernah menurunkan 16 pemain sebagai starter dari 23 pemain yang dibawa.

“Bandingkan dengan Uzbekistan dan Jepang yang sudah menurunkan 22 pemain sebagai starter sebelum semifinal. Bahkan, Korea Selatan sudah mempercayakan 22 pemain sebagai starter sebelum berhadapan dengan Indonesia di perempat final,” ujar Weshley.

Senada dengan Sumirlan, bagi Weshley, satu lagi tantangan terbesar yang harus dilewati Garuda Muda untuk bermain optimal adalah mengembalikan fokus pemain ke pertandingan. 

“Selain masalah kebugaran dan komposisi ideal, menurut saya salah satu tantangan bagi Garuda Muda adalah kembali menemukan fokus perhatian ke pertandingan dan melupkan riak-riak netizen di dunia maya,” ujarnya.

“Kepada Pak Sumardji (Ketua Badan Tim Nasional) pernah saya sampaikan sebelum pertandingan melawan Irak agar menjaga dan melindungi pemain kita dari ganggung media sosial. Cukup menghubungi keluarga atau orang-orang terkasih, tak usah bermain media sosial selama turnamen belum selesai,” imbuhnya.

>