Polusi Udara Lebih Berbahaya daripada Merokok

Jakarta, era.id - Faktor polusi udara partikulat yang buruk membuat usia kamu lebih pendek. Faktor ini lebih dari pada HIV/AIDS, merokok bahkan terorisme.

Dilansir dari The Indian Express, Selasa (27/11/2018), menurut Indeks Kualitas Kehidupan Udara atau Air Quality Life Index (AQLI), yang dikembangkan oleh para peneliti di University of Chicago di AS, polusi udara partikulat memangkas harapan hidup secara global sebesar 1,8 tahun per orang. 

AQLI mengungkapkan, India dan Cina, yang merupakan 36 persen dari populasi dunia, terhitung 73 persen kematian karena polusi partikulat.

Karenanya, AQLI menetapkan polusi partikulat sebagai ancaman terbesar bagi kesehatan manusia secara global, dengan efeknya pada harapan hidup melebihi dari penyakit menular yang menghancurkan seperti tuberkulosis dan HIV/AIDS, merokok, dan bahkan perang. 

"Di seluruh dunia saat ini, orang-orang menghirup udara yang mewakili risiko serius bagi kesehatan mereka. Tetapi cara risiko ini dikomunikasikan sangat sering buram dan membingungkan, menerjemahkan konsentrasi polusi udara menjadi warna, seperti merah, coklat, oranye dan hijau," kata profesor di Energy Policy Institute di University of Chicago (EPIC) Michael Greenstone.

"Rekan saya dan saya mengembangkan AQLI, di mana 'L' berarti life' (kehidupan) untuk mengatasi masalah ini. Ini berarti mengubah konsentrasi polusi udara partikulat menjadi kemungkin harapan hidup," katanya.

The AQLI didasarkan pada sepasang studi yang mengukur hubungan kausal antara paparan manusia jangka panjang terhadap polusi partikulat dan harapan hidup. 

75 persen dari populasi global, atau 5,5 miliar orang, tinggal di daerah di mana polusi partikulat melebihi pedoman WHO. 

Di AS, sekitar sepertiga dari penduduk tinggal di daerah yang tidak sesuai dengan pedoman WHO. 

Masyarakat yang tinggal di negara yang paling tercemar, dapat berharap untuk hidup hingga satu tahun lebih lama jika polusi memenuhi pedoman WHO.

Tag: hari lingkungan hidup megapolitan kesehatan