Membaca Manuver Politik Pemindahan Markas Prabowo-Sandi

Jakarta, era.id - Posko pemenangan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dipindah dari Jakarta ke Jawa Tengah. Ini adalah strategi politik yang berani dari pasangan yang diusung Partai Gerindra, PKS, PAN, Partai Demokrat dan Partai Berkarya itu. 

Sebabnya, Jawa Tengah adalah 'kandang banteng' yang dikuasai oleh PDI Perjuangan, rival mereka di Pemilu 2019 ini. PDIP bersama delapan partai lainnya mendukung pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago punya catatan dari strategi ini. Kata dia, ini adalah permainan psikologi perang yang dilakukan Prabowo-Sandi karena berani melakukan penetrasi ke kandang lawan untuk menggembosi suara si pemilik kandang.

"Jadi tujuan Prabowo-Sandi ke Jateng untuk membunuh mental lawan karena mereka mau memainkan psikologi perang, artinya mereka berani main di kandang lawan," kata Pangi dihubungi era.id, Senin (10/12/2018).

Langkah ini dianggap tepat. Karena, kata Pangi, Jawa adalah kunci dalam setiap pemenangan politik. Pangi mengatakan, ada lima provinsi di Pulau Jawa yang jadi perhatian utama. Yaitu, Jawa Barat yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 32 juta, Jateng sebanyak 37 juta, Jawa Timur sebanyak 42 juta, DKI Jakarta sebanyak 9 juta dan Banten sebanyak 7 juta. 

Dari lima provinsi ini, Pangi mengatakan, Jawa Barat, Banten, dan Jakarta sudah dipastikan jadi milik Prabowo-Sandi. Prabowo-Sandi, kata Pangi, tinggal menjaga itu agar tidak berubah dan direbut lawan politiknya. Dia meyakini, PDIP dan Jokowi tidak bisa masuk ke tiga provinsi ini dengan mudah. Hal itu bisa dilihat dari hasil pilkada beberapa waktu lalu.

Sedangkan Jatim, Pangi yakin, Prabowo-Sandi bisa dengan mudah menguasainya. Dengan catatan, sejauh bagaimana Prabowo meyakinkan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk bekerja membantu pasangan ini. 

"Kalau SBY turun gunung di situ dan AHY, saya pikir Prabowo bisa mendulang suara di situ. Jatim itu kuncinya ada di SBY. Karena SBY masih punya pengaruh di sana, dan gubernur Soekarwo masih ada hubungan dengan Pak SBY," kata dia.

Kembali ke Jateng, untuk memperoleh kemenangan di sana, bukan hal yang mudah bagi pasangan Prabowo-Sandi. Kata Pangi, di Jateng, pemilihnya sangat ideologis dan mayoritas adalah pendukung Soekarno atau Soekarnois. Sementara, hingga saat ini, trah Soekarno, yaitu Megawati Soekarnoputri, berada di PDIP. Ini yang membuat Jateng menjadi kandang banteng.

"Target mereka (Prabowo-Sandi), kalau tidak bisa memenangkan di Jateng, mereka ingin mengimbangi," ujar dia. 

Pangi mengatakan, Prabowo-Sandi yakin bisa mencuri suara di Jateng karena pengalaman di Pilkada Jateng 2018 kemarin. Saat itu, calon dari Partai Gerindra Sudirman Said-Ida Fauziyah melawan calon petahana dari PDIP Ganjar Pranowo-Taj Yasin. Hasilnya, Sudirman Said-Ida Fauziyah kalah terpaut sekitar 17 persen suara. Jumlah ini yang ingin digenjot pasangan tersebut untuk meraih kemenangan.

Selain itu, Pangi mengatakan, Prabowo-Sandi harus lihai dalam bermanuver di Jateng. Apalagi, di tempat ini suara kiai dan santri juga jadi acuan utama. Itu sebabnya, Pilkada Jateng kemarin, Ganjar mengambil Taj Yasin yang merupakan anak kiai, dan Sudirman Said bergandengan dengan Ida Fauziyah yang juga anak kiai tersohor di sana.

"Tim Prabowo-Sandi mau menerapkan ilmu Sudirman Said pada Pilkada Jateng yang mampu mengimbangi Ganjar Pranowo. Dan kuncinya pertarungan sejauh mana mereka mampu memperebutkan dukungan kiai dan Santri," kata dia.

Tag: prabowo-sandiaga jokowi-maruf amin