Tren Mudik Lebaran 2025 Menurun, Keterlambaran THR hingga Frugal Living Jadi Penyebab

ERA.id - Tren mudik Lebaran 2025 mengalami penurunan. Suvei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan memperkirakan jumlah pemudik tahun ini hanya 146,48 juta orang, angka itu turun 24 persen dibanding tahun 2024 yang mencapai 193,6 juta orang.

Merespons hal tersebut, Wakil Ketua Komisi V DPR Syaiful Huda menduga ada sejumlah penyebab turunnya pemudik tahun ini. Salah satunya kebijakan work from anywhare (WFA) atau bekerja dari mana saja yang hanya berlaku untuk ASN dan pegawai BUMN.

"WFA ini kelihatannya yang menggunakan masih di level ASN dan pegawai BUMN, dan itu kan hanya kurang lebih sekitar 30 persen dari pemudik kita," kata Huda kepada wartawan, dikutip Kamis (27/3/2025).

Selain itu, pemberian tunjangan hari raya (THR) kepada para pegawai swasta juga diduga menjadi penyebab turunnya tren mudik Lebaran tahun ini.

Menurutnya, tidak menutup kemungkinan banyak orang menunda mudik lantaran masih menunggu kejalasan pemberian THR dari perusahaan masing-masing.

"Saya kira yang perlu dipantau mencakup tenggat pemberian THR yang diberikan oleh pihak swasta atas imbauan pemerintah. Apakah sudah berjalan sepenuhnya atau belum," kata Huda.

"Jangan-jangan belum sepenuhnya, akhirnya para pemudik masih menunggu pemberian THR dari masing-masing perusahaan," sambungnya.

Lebih lanjut, politisi PKB itu tak menampik dampak ekonomi belakangan ini turut mempengaruhi penurunan jumlah pemudik.

Kondisi ekonomi belakangan ini, menurutnya, menyebabkan masyarkat menghitung betul pengeluarannya. Termasuk menerapkan tren frugal living atau sikap tak konsumtif.

"Kalau lihat dari beberapa analisa ekonomi, memang kira-kira kan hari ini susasananya kan frugal living," kata Huda.

"Jadi ada yang suasananya kira-kira beberapa pihak ada uangnya, tapi mereka tidak mau menggunakan. Jadi lebih baik ditabung atau mereka merencanakan opsi lain untuk bersilaturahmi dengan keluarga di kampung," sambungnya.

Dia menilai memang masyarkat belakangan ini berhati-hati menggunakan uangnya. Hal itu dilakukan untuk mengatasi dampak ekonomi ke depan.

"Itu sedang tren memang, frugal living ini dalam situasi tingkat kehati-hatian untuk mengantisipasi soal masa depan dan situasi ke depan, ada suasana itu," pungkasnya.