Viral Debat Steak Matang atau Medium-Rare, Ini Panduan Doneness dan Etika Makan Steak ala Steakhouse

ERA.id - Perdebatan soal tingkat kematangan steak sering muncul berulang di media sosial. Ada yang menganggap medium-rare adalah standar. Ada yang tetap memilih well-done karena alasan kenyamanan. Di tengah perdebatan itu, panduan praktis tentang doneness dan etika makan steak justru lebih berguna, terutama bagi pengunjung yang baru pertama kali ke steakhouse.

Dalam panduan etika yang dipublikasikan di situs resmi Blossom Steakhouse, poin pertama yang ditekankan adalah memilih sesuai selera, bukan karena tekanan tren. Pada bagian picking your doneness, Blossom menjelaskan gambaran doneness dengan deskripsi sederhana: rare memiliki pusat merah yang dingin, medium-rare pusat merah yang hangat, medium berwarna pink, medium-well menyisakan sedikit pink, dan well-done tanpa warna pink.

Bagi pengunjung, memahami definisi ini penting agar pesanan tidak melenceng dari ekspektasi. Banyak salah paham terjadi karena orang menyebut medium-rare, tetapi mengharapkan medium. Atau menyebut medium, tetapi berharap masih merah tebal. Dengan definisi yang jelas, komunikasi dengan pelayan menjadi lebih mudah.

Untuk konteks yang lebih teknis, Blossom juga mempublikasikan panduan memasak steak dengan patokan suhu internal. Dalam panduan tersebut, doneness direkomendasikan menggunakan termometer daging. Medium-rare disebut berada pada kisaran 54–57°C (130–135°F). Medium pada 60–63°C (140–145°F). Medium-well 65–69°C (150–155°F). Well-done 71°C ke atas (160°F+).

Angka-angka itu memang ditujukan untuk home cooking, tetapi logikanya membantu untuk memahami mengapa steak bisa terasa berbeda meski levelnya mirip. Perbedaan beberapa derajat saja dapat mengubah tekstur, kadar jus, dan rasa lemak yang meleleh.

Selain doneness, banyak orang bingung memilih potongan (cut). Dalam panduan what steak to order, Blossom menjelaskan karakter beberapa potongan populer. Ribeye digambarkan kaya rasa dengan marbling yang lebih tebal. Tenderloin (filet) lebih lembut dan cenderung ringan. New York strip lebih firm dengan rasa beefy yang tetap kuat. T-bone atau porterhouse menawarkan dua tekstur karena gabungan strip dan tenderloin.

Panduan tersebut juga menekankan bahwa potongan bisa dipilih sesuai momen. Misalnya, ribeye disebut cocok untuk date nights karena terasa indulgent. Tenderloin disebut cocok untuk perayaan karena teksturnya halus dan elegan. Sementara New York strip disebut cocok untuk makan bersama kolega atau untuk yang baru mulai mencoba steak karena rasanya kuat tapi tidak terlalu berlemak.

Setelah memilih cut dan doneness, etika makan di steakhouse biasanya menentukan kenyamanan meja. Blossom menulis hal sederhana yang sering dilupakan: ponsel sebaiknya disenyapkan dan tidak diletakkan mengganggu area makan. Jika perlu menerima panggilan, tamu disarankan izin untuk keluar sejenak.

Pada saat steak datang, Blossom menyarankan untuk mencicipi dulu sebelum menambahkan saus. Tujuannya agar tamu memahami rasa asli daging dan cara masaknya. Setelah itu baru memilih saus yang sesuai. Dalam panduan, Blossom menyebut contoh saus yang umum seperti chimichurri, peppercorn, atau garlic butter.

Cara memotong steak juga punya aturan tak tertulis. Blossom menyarankan memegang pisau di tangan dominan dan garpu di tangan lain, lalu memotong dengan gerakan stabil, bukan menghantam daging. Mereka juga menyarankan memotong satu gigitan setiap kali, bukan memotong seluruh steak sekaligus, agar steak tetap hangat dan jusnya tidak cepat keluar.

Untuk steak bertulang (bone-in), Blossom menekankan cara yang rapi: pisahkan daging dari tulang dengan pisau, jangan mengangkat tulang atau menggigit tulang di meja. Setelah selesai, tulang dibiarkan di piring. Ini detail kecil, tetapi sering jadi pembeda antara makan nyaman dan makan yang terasa canggung, terutama saat makan bersama rekan kerja atau keluarga besar.

Jika bertemu bagian lemak atau potongan yang alot, Blossom menyarankan agar bagian itu dipindahkan dengan garpu secara discreet dan diletakkan di sisi piring. Jika perlu, tamu bisa meminta piring kecil tambahan.

Satu hal yang sering membuat pengunjung sungkan adalah ketika steak tidak matang sesuai pesanan. Dalam panduan etika, Blossom menuliskan bahwa tamu sebaiknya menyampaikan dengan sopan jika steak tidak sesuai doneness yang diminta. Jelaskan singkat doneness yang diharapkan dan yang datang di meja. Mereka menekankan bahwa situasi seperti ini umum ditangani staf, sehingga tamu tidak perlu ragu menyampaikan.

Pada praktiknya, viral-nya steak sering bukan soal restoran tertentu, tetapi soal kebiasaan makan. Ada orang yang merasa medium-rare lebih juicy. Ada yang tidak nyaman melihat merah di tengah. Tidak ada satu jawaban yang cocok untuk semua. Yang lebih aman adalah memahami istilah, lalu memilih yang sesuai preferensi dan kebutuhan.

Untuk pembaca yang ingin mencoba steakhouse tanpa takut salah, rumus sederhananya begini: tentukan dulu preferensi warna dan tekstur, lalu pilih doneness yang mendekati. Jika ragu, medium-rare sering disebut pilihan aman untuk menjaga steak tetap juicy, tetapi tetap kembali ke selera masing-masing.

Terakhir, yang paling membantu adalah datang dengan ekspektasi realistis. Cek lokasinya di Google Maps. Makan steak di steakhouse biasanya lebih santai dan berdurasi lebih panjang dibanding makan cepat. Dengan memahami etika dasar, memilih cut yang pas, dan menyebut doneness dengan jelas, pengalaman makan biasanya jauh lebih nyaman tanpa harus ikut perang pendapat di media sosial.