Indonesia Berencana Kirim Tentara ke Gaza, MUI: Berisiko Lawan Hamas
ERA.id - Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta pemerintah menahan pengiriman 8.000 pasukan TNI ke Gaza sebagai bagian dari komitmen dalam Board of Peace (BoP).
Masukan itu dirasa masuk akal, mengingat belum ada kejelasan mengenai kerangka misi perdamaian tersebut.
“Harus berhati-hati jika memang benar-benar akan mengirimkan tentara ke Gaza,” ujar Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, Rabu kemarin.
Sikap pemerintah itu dianggapnya berisiko secara politik dan moral terhadap posisi Indonesia yang konsisten membela Palestina. Ia tidak ingin Indonesia terjebak pada agenda hegemoni Amerika Serikat.
BoP dianggapnya masih tidak jelas, apakah dilakukan di bawah mandat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau melalui jalur lain seperti International Stabilization Force (ISF).
“Misi perdamaian dalam perspektif ISF sangat berbahaya. Sepanjang yang saya ketahui, ISF belum menjadi entitas resmi tunggal seperti UNIFIL (Lebanon) atau UNDOF (Golan) yang jelas di bawah mandat DK PBB. Jangan sampai terperangkap atau terjebak dengan agenda hegemonik Amerika dan Israel yaitu menundukkan Gaza/Palestina,” kata dia.
Sudarnoto menjelaskan pengiriman tentara yang dilakukan dalam kerangka ISF biasanya di bawah kendali dan hegemoni negara-negara besar seperti Amerika Serikat. Fokus utamanya adalah menciptakan stabilisasi wilayah pascakonflik.
Karena itu, kata dia, misi semacam ini kerap membawa agenda tersembunyi yang tidak sejalan dengan misi perdamaian jangka panjang. Terlebih, ISF berfokus pada demiliterisasi Gaza, terutama melucuti senjata Hamas yang dinilai bukanlah solusi berkeadilan untuk Palestina.
“Hemat saya, ISF bukan instrumen perdamaian dan kemerdekaan Palestina. Padahal yang selama ini Indonesia perjuangkan adalah kemerdekaan Palestina dan menghapuskan penjajahan di muka bumi ini, termasuk penjajah Israel,” ujarnya.
“Jika tidak dipertimbangkan matang, maka pengiriman tentara ini berisiko tinggi karena akan berhadapan dengan Hamas. Ini tidak boleh terjadi. Reputasi dan nama baik Indonesia sebagai bangsa yang selama ini membela Palestina akan jatuh,” kata dia.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan keterlibatan Indonesia dalam BoP merupakan bagian dari komitmen bangsa terhadap perjuangan Palestina, khususnya dalam mendukung pengakuan kemerdekaan Palestina dan membantu meringankan penderitaan warga Gaza.
Prasetyo menyampaikan bergabungnya Indonesia dalam BoP bersama tujuh negara Muslim lainnya, diharapkan dapat menurunkan eskalasi konflik dan membuka akses bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza.