Prodi Universitas Bukan Cuma untuk Industri, Jangan Asal Ditutup
ERA.id - Politisi Golkar sekaligus Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian tak sepakat dengan niat pemerintah yang mau menutup prodi di universitas yang tak relevan dengan industri.
Dia bilang perguruan tinggi tak boleh direduksi cuma menjadi pabrik tenaga kerja.
Hetifah menjelaskan perguruan tinggi memiliki peran strategis termasuk dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pelestarian kebudayaan, dan pembentukan daya kritis bangsa.
Hetifah menekankan pentingnya dasar akademik yang kuat dan komprehensif. Ia mengingatkan agar keputusan tidak diambil berdasarkan tren jangka pendek semata.
Dia juga menolak penutupan massal prodi. Pendekatan yang lebih tepat, menurut dia, adalah transformasi prodi lewat revitalisasi kurikulum, penguatan pendekatan interdisipliner, serta penyesuaian dengan potensi daerah.
Ia pun mengingatkan bahwa fokus berlebihan pada efisiensi prodi dapat berdampak pada menyempitnya ruang keilmuan di perguruan tinggi.
“Mahasiswa dan dosen harus dilindungi karena kita tidak sedang mengelola angka, tetapi menentukan masa depan pendidikan dan peradaban bangsa,” ucapnya dalam keterangan diterima di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Sebelumnya, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengajak perguruan tinggi memilah bahkan menutup prodi yang kurang relevan dengan kebutuhan lapangan kerja ke depan.
Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek Badri Munir Sukoco dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 di Kabupaten Badung, Bali, Kamis (23/4), mengatakan langkah ini dilakukan untuk menekan ketidakcocokan antara lulusan perguruan tinggi dan industri.
“Bapak rektor yang ada di sini semuanya, ada kerelaan, nanti mungkin ada beberapa yang harus kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi, perlu kita pilih, kita pilah, dan kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi,” kata Badri.