Publik Marah Usai Prabowo Bilang Orang Desa Tak Pakai Dolar
ERA.id - Publik di berbagai media sosial marah selepas Presiden Prabowo Subianto terkesan meremehkan lemahnya rupiah atas dolar. Apalagi saat dia bilang masyarakat desa tak perlu khawatir sebab tak memakai dolar.
Banyak publik terutama di X menilai ucapan Prabowo ngawur. Bagaimana tidak, harga barang pokok yang bahan bakunya diimpor menggunakan dolar semakin naik harganya, contoh nyata adalah plastik.
Memang masyarakat desa tak bertransaksi menggunakan dolar secara langsung, namun kenyataannya mereka terkena imbas kenaikan harga. Praktis, efek melemahnya rupiah turut mengusik kantongnya.
Sebelumnya Prabowo mengajak masyarakat tetap tenang terhadap pelemahan rupiah yang pada Jumat (15/5) berada di level Rp17.600 per dolar AS.
Uniknya, Prabowo masih sempat berkelakar atas kondisi yang menekan masyarakat. Prabowo percaya, Indonesia baik-baik saja apalagi saat melihat Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa yang masih bisa tersenyum.
“Percaya ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat. Indonesia kuat. Percaya kepada kekuatan kita, percaya kepada rakyat kita. Semua pemimpin harus bekerja untuk rakyat,” kata Prabowo di hadapan sejumlah pejabat negara dan direksi BUMN saat meluncurkan 1.061 gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu.
“Purbaya sekarang populer banget. Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja, tidak usah khawatir. Mau dolar berapa ribu pun, kalian di desa tidak pakai dolar. Yang pusing itu yang suka ke luar negeri,” ujar Prabowo disambut tawa hadirin, sembari menyebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Bersiap kenaikan BBM lagi
Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin, Makassar, Prof. Hamid Paddu turut berbicara soal importir yang kena imbas pelemahan rupiah, seperti pengimpor bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
"Impor tentu dibeli dengan nilai mata uang, valuta asing, dalam hal ini dolar AS. Makanya, nilai tukar sangat mempengaruhi harga BBM," ujarnya, Sabtu.
Dia menjelaskan, nilai tukar mata uang maupun harga minyak dunia saat ini sudah melebihi asumsi APBN 2026 yakni Rp16.500/dolar AS sedangkan harga minyak dunia yang saat ini 105 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN yaitu 70 dolar AS per barel.
"Berarti untuk impor, beban energi minyak sudah kena dua kali. Pertama kena dari harga minyak dunia kemudian dari kurs," katanya.
Dia pun memprediksi Pertamina bakal kembali menaikkan harga BBM.
"Itu otomatis, karena ini kan market. Sejak lima tahun lalu, badan usaha swasta dan Pertamina selalu menyesuaikan harga BBM non subsidi dengan harga pasar. Jadi begitu bahan bakunya naik, dia harus menaikkan BBM," ujarnya.
Di sisi lain, saat ini literasi masyarakat terkait energi sudah baik, mereka sudah paham jika badan usaha seperti Pertamina menyesuaikan harga BBM nonsubsidi.
"Makanya sekian tahun tidak pernah ada gejolak kalau harga BBM nonsubsidi berubah. Masyarakat sudah tahu bahwa BBM nonsubsidi sesuai mekanisme pasar. Kalau naik harga bahan bakunya, BBM-nya juga naik," ujarnya.