Jangan Asal Posting, Ini Rahasia Bikin Konten Viral Kreatif dan "Cuan"
ERA.id - Strategi membuat konten yang akan ramai views-nya mirip dengan mencari Ikigai, sebuah filosofi hidup dari Jepang tentang makna keseimbangan.
Di ruang digital, Ikigai tercipta ketika kita berhasil membuat konten yang bukan hanya untuk diri kita, tapi untuk banyak orang.
Ketika preferensi personal bertemu dengan kebutuhan publik, maka konten akan ramai sehingga lanskap digital hari ini bukan lagi sekadar membagikan dokumentasi pribadi demi kesenangan pribadi.
Di era konvergensi, siapa pun yang menguasai strategi media sosial (yang mencakup psikologi audiens), dialah yang memegang kendali atas pertumbuhan bisnis dan peluang karir di masa depan. Kesadaran inilah yang mendasari pentingnya pembekalan dini bagi para calon praktisi media.
Memfasilitasi kebutuhan tersebut, program studi D4 Produksi Media Institut Media Digital Emtek (IMDE) menggelar kuliah praktisi eksklusif untuk mata kuliah Social Media Strategy pada Selasa (9/6/2026) yang diampu oleh Dosen Rifa Yusya Adilah, M.I.Kom.
Hadir sebagai pembicara atau dosen praktisi yakni Oka Pangestu serta Hasanul Bana selaku Co-Founder @BukanCumaPosting. Dengan keahlian di content planning dan digital marketing, BukanCumaPosting membantu ribuan akun bertumbuh secara organik, dengan membuat konten yang gak cuma viral, tapi juga relevan dan berdampak.
Dalam sesi kelas kali ini, Oka dan Hasan membedah tema besar: “Bukan Cuma Posting: Social Media Mastery in Mastering Hooks, Boosting Views, and Scaling Up Your Audience”.
Keduanya menjelaskan strategi Winning Content System, "Cara ngonten yang bikin akun kalian grow & cuan sebelum lulus kuliah," ujar Oka dan Hasan di hadapan para mahasiswa.
Kunci atensi lewat FLSR
Dalam pemaparannya, Oka Pangestu mengatakan bahwa mahasiswa bisa memulai konten dengan metode "ATM" atau "Amati, Tiru, Modifikasi". Namun konsep tersebut dimodifikasi menjadi FLSR (Finding, Listing, Sorting, Recreating). Sehingga kreator pemula tak hanya asal meniru konten, tapi menganalisis konten tersebut secara mendalam.
Langkah ini dimulai dari finding atau mencari referensi akun atau konten top tier, bisa di bidang yang sama dengan niche kita, lalu listing atau tahap mengumpulkan dan mencatat konten top tier yang kita cari tadi ke dalam sebuah daftar atau list.
Konten tersebut kemudian dibedah seluruh unsurnya. Mulai dari visualnya, audionya, naskahnya, covernya, penyampaiannya, masalahnya, dan lain sebagainya. Selanjutnya adalah tahap sorting menyaring untuk konten mana yang paling perform, sesuai dan bisa "dieksekusi". Saat menyorting, bisa dibuat skala prioritasnya.
"Anggap lah ada konten yang views-nya jutaan, bahkan sampai puluhan juta. Itu lah best performing content yang kita adopsi. Kita analisis, kok konten ini bisa disukai market?" jelas Oka,
Terakhir, yakni tahap recreating atau memproduksi ulang konten yang sudah disorting sesuai dengan keunikan personal. Tujuannya untuk menjaga authenticity (keaslian), bukan sekadar copy paste atau plagiasi.
Sementara itu, Hasanul Bana membedah elemen paling krusial yang menentukan hidup-matinya sebuah video pendek, yakni di tiga detik pertama. Di era information load, butuh keterampilan untuk membuat audiens "stop scrolling" di konten yang kita buat.
BukanCumaPosting memformulasikan anatomi winning content (konten yang paling perform) ke dalam empat pilar: Start With Hook, Build Tension, Reveal The Solution, dan ditutup dengan Call To Action (CTA) yang dimodifikasi menjadi Call To Value.
“3 elemen hook di 3 detik pertama yang harus diperhatikan yaitu visual, audio, dan teks. Sudah. Fokus di 3 unsur itu dulu di 3 detik pertama, harus benar-benar bisa memancing/menggaet audiens," jelas Hasan.
Di depan mahasiswa, Hasan menjelaskan bagaimana cara membuat hook yang berhasil memikat audiens. Namun, hook saja tidak cukup. Penonton akan berhenti menonton konten kita jika di tengah konten terasa membosankan.
Di sinilah pentingnya membangun Tension (ketegangan) melalui elemen Conflict (konflik atau masalah nyata), Contrast (perbandingan ekstrem), atau Cliffhanger, yakni menunda pengungkapan solusi atau menghentikan informasi tepat di momen paling menegangkan.
Tujuannya adalah memancing rasa penasaran penonton agar kembali (retensi) untuk melihat kelanjutannya. Metode ini memanfaatkan efek psikologis manusia yang selalu ingin menyelesaikan sesuatu.
Dengan menjaga ritme ketegangan ini, psikologi audiens akan terdorong untuk menyimak video hingga akhir demi menemukan Solution (solusi) yang ditawarkan. Barulah berikan solusi dari permasalahan/pembahasan konten kita. Terakhir, konten bisa ditutup dengan ajakan bertindak atau CTA/CTV yang jelas.
Menariknya, kuliah praktisi menjadi sangat interaktif saat memasuki sesi bedah konten secara personal. Selain itu, mahasiswa juga dibekali cara memanfaatkan berbagai tools pendukung dan bantuan AI agar proses produksi konten lebih efisien.
Masih di acara tersebut, Dosen Pengampu Rifa Yusya Adilah, menyampaikan bahwa kehadiran praktisi industri ke dalam ekosistem kampus kreatif seperti IMDE merupakan langkah krusial untuk memangkas jarak antara teori akademik dengan dinamika industri yang berubah sangat cepat.
“Melalui kuliah praktisi ini, kami ingin memastikan mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen konten atau sekadar tahu cara memposting video. Sebisa mungkin, mahasiswa bisa tumbuh menjadi seorang arsitek digital yang strategis,” pungkas Rifa.
Apresiasi
Sebagai bentuk apresiasi mendalam atas ilmu, pengalaman, dan wawasan industri yang telah diberikan kepada para mahasiswa, Kampus IMDE memberikan sertifikat dan penghargaan kepada Hasanul Bana dan Oka Pangestu selaku co-founder BukanCumaPosting.
Sertifikat penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Teguh Setiawan, M.I.Kom selaku Ketua Program Studi (Kaprodi) D4 Produksi Media IMDE dan Rifa Yusya Adilah, M.I.Kom selaku dosen pengampu Social Media Strategy. Kuliah praktisi ini turut dihadiri Kaprodi Konten Kreatif Erwin Mulyadi, S.Si, M.I.Kom.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama antara jajaran dosen, pembicara/ dosen praktisi serta seluruh mahasiswa kelas yang hadir.