Hotel Mumbai: Mengapa Respons Antiteror di India Lama?

Jakarta, era.id - Suasana Hotel Bintang Lima Taj Mahal, Mumbai, India waktu itu tak ubahnya malam-malam sebelumnya di bulan November. Sampai dering ponsel kepala Chef Hotel, Hemant Oberoi memecah kebuntuan dan mengabarkan adanya peristiwa penembakan di Stasiun Chhatrapati Shivaji Terminus (CST). 

Mulanya sang Chef mengira mereka sedang bercakap tentang syuting film. Hingga akhirnya gurauan itu menjadi sebuah kenyataan yang mengerikan bagi staf dan pengunjung Taj Hotel.

Sekiranya itu adalah gambaran intro dari adegan-adegan kengerian yang digambarkan secara gamblang dalam film Hotel Mumbai. Film yang diambil dari kisah nyata tragedi teror mematikan di India pada tahun 2008 itu diproduseri oleh Anthony Maras.

Tidak banyak basa-basi, adegan kekejaman para teroris yang tergabung dalam Laskar-e-Taiba --kelompok teroris muslim ekstrimis asal Pakistan-- berhasil menciptakan nuansa ketegangan bagi penonton. Meski ada sedikit kritikan karena terlalu menggambarkan secara gamblang kejamnya aksi teror, tapi itulah tujuan Maras, ingin menggambarkan secara nyata kejadian pada waktu itu. 

Desingan peluru dari selongsong senjata jenis AK-47 itu terus meletus mulai dari stasiun Mumbai hingga pedestrian di kota Mumbai. Kemudian teror ledakan demi ledakan di sejumlah restoran, hingga pada akhirnya warga yang terluka bermuara di Hotel Taj, Mumbai. 

 

Gambaran kepanikan dan teror terus dipertontonkan. Sampai akhirnya muncul pertanyaan dalam pikiran penonton yang baru saja menyaksikan film Hotel Mumbai. Mengapa respon pasukan antiteror pada saat itu sangat lamban? Sampai-sampai memakan waktu 12 jam, sebelum melumpuhkan aksi teroris itu?

Sepanjang film, para tamu dan staf tetap terjebak di hotel, dibuntuti oleh para teroris berhari-hari. Sementara pasukan keamanan tetap berada di luar. Penggambaran peristiwa ini cukup dekat dengan kenyataan di mana serangan itu berlangsung dalam rentang waktu tanggal 26-29 November 2008.

Menurut laporan RAND, butuh hampir 10 jam bagi pasukan komando NSG elit India untuk tiba di lokasi serangan di Mumbai. Sebagian karena fakta bahwa pasukan reaksi cepat negara itu berbasis di dekat Delhi, ratusan mil jauhnya. Baru pada pagi hari tanggal 29 November operasi anti-terorisme akhirnya berhasil mengepung dan melumpuhkan para teroris. Pengepungan pun resmi berakhir.

Kuatnya Militer India 

Padahal apabila melihat kekuatan militer India, negara itu bukan macan ompong. Menurut Global Firepower 2018, kekuatan militer India berada pada peringkat 4 dunia.

Seperti diketahui, India memiliki pasukan elite seperti Pasukan Khusus (Kopassus) milik TNI. Pasukan itu bernama Para Special Force (SF). Pasukan itu adalah unit operasi khusus Angkatan Darat India yang berada pada Resimen Parasut. 

Pasukan yang dibentuk pada tahun 1966 itu bertugas dengan banyak misi seperti operasi khusus, aksi langsung, penyelamatan sandera, dan tentunya anti-terorisme. Pasukan ini juga memiliki beberapa keistimewaan.

 

Pada tahun 1971 misalnya, Para SF pernah ikut perang melawan Pakistan. Saat itu diturunkan tim penyerang sebanyak enam orang yang ditempatkan sejauh 240 kilometer ke wilayah Indus dan Charchao. Mereka melakukan aksi penggerebekan di sana. 

Serangan itu berhasil menewaskan 437 orang dan melukai 140 orang Pakistan. Selain itu, mereka juga menghancurkan 35 artileri meriam dan membawa 18 anggota Kelompok Layanan Khusus dari sandera Angkatan Darat Pakistan. 

Kemampuan itu tentunya sangat mampu bahkan dapat dengan mudah apabila hanya melakukan penaklukan aksi terorisme yang terjadi di Mumbai 2008 silam. Hanya jarak tempuh yang pada kejadian sebenarnya pasukan anti teror itu baru sampai setelah 3 hari kemudian cukup disayangkan. Pasalnya, apakah tidak ada armada udara yang dapat memangkas waktu perjalan yang jaraknya mencapai ratusan mil tersebut?

 

Tag: hari film nasional 2018