Menggali Isi Kepala Yosep Anggi Noen dalam The Science of Fictions

Jakarta, era.id - Sutradara berbakat, Yosep Anggi Noen kembali dengan karya super-istimewa. Filmnya yang berjudul The Science of Fictions mendapat jatah layar di Locarno Film Festival 2019. Selain kebesaran Locarno, keistimewaan film ini dapat dilihat dari premis dan pengemasan yang diangkat Noen ke atas layar.

Dalam The Science of Fictions, Noen mengangkat tahun 1960-an sebagai latar waktu dalam film. Kisah The Science of Fictions diantarkan oleh Siman (Gunawan Maryanto), seorang laki-laki yang kehidupannya kacau setelah tak sengaja menyaksikan pendaratan bulan palsu yang dilakukan sekelompok orang asing di Pantai Parang Tritis, Yogyakarta.

Para kru yang terlibat dalam skenario pendaratan bulan palsu itu kemudian menangkap Siman. Lidah Siman dipotong agar ia tak dapat membocorkan misi rahasia itu. Siman bisu kemudian berusaha menyampaikan temuannya dengan banyak cara, mulai dari memeragakan gerak tari hingga merakit sebuah pesawat luar angkasa di belakang rumahnya.

Di sinilah kemampuan 'nyeni' Noen bermain cantik. Tanpa dialog yang keluar dari mulut Siman, Noen dipaksa untuk memaparkan narasi film dalam bentuk visual. Trailer The Science of Fiction sendiri sudah dilempar sejak beberapa waktu lalu. Trailer dibuka dengan penampakan sosok Siman yang tengah menyaksikan skenario pendaratan bulan palsu.

Konflik dalam film ini mengangkat bagaimana upaya Siman memberi tahu orang-orang soal temuannya ini justru tak ditangkap dengan baik. Alih-alih diberi kesempatan menjelaskan, Siman malah disebut gila oleh orang-orang di kampungnya. Dalam wawancara bersama Close-Up Culture, Noen mengamini tantangan besar yang harus ia dan Gunawan hadapi.

“Karena Siman tidak dapat berbicara, tantangan bagi aktor (Gunawan) adalah menyampaikan cerita melalui tubuh dan gerakan. Karena kesulitan ini, saya dan Gunawan Maryanto memiliki ruang yang luas untuk membuat bahasa kita. Penonton bisa menebak dan itu adalah hal lain yang membuat kegembiraan lain,” tutur Noen dikutip Rabu (7/8/2019).

Lebih lanjut, Noen menjelaskan alasannya mengangkat kisah pendaratan bulan palsu di tahun 1960-an sebagai premis. “Itu adalah zaman Perang Dingin dan salah satu yang menarik adalah perlombaan luar angkasa. Saya tertarik untuk menunjukkan dampak konflik politik yang sangat besar pada seorang individu,” kata Noen.

 

Kehormatan tayang di Locarno

Kehadiran The Science of Fictions di Locarno adalah kesempatan istimewa, tak hanya buat Noen, tapi bagi seluruh sineas dan para penggila film di Indonesia.

Secara pribadi, Locarno adalah catatan keren di dalam kariernya sebagai sutradara. “Dua film fitur pertama saya berkompetisi di Cineaste del Presente. Sementara, film fitur ketiga saya (The Science of Fictions) kini berhasil masuk ke kompetisi utama.”

Bagi Noen, Locarno adalah tempat yang tepat bagi sineas yang memiliki karya-karya dengan visi unik dan berani. Itulah kenapa secara pribadi festival ini amat terasa personal bagi Noen. “Saya merasa di rumah dan meningkatkan kepercayaan diri saya.”

Dalam konteks yang lebih luas, tayangnya The Science of Fictions di Locarno adalah kesempatan besar baginya berkontribusi dalam perkembangan film Indonesia.

Memutar The Science of Fictions di Locarno akan memberi kesempatan lebih besar kepada Noen untuk memperkenalkan film-film 'nyeni' kepada masyarakat luas.

“Locarno adalah langkah pertama agar film tersebut diketahui dan kemudian ditonton.”

Locarno adalah salah satu festival film terbesar di muka bumi, selain Cannes, Sundance, Berlin, serta Venice. Tahun ini, Locarno memasuki penyelenggaraan yang ke-72 kali.

Tag: film indonesia hari film nasional 2018