Angka Perceraian di China Melonjak Akibat COVID-19

Jakarta, era.id - Pemerintah China telah memperketat mekanisme dengan menerapkan kebijakan lockdown, isolasi, dan karantina untuk menekan merebaknya wabah virus korona baru atau COVID-19. Namun, ternyata kebijakan itu malah berdampak pada tingginya angka perceraian di negeri tirai bambu itu.

Petugas pendaftaran pernikahan di China mengatakan, alasan utama mereka bercerai karena pasangan terlalu lama menghabiskan waktu di rumah. Bukannya menambah kemesraan, malah bikin lebih sering terjadi pertengkaran.

Banyak pasangan suami istri yang terpaksa menghabiskan banyak waktu di rumah sebagai antisipasi pencegahan virus korona dengan melakukan self isolation selama satu bulan.

Otoritas China mencatat, sejak wabah virus korona mengintai negaranya, kasus perceraian mengalami lonjakan. Hingga 24 Februari 2020 tercatat ada 300 pasangan suami istri yang telah mengajukan permohonan cerai.

"Tingkat perceraian di distrik telah melonjak ketimbang sebelum wabah virus korona. Pasangan muda menghabiskan waktu di rumah cenderung menentang argumen karena hal tidak penting dan menginginkan pernikahan segera berakhir," kata Mr. Lu, selaku Manajer Pendaftaran Pernikahan, seperti dikutip Daily Mail.

Sebelumnya, Dewan setempat menetapkan aturan hanya menerima 14 permohonan perceraian dalam satu hari. Namun, karena permintaan semakin melonjak maka dibatasi jadi 10 permohonan saja.

Pemerintah China mengonfirmasi bahwa kini kasus baru virus COVID-19 pada Minggu (15/3) bertambah menjadi 16 kasus. Komisi Kesehatan Nasional mengatakan pada hari Senin, bahwa angka ini turun dari sebelumnya yakni 20 kasus.

Hal itu membuat jumlah total kasus yang dikonfirmasi di Tiongkok sejauh ini menjadi 80.860. Sedangkan korban tewas dari wabah di China mencapai 3.213 kemarin atau bertambah 14 dari hari sebelumnya.

Tag: covid-19 korona