Bagaimana Cara Mengelola Emosi Anak di Kala Pandemi?

ERA.id - Dengan situasi pandemi COVID-19 yang tak kunjung menentu, tak hanya orang dewasa saja yang memiliki kekhawatiran. Anak-anak pun juga merasakannya. Seorang psikolog berbagi tips parenting cara menyadari kegelisahan anak-anak dan bagaimana memberi jawaban yang tepat sesuai jenjang umur mereka.

Tidak benar bila dikatakan bahwa anak-anak adalah mahkluk yang lugu. Bahkan di usia yang sangat belia sekalipun, mereka menangkap bahasa-bahasa nonverbal dari orang-orang di sekelilingnya, lantas berusaha mencari arti dari sinyal-sinyal itu.

Seorang anak bisa menyadari frustrasi dari nada suara orang tuanya. Ia juga bisa merekam mimik wajah orang di sekitarnya, lalu melabeli ekspresi tersebut dengan suatu perasaan tertentu.

Berbeda halnya dengan kata-kata. Orang dewasa memiliki kemampuan membedakan ekspresi yang hiperbola (berlebihan), humor, atau sarkasme. Namun, seorang anak belum tentu mampu. Seorang ibu yang secara hiperbolik berkata, "Dunia akan berakhir sebentar lagi," mungkin bakal menimbulkan kecemasan di hati anaknya yang masih berusia 8 tahun.

Melihat masih banyaknya orang tua yang sulit menemukan ekspresi dan respon yang tepat bagi pertanyaan anak-anak mengenai pandemi ini, Dr. Madeline Levine, seorang psikolog sosial, menulis mengenai hal ini di koran New York Times.

"Orang tua bisa memulai dengan menyadari fase perkembangan fisik anak. Antisipasi bagaimana mereka memproses hal-hal yang mereka dengar. Siapkan diri dengan respon yang jujur dan sesuai dengan umur seorang anak," kata Dr. Levine.

Usia Kurang dari 5 Tahun

Less is more. Lebih sedikit berkata-kata, lebih baik. Di usia bawah lima tahun (balita), anak-anak masih melihat dunia sebagai tempat yang ajaib. Mereka masih percaya ada hantu yang bersembunyi di kolong tempat tidur, atau bahwa mereka punya kekuatan supranatural. Namun, mereka sulit menyadari adanya suatu 'wabah' yang tidak berwujud namun berbahaya. Dalam hal ini yang mereka perlukan adalah bahwa mereka aman di sekitar orang-orang terdekat. Jika orangtua merasa aman, mereka pun juga begitu.

"Jika mereka bertanya, jawablah kegelisahan mereka dengan kalem dan tidak bertele-tele. Mereka akan lebih teliti untuk membaca mimik wajah Anda, nada suara, dan bahasa tubuh Anda daripada memperhatikan kata-kata Anda," kata Dr. Levine.

Kata-kata yang lebih umum, misal "khawatir", akan lebih membantu daripada kata-kata yang lebih bernuansa emosional seperti "panik" atau "ketakutan".

Anjuran-anjuran menjaga higiene juga lebih pas disampaikan secara terus terang dan singkat. Seperti, "Lebih baik kamu cuci tangan dulu" atau "Kita melakukan hal ini agar tetap sehat." Ekspresi semacam itu sudah cukup bagi para balita.

Usia 5-10 Tahun

Anak-anak dalam kategori umur ini sudah bisa berpikir secara logis. Namun, cara pikir mereka masih kongkrit, atau apa adanya. Mereka belum terlalu memahami abstraksi, sarkasme, atau ironi, yang biasa digunakan orang dewasa untuk sekadar bercanda atau melepaskan penatnya pikiran.

Hal penting dalam berkomunikasi dengan anak berusia 5-10 tahun adalah untuk mengetahui bagaimana mereka memproses informasi.

Seorang anak mungkin mendengar ungkapan yang hiperbolik di TV atau di media sosial, mengenai bahwa tahun 2020 adalah tahun terburuk dalam sejarah atau hal lainnya. Ia mungkin akan berkata, "Aku khawatir kita semua akan mati." Dalam hal ini, respons orang dewasa harus jelas dan dilanjutkan dengan pertanyaan klarifikasi, "Kita tidak akan mati. Memang apa yang kamu dengar sehingga kamu berpikir seperti itu?"

Orang dewasa, menurut Dr. Levine, tak perlu menyampaikan narasi yang kelam. Dalam usia ini, anak-anak tidak hanya peduli pada dirinya sendiri, ia juga khawatir bagaimana suatu hal berdampak pada orang lain.

"Tentu saja Anda ingin mendidik anak Anda. Namun, Anda juga perlu mengetahui hal-hal yang mereka dengar dan bagaimana mereka mengartikan informasi tersebut. Pastikan Anda selalu aktif bertanya," kata dia.

Usia 11-15 tahun

Dalam taraf usia ini, seorang anak sudah makin mahir dalam berpikir. Mereka bisa memproses secara logis dan memahami abstraksi, seperti arti kata 'wabah'. Meski bercanda ngawur soal hari kiamat tak terlalu berguna, namun, anak-anak di taraf usia ini sudah bisa memahami humor di balik ekspresi semacam itu.

Sang psikolog mewanti-wanti bahwa masa remaja ini sudah sangat membuat stres, bahkan ketika belum ada darurat pandemi. Anak-anak dalam usia ini punya kekhawatirannya sendiri, alih-alih berpikir soal apakah stok masker sudah cukup di rumah, dan sebagainya.

Tak perlu kaget bila seorang anak, karena jengah, ingin bertindak sembrono. "Aku nggak usah pakai masker. Teman-temanku nggak ada yang sakit." Dalam hal ini respons yang terbaik adalah seperti, "Aku tahu memakai masker itu merepotkan. Namun, kita tidak hidup sendirian. Kita juga harus melindungi mereka yang ada di sekitar kita."

Dr. Levine menyarankan untuk membuat anak di usia ini paham bahwa ada orang lain selain mereka. "Anak remaja bisa sangat egois, namun, juga punya kesadaran sosial. Ingatkan bahwa tetangga mereka perlu bantuan. Bersimpatilah pada situasi mereka tidak bisa bebas bermain, karena situasi ini sangat berat bagi anak-anak remaja."

Pada akhirnya, orang tua perlu mengelola emosinya. Orang-orang dewasa bisa mencoba mengurangi eksposur ke berita-berita sensasional atau update berita yang terlalu sering. Dr. Levine sendiri menyarankan aktivitas pribadi yang bisa mengurangi stres, seperti berkebun, olah raga, atau berada di alam.

Pandemi kali ini tentu saja bukan kiamat. Krisis ini akan berlalu. Namun, anak-anak perlu diajarkan bagaimana menghadapi ketidakpastian. Orang-orang dewasa tidak perlu berpura-pura menyukai kondisi ini. Namun mereka harus bisa mencontohkan pada anak-anak bagaimana menghadapi semua ini.