Tinjau Laboratorium Vaksin COVID di Bandung, Jokowi Minta Pemda Cegah Resesi

ERA.id - Presiden Joko Widodo meninjau laboratorium vaksin COVID-19 di Bio Farma, Bandung, Selasa (11/8/2020). Sebelum peninjauan ke perusahaan yang kini bekerja sama dengan produsen vaksin COVID Sonovac, Cina, itu, Presiden menyampaikan arahan kepada pemerintah daerah, gubernur, bupati, walikota, agar berusaha mencegah terjadinya resesi ekonomi.

Presiden terlebih dahulu melakukan pertemuan di Makodam III/Siliwangi, Bandung. Dalam kesempatan ini hadir Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan jajarannya.

Jokowi mewanti-wanti bahwa wabah COVID-19 belum selesai. Hingga saat ini, menurut Presiden, ada  215 negara di dunia yang terpapar COVID, sebanyak 19,7 juta penduduk dunia terinfeksi, dan 728 ribu meninggal dunia. Di Indonesia tercatat ada 127 ribu terinfeksi, pasien sembuh mencapai 82 ribu, dan meninggal 5.700 orang.

“Ancaman COVID belum selsai sampai nanti vaksin bisa divaksinakan kepada seluruh rakyat di Tanah Air,” kata Jokowi, dalam arahannya yang disiarkan langsung di YouTube.

Jokowi menegaskan, pandemi COVID-19 menimbulkan dampak pada kesehatan dan ekonomi. Dua sektor ini sama-sama penting dan perlu ditangani.

“Urusan kesehatan dan ekonomi dua hal yang penting. Tidak hanya urusan COVID kesehatan tapi ekonomi tidak diurus akan menimbulkan problem sisal ekonomi di masyarakat,” katanya.

Peran pemerintah daerah khususnya walikota dan bupati sangat penting dalam melakukan gas dan rem manajemen pengendalian COVID yang berdampak pada kesehatan dan ekonomi tersebut.

Contohnya, penyaluran sembako atua bantuan sosial harus diperhatikan. Ia meminta tidak boleh ada masyarakat yang kekurangan sembako. Pemerintah pusat sendiri sudah memberikan sejumlah bantuan. Saat ini, bantuan yang akan dicairkan ialah program bantuan untuk 13 juta pekerja yang ikut BPJS Ketenagakerjaan. Program ini di luar 10 juta kartu pra kerja yang sasarannya pekerja yang kena PHK.

Jokowo berharap lewat program tersebut stimulus ekonomi bisa diberikan kepada masyarakat menengah ke bawah sehingga ada daya beli yang dampaknya pada meningkatnya konsumsi skala domestik.

“Sehingga diharapkan petumbuhan ekonomi secara nasional akan tumbuh lebih baik dari kuartal kemarin,” kata Jokowi. 

Ia menurutkan, pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal pertama masih tumbuh 2,97. Padahal banyak negara yang pertumbuhan ekonominya minus atau negatif. Bahkan ada negara yang masuk kategori resesi seperti Italia minus 17,53, Jerman minus 11,7, Prancis minus 19, dan Amerika minus 9,5.

Indonesia pun di kuartal kedua mengalami minus 5,32 persen. Termasuk di Jawa Barat yang sudah minus 5,9. Kondisi ini, kata Jokowi, harus disikapi dengan harus hati-hati. “Tetapi saya optimis di kuartal ketiga lebih baik dari kuartal kedua,” katanya.

Ia meminta gubernur, walikota, dan bupati di daerah untuk bekerja keras agar bisa menumbuhkan daya beli di masyarakat. Salah satunya dengan melakukan belanja APBD. Tetapi Jokowi melihat realisasi belanja APBD masih belum maksimal. Masih banyak dana APBD yang disimpan di bank.

“Secara nasional saya masih melihat anggaran-anggaran itu APBD masih di bank hampir 170 triliun di bank. Artinya penggunaan memerlukan kecepatan terutama di kuarta ketiga kunci di bulan Juli-Augstus -September. Supaya tidak masuk kategori resesi ekonomi,” katanya.

Jokowi menegaskan, realisasi anggaran pada tiga bulan mendatang sangat menentukan dalam mencegah terjadinya resesi ekonomi. “Tiga bulan itu sangat menentukan. Begitu dibelanjakan sesegera mungkin kemungkinan bisa kembali ke positif,” tegasnya.