Warganya Doyan Olshop, Jepang Kehabisan Angka Kartu Kredit

ERA.id - Kelangkaan barang-barang terjadi lagi di tengah pandemi COVID-19. Kalau bulan Februari lalu ada kelangkaan stok tisu toilet di Australia dan Amerika Serikat, sekarang di Jepang terjadi 'kelangkaan' nomor kartu kredit.

Perusahaan kartu kredit di Jepang kini sedang berdiskusi untuk meningkatkan angka kartu kredit hingga 17 digit. Hal ini dikarenakan, di tengah demam belanja online semasa pandemi, Jepang kehabisan stok kartu kredit, seperti dilansir koran Mainichi Shimbun.

Meroketnya penggunaan kartu kredit juga dipicu oleh kampanye transaksi non-tunai oleh pemerintah Jepang sejak Oktober tahun lalu. Di samping itu pajak konsumsi pun meningkat dari 8 persen menjadi 10 persen.

280 perusahaan kartu kredit Jepang memakai sistem 16 digit agar bisa bekerja sama dengan mitra internasional, misalnya Visa dan Mastercard. Dari slot itu, 6 digit pertama sudah diperuntukkan bagi kode negara, merk, dan informasi lainnya. Sepuluh digit terakhir tersisa untuk perusahaan kartu kredit sebagai slot nomor akun dan jenis akun pengguna.

Penerbitan kartu kredit di Jepang meningkat 2 persen tiap tahun. Namun, tahun ini angka tersebut meroket setelah orang disarankan untuk berbelanja dari rumah guna mengontrol persebaran COVID-19.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menargetkan bahwa pada 2025 transaksi non-tunai meningkat dua kali lipat hingga 40 persen. Lalu, meningkat lagi hingga 80 persen.

Meski pembayaran non-tunai meningkat, 84 persen keluarga di Jepang masih menggunakan uang kertas dan uang koin untuk transaksi kecil, seperti dilaporkan sebuah survei tahun 2019. Angka itu turun menjadi 48,5 persen untuk transaksi senilai 10.000-50.000 yen (Rp1,3 juta - Rp6,9 juta).

Angka transaksi non-tunai di Jepang, sekitar 20%, masih kalah jauh dengan Korea Selatan yang 96% dan China, 66%, seperti dicatat Payments Japan Association.

Perusahaan penerbit kartu kredit masih ragu-ragu untuk menambahkan satu digit sebagai nomor pengguna. Salah satu konsekuensinya adalah apakah mereka akan mengubah 300 juta kartu kredit yang sudah terbit ke dalam sistem nomor kartu kredit yang baru.