Kenapa Jempol Disebut Ibu Jari, Bukan Bapak Jari?

ERA.id - Pernahkah kita bertanya, kenapa sih kita menyebut jempol kita dengan ibu jari, bukan bapak jari? Alasannya jelas, kata “ibu” lebih laris ketimbang “bapak”. Kata "ibu" lebih punya kekuatan.

Kata ibu di Indonesia lebih sering diproduksi untuk hal-hal yang positif dan lebih akrab dengan kita. Wanita apalagi ibu, dalam sejumlah ajaran agama, dianggap sebagai tiang negara. Akhirnya, kebudayaan membentuk sebuah kata.

Secara harfiah, “ibu” memiliki beberapa arti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yakni wanita yang telah melahirkan seseorang; kata sapaan untuk wanita yang sudah bersuami; sapaan takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya).

“Itu adalah kata gabung, maknanya ada yang harfiah ada yang konotatif,” kata Ivan Lanin, pakar dan pegiat bahasa Indonesia yang juga pendiri Wikimedia Indonesia, diansir Kumparan.

Makna harfiah yang dimaksud Ivan ialah, arti sebenarnya, sedangkan makna konotatif mengandung arti tautan atau konotasi atau yang menimbulkan nilai rasa.

“Ibu dilekatkan pada kata-kata yang mengandung arti induk, yang utama, pusat,” ujar Ivan. 

Bukan cuma “ibu”, ada pula beberapa kata lain seperti “anak” dan “buku”. “Anak sungai, anak perusahaan itu kan mengandung makna keturunan. Begitu pula buku jari, buku kaki, dan lainnya,” kata Ivan.

Makna-makna dalam kata itu lalu meluas dari arti harfiahnya, dan memberi nilai rasa lain. Pemilihan kata tergantung pada nilai rasa yang terbangun. Budaya Indonesia, baik dalam cerita maupun sejarahnya, menempatkan ibu dalam posisi penting.

“Bahasa pada dasarnya adalah budaya. Jadi bagaimana orang itu berpikir, mengatur, dan menata lingkungannya itu diketahui melalui bahasa,” jelas Felicia Utorodewo yang biasa dipanggil Ibu Sis, Dosen Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI).

“Kalau kita baca-baca cerita rakyat, di Kalimantan, Sulawesi, selalu ibu yang menjadi dasar semuanya,” kata Ibu Sis.

“Segala sesuatu yang berkaitan dengan inti biasanya dikaitkan dengan ibu sebagai tempat kita bertumpu, mengadu, mencari kehidupan, dan sebagainya,” tandas Ibu Sis.

Benar juga, coba jika ibu jari tidak ada, lalu kita sebelumnya sudah terbiasa memakai ibu jari untuk menjepit pulpen atau pensil saat menulis. Bagaimana rasanya ya menulis tanpa ibu jari? Oh ya, fakta menarik juga, ibu jari lebih kuat saat menekan sesuatu. Benar kan?