Fadli Zon Tunjukkan 'Harian Rakjat', Bukti PKI Dalang Kudeta G30S/PKI

ERA.id - Dewan Pembina Gerindra, Fadli Zon menyebutkan Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi partai yang selalu berusaha melakukan kudeta pada pemerintah Indonesia. Setidaknya ada dua peristiwa besar saat PKI melancarkan aksi kudeta.

"Pertama, 18 September 1948. Kedua pada 1 Oktober 1965. Jadi kita melihat PKI ingin mengambil alih kekuasaan, mengubah ideologi termasuk Pancasila dan mengambil jalan kekerasan untuk menunaikan ambisi-ambisi yang sesuai dengan ideologinya," kata Fadli lewat Youtube Fadli Zon Official, Kamis (1/10/2020).

Ia mencontohkan pada 1948, banyak korban dari kudeta yang dilakukan PKI. Diantaranya para ulama, kiai, dan pejabat pemerintahan di sekitar wilayah keresidenan Madiun, Magetan hingga Ngawi. Banyak juga tokoh pesantren yang diculik, dibunuh, dan dimasukkan dalam lubang-lubang buaya yang diberi nama sumur soco.

"Tahun 1965, kita tahu prolog yang dilakukan PKI namanya aksi-aksi sepihak, seperti peristiwa Kanigoro yaitu suatu peristiwa suatu ambush (penyergapan) terhadap training dari PII yang terjdi di Kanigoro," kata Fadli. 

>

Puncaknya, ia menyebutkan pembunuhan keji pada enam jenderal dan perwira yang dikenal dengan peristiwa Lubang Buaya. Peristiwa tersebut merupakan kudeta PKI tahun 1965.

"PKI memfitnah pada Dewan Jenderal, kemudian fitnah itu mereka jadikan justifikasi, legitimasi untuk membunuh para jenderal itu, mengambil alih kekuasaan," kata Fadli. 

Menurutnya, bukti-bukti PKI melakukan kudeta terlalu banyak pada dua peristiwa ini. Pada tahun 1948 dwitunggal Soekarno-Hatta masih kuat. 

"Soekarno menyampaikan mau pili Muso atau Soekarno-Hatta. Tapi ketika tahun 1965, Bung Karno sendirian. Kemudian ada berbagai kekuatan, ada PKI dan TNI angkatan darat terutama menjadi guardian atau penjaga dari Pancasila," kata Fadli.

Ia pun menunjukkan salah satu bukti dari sebuah koran PKI pada 2 Oktober 1965. Pada koran tersebut dituliskan keputusan pertama dari Untung, yang berperan sebagai komandan pemberontakan. Pada koran tersebut dituliskan 'Keputusan Nomor 1 Tentang Susunan Dewan Revolusi Indonesia'.

"Jadi mereka melakukan kudeta, kemudian ada yang namanya Dewan Revolusi Indonesia. Lalu ini ada Keputusan Nomor 2 Tentang Penurunan dan Penaikan Pangkat," kata Fadli.

Ia menjelaskan seluruh tentara yang pangkatnya di atas letnan kolonel diturunkan. Misalnya dari jenderal menjadi letnan kolonel dan kolonel menjadi letnan kolonel. 

"Ini adalah keputusan dari komandan gerakan 30 September, Ketua Dewan Revolusi Letnan Kolonel Untung. Kita lihat juga disini, harian yang dipimpin Njoto, tokoh PKI, dalam editorialnya sangat mendukung gerakan 30 September. Jadi memang gerakan 30 September ini dalangnya jelas adalah PKI," kata Fadli.

Ia juga menunjukkan sebuah artikel yang ditulis Wakil Sekjen Front Nasional AA Sanusi berjudul 'Situasi Ibu Kota Pertiwi Dalam Keadaan Hamil Tua'. Dalam artikel tersebut dituliskan kata soal kabir atau kapitalis birokrat, setan kota, dan setan desa.

"Jadi ini adalah salah satu bukti PKI sebetulnya memang melakukan kudeta menjadi dalang dari berbagai peristiwa itu. Dan tidak benar kalau itu dikatakan sebagai konflik internal Angkatan Darat atau kudeta merangkak dari Soeharto seperti yang didengung-dengungkan beberapa kalangan," kata Fadli.