Vaksin Pfizer Tak Menarik Minat Sebagian Populasi Singapura, Dianggap Fenomena 'Langka'

ERA.id - Menjelang dimulainya program vaksinasi Coronavirus Disease (COVID-19) di Singapura, sebagian warga setempat justru merasa program pemerintah telah berhasil menangani pandemi dan mereka tak perlu disuntik vaksin korona.

Seperti dilaporkan Reuters, Rabu (23/12/2020), kebanyakan warga Singapura skeptis terhadap kegunaan vaksin, dan khawatir terhadap resiko efek sampingnya, ketika jumlah kasus positif harian saat ini sudah hampir tidak ada dan angka kematian akibat COVID-19 di Singapura termasuk yang terendah di dunia.

"Singapura cukup sukses," kata Aishwarya Kris, warga Singapura berumur 40 tahun yang mengakui ia tidak ingin disuntik vaksin.

"Vaksin tidak akan berdampak apa-apa."

Jajak pendapat dari koran The Straits Times awal Desember menemukan 48 persen warga Singapura bersedia disuntik vaksin, namun, 34 persen mengaku ingin melihat perkembangan situasi-kondisi setelah 6 hingga 12 bulan ke depan.

Umumnya, warga Singapura bukan jenis populasi yang skeptis pada vaksin, dengan tingkat keikutsertaan vaksinasi anak-anak mencapai hampir 90 persen, kata Hsu Li Yang dari National University of Singapore.

Namun, kata dia, warga khawatir terhadap vaksin COVID-19 saat ini karena menggunakan teknologi eksperimental dan dikembangkan, serta disetujui, dalam tempo yang sangat cepat. Namun Hsu meyakini bahwa pada akhirnya warga akan mampu mempercayai vaksin terbaru ini.

Guna meyakinkan warganya, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, 68 tahun, dikabarkan juga akan menjadi salah satu penerima vaksin pertama. Ia akan bergabung dengan para tenaga kesehatan dan kaum lansia yang secara sadar bakal menyediakan diri untuk divaksin COVID-19.

Paket pertama vaksin Pfizer-BioNTech akan tiba di Singapura pekan ini dan pemerintah negara itu yakin mereka sanggup menyediakan vaksin ke 5,7 juta populasi Singapura pada kuartal ketiga tahun 2021.