Langit Kota Beijing China Berubah Jadi Oranye, Ini Penyebabnya

ERA.id - Warga ibu kota Beijing di China terbangun di pagi hari dengan melihat langit yang berwarna oranye pekat yang diakibatkan oleh badai pasir dan tingkat polusi udara yang tinggi hingga melampaui batas pengamatan.

Dilaporkan The Guardian, Senin (15/3/2021), indeks kualitas udara di Beijing pada Senin mencapai level 999 dan dikategorikan 'berbahaya'. Badan meteorologi China pun telah menyatakan peringatan bahaya sekitar pukul 7.30 pagi, dan akan berlaku hingga tengah hari.

Peringatan akan fenomena badai pasir dan debu yang bertiup dari kawasan gurun Gobi, di sebelah barat China, akan berlaku hingga Selasa pagi.

Sebagai perbandingan, jika indeks kualitas udara (AQI) di Beijing menunjukkan angka 999, skor Tokyo menunjukkan 42, Sydney 17, dan Jakarta 74.

Pada Senin pagi, level partikel polutan kecil PM2,5, yang bisa masuk ke dalam paru-paru, di Beijing mencapai 600 mikrogram di berbagai area kota tersebut. Padahal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan rata-rata konsentrasi polutan tersebut secara harian tak melebihi 25 mikrogram.

Sementara itu, badai pasir yang bertiup dari kawasan Mongolia Dalam membuat konsentrasi partikel polutan besar PM10 menjadi 8.000 mikrogram, demikian dilaporkan media nasional China.

Badai pasir sendiri adalah fenomena yang biasa terjadi di bulan Maret. Namun, warga yang sudah lama tinggal di Beijing mengaku tidak pernah mengalami badai separah Senin pagi selama bertahun-tahun.

Deforestasi besar-besaran ditengarai menjadi faktor makin parahnya badai pasir di China, seperti dilaporkan The Guardian. Pemerintah China pun telah berusaha melakukan reboisasi dan mengembalikan ekologi kawasan guna membatasi hembusan pasir ke ibukota.

Beijing juga berencana membangun "tembok hijau raksasa" berupa pepohonan dalam skala besar untuk menjebak hembusan debu. Mereka juga berencana menciptakan koridor udara guna mengarahkan angin dan membuat debu serta polutan lainnya berhembus dengan lebih lekas.

Sementara itu, polusi udara memang telah menyelimuti langit beberapa kota di China selama beberapa pekan terakhir. Kota Tangshan, sentra produk baja di China dan sumber polusi di Beijing dan Hebei, pada Sabtu mengumumkan akan menghukum dengan berat setiap pabrik yang gagal menjalankan upaya pencegahan asap darurat.