Protes Massal Setelah Elon Musk Ditunjuk Jadi Host Saturday Night Live

ERA.id - Program komedi sketsa Saturday Night Live mendapat kritik pedas pada akhir pekan lalu setelah mereka mengumumkan telah menunjuk Elon Musk untuk memandu acara TV tersebut

Sang miliarder yang juga komandan perusahaan SpaceX dan Tesla bakal memandu program SNL pada 8 Mei, di mana penyanyi Miley Cyrus juga akan tampil sebagai bintang tamu.

Situs entertainment Deadline menyebut Elon Musk terkesan "bukan pilihan yang wajar", namun, pria tersebut dianggap kerap melontarkan celetukan yang 'ajaib' kepada warganet, entah fan atau orang yang berseberangan dengannya, sehingga penampilan Musk mungkin bakal memberi sejumlah kejutan.

Namun, bukan tak jarang celetukan Musk membawa masalah bagi dirinya. Beberapa orang pun mengritik penunjukan Musk sebagai host SNL.

"Saya sangat kecewa terhadap SNL," tulis Jenelle Riley, penulis dan editor di majalah Variety, dikutip The Guardian.

"Mereka tak belajar dari masa lalu. Seorang host harus punya bakat yang khas daripada sekadar... memiliki kekayaan?" kata Riley, seraya menambahkan bahwa Musk punya rekam jejak buruk.

Pada Agustus 2018, Musk disorot karena berbohong pada publik, dan pemegang saham, bahwa ia telah "mendapatkan pendanaan" terkait pengambilalihan pabrik mobil listrik Tesla.

Selain itu, Musk juga sempat menyebarkan misinformasi terkait pandemi, meski secara diam-diam meminta karyawannya di SpaceX menjadi relawan riset antibodi. Musk juga, sebut Riley, memiliki reputasi tidak memperhatikan kondisi karyawannya.

SNL sendiri biasa mengundang aktor tamu yang sedang dalam tur promosi film terbaru, dan pengelola program TV tersebut jarang keluar dari 'tradisi' itu. Ketika mereka keluar dari kebiasaan ini, hasilnya mengundang kritik tajam.

Bulan November 2015, dua bulan sebelum momen seleksi kandidat politisi yang mewakili partai Republik untuk pemilu AS 2016, SNL mempersilakan Donald Trump untuk membacakan monolog, meski sosok politisi satu ini saat itu sudah mengundang kecaman lewat kampanye politiknya yang kasar dan rasis.

"Selain nggak ada humornya," tambah Moylan, "salah satu aspek paling mengecewakan adalah sesuai apa yang ditakuti setiap orang: pengejaran rating yang serba pengecut."