Pertarungan Sudjojono Lawan Seni Rupa Barat

Jakarta, era.id - "Tjarilah tjara mewoejoedkan kita itoe agar bisa tjorak Indonesia itoe terlihat. Marilah kita bersama-sama mentjari. Pakailah tjara saudara sendiri-sendiri oentoek mendapat nasionalisme seni loekis kita itoe. Di bawah ini saja kemoekakan sesoeatoe tjara jang mentjari djalan ke arah tadi. Kalau saudara mentjari, ta’ada salahnja saudara mempeladjari seni loekis Barat dari Reneissance Leonardo da Vinci sampai realisme De La Croix keseni loekis baroe Picasso. Tidak diarti teknik saja, tetapi diarti filsafat seni tadi, jang mendjadi sebab-sebab aliran-aliran seni loekis itoe, djoega haroes kita peladjari."

Kritik keras Sindudarsono Sudjojono dalam bukunya Seni Loekis, Kesenian dan Seniman (1946) kala itu betul-betul mengusik tarian kuas di kanvas-kanvas para pelukis Indonesia. Pria yang akrab disapa S.Sudjono itu ngotot menuntut bagaimana seharusnya posisi seni rupa Indonesia dalam pengaruh budaya luar.

Saat itu berbagai aliran seni rupa tumbuh di Indonesia. Salah satu yang terkenal yakni mooi indie. Istilah mooi indie sendiri mulanya digunakan untuk memberi judul reproduksi sebelas lukisan pemandangan cat air Du Chattel yang diterbitkan dalam bentuk portofolio di Amsterdam, Belanda.

Lukisan-lukisan mooi indie dapat dikenali dari penampilan fisiknya. Bentuknya menjelaskan pemandangan alam yang dihiasi gunung, sawah, pohon penuh bunga, pantai atau telaga. Aliran mooi indie juga menjadikan pribumi sebagai obyek lukisan, biasanya sebagai orang desa, penari atau bangsawan yang direkam dalam setting suasana Hindia Belanda.

A Landscape In The Dutch East Indies karya Raden Saleh. (Foto: fineartamerica.com)

Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh 1857. (Foto: Istimewa)

Dalam sebuah diskusi mengenai Raden Saleh di Salihara, Agustus 2013 lalu, sejarawan Onghokham pernah menyatakan bahwa mooi indie masuk di Indonesia melalui hasil lukisan Raden Saleh. Lukisan Pangeran Diponegoro dianggap sebagai karya awal aliran mooi indie yang hadir di Indonesia.

Realisme VS Mooi Indie

Nama Sudjojono memang tidak asing lagi di dunia seni rupa Indonesia. Tak hanya seni lukis dan patungnya yang masyhur, Sudjojono juga dikenal sebagai pendobrak arus budaya dan seni yang pernah dimiliki bangsa Indonesia.

Kesadaran akan konsep dan pandangan modernitas barat di abad 20 kala itu, betul-betul membuat kakek dari vokalis band Seringai, Arian Arifin, itu gelisah. Kegelisahannya akan nilai-nilai perjuangan kebebasan kolonialisme dan realita perjuangan hidup telah membawanya dalam sebuah perjuangan seni rupa yang bernilai tinggi.

Pasukan Kita yang Dipimpin Pangeran Diponegoro, S. Sudjojono. (Foto: Istimewa)

Dia blak-blakan mengkritik aliran mooi indie yang dianggapnya membuat masyarakat bumiputera terbawa oleh emosi karya seninya, tanpa melihat kondisi kolonialisme yang sangat mengenaskan. Sudjojono tidak terima, baginya orang asing hanya berusaha membuat bumiputera terlena akan keadaannya.

"Benar mooi indie bagi si asing, yang tak pernah melihat pohon kelapa dan sawah. Benar mooi indie bagi si turis yang telah jemu melihat skyscapers mereka dan mencari hawa dan pemandangan baru, makan angin katanya, untuk mengembuskan isi pikiran mereka yang hanya bergambar mata uang sahaja," tulis Sudjojono dalam tulisannya di Majalah Keboedajaan dan Masjarakat, Oktober 1939, seperti dikutip Historia.

Realisme Sudjojono sendiri juga lahir dari kondisi keluarganya. Sudjojono dibesarkan dari keluarga rakyat biasa dengan kemiskinan dan ketidaksejahteraan hidup. Oleh karena nilai realisme sangat mempengaruhi karya-karya Sudjojono sebagai bentuk interpretasi hasil penafsiran kondisi yang benar-benar nyata.

Infografis Bapak Seni Rupa Indonesia Modern. (Rahmad/era.id)

Tag: era eksistensi budaya