Alasan Kenapa Pemudik Marah-marah ke Petugas, Psikolog Ungkap Penyebabnya: Kecewa WNA China hingga Frustasi

ERA.id - Fenomena pemudik yang ngamuk dan memaki petugas di titik penyekatan saat mudik, ternyata perlu kita pahami dari sisi psikologinya.

Belakangan ramai video viral pemudik yang mengamuk saat disuruh putar balik petugas. Dengan melontarkan kata-kata kasar, pemudik tersebut menolak instruksi polisi untuk putar balik mobilnya.

Melihat fenomena tersebut, pakar psikologi, Melly Puspita Sari memaparkan, apa yang dilakukan oleh para pemudik yang mudik saat lebaran tahun ini, memiliki latar belakangan emosi yang harus dipahami, seperti perasaan rindu terhadap kampung halaman, atau malah merasa frustasi dengan peraturan mudik yang dibuat oleh pemerintah.

"Saya melihat, pemudik bukan hanya marah-marah, tapi ada yang sampai menerobos penyekatan. Di sini kita bisa melihat ada perasaan kecewa, frustasi yang diluapkan oleh pemudik kepada kondisi saat ini, mereka yang marah-marah, saya yakin bukan berasal dari karakter asli dari diri mereka, bisa jadi, tindakan tersebut merupakan bom waktu yang dipendam. Setelah tahun lalu tidak bertemu keluarga saat lebaran, kemudian di tahun ini mereka juga dituntut untuk tidak mudik, tentu ada perasaan tidak bisa menerima. Apalagi kita merupakan bangsa yang secara kultural menjadikan lebaran momen silaturahmi yang sudah menjadi kebiasaan yang melekat," jelas Melly kepada era.id, Kamis (20/5/2021).

Selain rasa frustasi, Melly menilai kalau apa yang dilakukan oleh para pemudik adalah ungkapan marah. Dasarnya, Melly menganggap kalau masyarakat merasa kecewa dengan larangan bepergian tapi di sisi lain WNA bebas masuk ke Indonesia cuma bermodalkan hasil tes negatif COVID-19.

"Bagi saya, ini adalah ungkapan amarah dan rasa kesal dari masyarakat yang memang melakukan mudik, seperti kita ketahui pemerintah memperbolehkan pemudik dengan berbagai syarat, sehingga banyak dari mereka yang bermodal nekat untuk pulang kampung, sedangkan di sisi lain, banyak WN China yang masuk ke Indonesia dengan sangat mudah. Tentu timbul kecemburuan yang memicu mayoritas dari orang Indonesia untuk mudik," jelas Melly.

Katanya, bukan hanya faktor secara psikologi, Melly menganggap ada faktor lain yang membuat para pemudik frustasi, tentu dari perekonomian terjadi selama pandemi, mulai dari PHK, penurunan omzet, sampai perubahan gaya hidup. Untuk itu, dia menilai kalau masyarakat ingin pulang atau mudik karena tekanan ekonomi selama pandemi belum menggeliat.

"Bagi saya, pandemi yang sudah ada selama 2 tahun ini, adalah situasi yang tidak bisa kita tebak, karena saat ini orang mendengar kata pandemi, bukan lagi berfikir itu adalah wabah, tapi bagaimana caranya bertahan hidup, bisa jadi orang yang mudik saat ini, merupakan upaya mereka bertahan hidup, untuk itu mulailah melakukan hal baik dan berfikir out of the box yang positif dan perlu sikap yang bijak, agar kita bisa naik level di mata Tuhan," tutup Melly.