Patah Hati, Sakitnya Raditya Dika Ada Fan Minta Tanda Tangan di Buku Bajakan

ERA.id - Beberapa waktu lalu, media sosial dihebohkan dengan penulis Tere Liye yang mengungkapkan kekesalannya akan pembajakan terhadap bukunya. Mengenai pembajakan buku ini, sebagai seorang penulis, Raditya Dika pun akhirnya angkat bicara.

Selama aktif menjadi seorang penulis, Raditya mengungkapkan bahwa dirinya sering bertemu dengan pembaca yang minta tanda tangan kepadanya tetapi membawa buku bajakan. Menanggapi hal ini, suami dari Annisa Azizah itu biasanya tidak memberikan tanda tangannya.

Raditya Dika soal pembajakan buku (Foto: Screenshoot IG @radityadika)

"Dulu waktu gue masih jadi penulis, setahun sekali tur keliling toko buku seluruh Indonesia buat sesi TTD (gratis). Sempert beberapa kali ada orang yang ngantri dan ternyata bawa buku bajakan dari luar toko, gue gak TTD, langsung minta penerbit tindak lanjuti," tulis Raditya di Instagram Storiesnya.

Melihat buku yang ditulis dengan usaha dan kerja keras dibajak seenaknya, Raditya mengaku merasa sangat kecewa dan patah hati. Ia merasa usaha yang dituangkannya untuk menulis buku sama sekali tak dihargai.

"Tiap ketemu pembaca yang bawa buku bajakan dan minta gue TTD (di toko buku resmi) rasanya patah hati banget. Sedih gmn gitu. Nulis buku prosesnya lama, untuk gue bisa setahun lebih. Kami penulis cuma dapet sedikit bgt dari harga buku, belum pajaknya," ungkap Raditya Dika.

Lebih lanjut, ayah dua anak itu juga mengaku bahwa ia memahami perasaan dari Tere Liye yang marah karena bukunya selalu dibajak. Ia juga cukup kecewa dengan pembaca yang masih memilih untuk membeli buku bajakan.

"Gue memahami orang mungkin ribut soal bahasa yang dipakai Tere Liye ketika marah2 ngomongin pembajakan. Tapi gue juga paham gimana perasaan seorang penulis ketika tahu bukunya secara aktif dibajak, dan harus diakui pembaca yang memeang secara aktif mencari buku bajakan," lanjut Raditya.

Penulis buku Marmut Merah Jambu itu menyampaikan rasa sedihnya karena tidak bisa melakukan tindakan apapun dalam menghadapi masalah ini.

"Betapa sedih, kesal, dan kecewa karena seakan kita emang ga bisa ngapa2in. Pembaca masih mau beli buku bajakan (demand). Pemerintah juga ga aktif memerangi (supply)," tutup Raditya.