Kisah Sedih Alm Aktivis Munir Saat Masuk Hotel Pakai Motor Astrea Bututnya

ERA.id - Kisah hidup aktivis HAM, alm Munir Said Thalib, memang banyak menginspirasi banyak generasi muda saat ini. Namun, ada satu kisah hidupnya yang jarang diketahui khalayak.

Kisah itu bisa membuat kita sedih. Ceritanya begini, dalam semua kesibukannya membela atau mengadvokasi orang-orang yang tertindas, Munir ke mana-mana menunggangi motor Honda Astrea.

Motor Astrea-nya itu sangat sederhana. Begitu juga helmnya, yang jika dipakai sekarang terlihat unik, yakni helm full face merah marun. Ya, helm khas Astrea pada masa 90-an.

Nah, saat memakai motor andalannya itu, suatu kali Munir pergi ke hotel. Bukannya disambut ramah, Munir malah digertak petugas keamanan. Alasannya, Munir nyelonong masuk pelataran hotel berbintang sambil mengendarai sepeda motor.

"Turun! Copot itu helm!" kata mantan Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ikrar Nusa Bakti.

Ikrar menirukan ucapan Munir waktu ditegur satpam. "Motor dilarang masuk ke sini. Kamu tahu aturan tidak?" begitu hardik si petugas keamanan.

Ditegur begitu, Munir tersinggung dan menimpali satpam itu. "Kamu tahu tidak, saya ini tamu, menginap di sini. Ini kunci kamarnya," kata Munir. 

Kepada Ikrar, Munir mengaku marah saat itu. "Saya naik pitam," ujar Ikrar mengulangi pernyataan Munir.

Walau motor itu terlihat butut, Munir sangat mengandalkan Astreanya. Alasannya, Munir orang yang sederhana. Kata teman Munir di Himpunan Mahasiswa Islam, Husein Anis, barulah suami Suciwati itu membeli mobil, sebelum ia meninggal, diracun di pesawat.

"Setahu saya, selama ini Munir selalu naik sepeda motor dari rumahnya di Bekasi atau Jatinegara," ujar Husein.

Cerita soal Munir dan sepeda motor Honda Astrea-nya ini dituturkan Ikrar dan Husein, dalam film dokumenter tentang Munir berjudul Kiri Hijau Kanan Merah. Diproduksi Watchdoc dan KASUM, film menarik ini disutradarai Dandhy Dwi Laksono.

Untuk diketahui, Munir tewas diracun ketika menumpang pesawat Garuda Indonesia pada 7 September 2004. Kala itu, usia Munir 38 tahun dan menjabat sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia, Imparsial.