Kisah Siboen Asal Banyumas, Jadi Kaya karena Youtube, Dikira Pesugihan oleh Tetangga

ERA.id - Karier cemerlang seorang pria bernama Siswanto (38) yang akrab dengan akun YouTube-nya yakni Siboen Chanel, ternyata dicapai dengan langkah yang tidak mudah.

Punya subscriber 1,22 juta subscribers dan 2.032 konten video, ia meraup banyak keuntungan dari sana.

Siswanto sendiri memang sosok yang kreatif. Sebab langkahnya, ia menjadikan Desa Kasegeran, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, sebagai Kampung YouTuber.

Siboen berkisah, dirinya hanya lulusan SD dan bukan berasalah dari kelurga yang berada. Ayahnya seorang pedagang keliling, ibunya pedagang sayur.

Saat kecil, karena kekurangan biaya dan Siboen fokus membantu kedua orang tuanya berjualan, ia akhirnya putus sekolah.

Siboen lulus SD sekitar tahun 1996. Pada 1997, ia mengadu nasib ke Jakarta. Di sana, ia cuma setahun sampai 1998. Ia pun pulang kampung.

Saat kembali tahun 1999, Kepala Desa Kasegeran, Seifudin menyampaikan jika ada program pelatihan gratis untuk anak-anak putus sekolah dan anak-anak tidak mampu.

Siboen pun memanfaatkan program tersebut dengan ikut berangkat mencari ilmu ke Panti Rehabilitasi Antasena di Magelang. Belakangan ia merasa dijebak, karena panti itu dianggap tempat penampungan anak nakal.

"Saya berangkat ke sana, saya tidak tahu kalau Antasena itu panti rehabilitasi anak nakal, jadi saya seperti terjebak sebenarnya. Tetapi saya tidak perdulikan itu, intinya ilmunya," ujarnya, dikutip dari detikcom.

Setahun belajar di panti, Siboen akhirnya menguasai ilmu mekanik otomotif motor sebagai lulusan terbaik se-Indonesia. Semua didasari dari niat awalnya: Belajar.

"Karena ini sudah jalan Tuhan, jadi di sana saya banyak belajar, bahwa kenakalan itu tidak akan berguna jika kita tidak berubah. Tetapi kenakalan itu akan berguna, jika kita manfaatkan kenakalan itu menjadi energi untuk kita menjadi lebih baik, karena orang hebat itu sisa dari kenakalan dan kesalahan," tuturnya.

Siboen pernah diminta bekerja di Yogyakarta hingga Jakarta, namun ia lebih memilih kembali ke desanya untuk membuka bengkel secara mandiri dan menikah.

"Sebelum saya ke YouTube, sudah banyak hal yang saya lakukan untuk cari tambahan penghasilan. Dari cari rongsok, keliling setiap habis bengkel tutup, bawa magnet sambil ngurut jalan, bawa gendong keranjang, kantong plastik, botol plastik saya masukkan tidak mengubah. Kemudian jadi pedagang kedelai petani di kampung. Saya jual keliling, bantu nanti ada hasilnya dibagi, itu juga tidak merubah apa apa," ceritanya.

Hingga akhirnya ia mendengar info dari televisi, jika ada beberapa YouTuber yang sukses dengan pendapatannya. Siboen pun penasaran dan langsung meluncur di Google.

"Akhirnya saya menggali dan saya buka YouTube cara mendapatkan uang dari YouTube. Di situ saya mendapati video tutorial cara menjadi mitra YouTube, saya belajar otodidak dari Google dan juga dari YouTube. Itu yang jadi awal dorongan saya ke YouTube," ujarnya.

Awalnya pada 2016 silam, channel YouTube Siboen Nugroho berisi tentang komedi yang dimainkan oleh anak-anak di desanya. Usai dicoba, channel-nya tidak laku.

"Selama tiga bulan proses pembuatan 5 video komedi ini dan jadi, lalu saya upload ke Siboen Nugroho ini tidak ada minat menonton, warganet tidak ada yang tertarik menonton. Akhirnya saya berhenti membuat konten komedi. Saya berfikir saya tidak berjodoh cari rejeki di YouTube," jelasnya.

Saat itu, Siboen memakai handphone hasil menggadaikan perhiasan milik istrinya, demi membuat konten. Ditekan cicilan HP yang tetap berjalan, Siboen nyaris menyerah.

"Setelah berhenti, dalam kefrustasian konten tidak laku, cicilan handphone masih jalan, di bengkel sepi, saya mulai berfikir lagi, sudah kredit masa tidak dimanfaatkan," lanjutnya.

Ilham datang saat ia tengah menyervis motor. Siboen pun diminta untuk membuka tutorial mesin di YouTube oleh pelanggannya. Namun, karena kerumitan, ia tidak mengerjakannya.

Dari situlah ia berfikir, akan membuat konten otomotif yang mudah dipahami. Dari sinilah, Siboen lalu mendaki tangga popularitas.

"Inspirasi saya main YouTube itu tadi, melihat konten tutorialnya itu susah dimengerti. Saya seorang mekanik saja nonton kesulitan memahami, jadi ada dorongan saya bikin. Di lain sisi kenapa saya terdorong, tadinya ingin punya pendapatan," ucapnya.

Selama enam bulan rajin mengunggah konten, Siboen mulai gajian dari Youtube. Pendapatan awalnya yakni Rp1,8 juta, itu dari dunia digital.

Hingga kini, ia bisa dikatakan berhasil menjadi konten kreator YouTube dengan penghasilan Rp50-150 juta. Hasil tersebut didapat dari akumulasi 10 channel Youtube yang ia kelola sendiri.

Uang itulah yang akhirnya dipakai membeli bangunan kosong seharga Rp450 juta di seberang balai desa, persis tempat awal mula ia mengunggah konten saat awal meniti karier.

"Nah dari situlah mulai ada perkataan tidak enak dari warga sini. Ada yang ngomong saya "nyupang" lah (pesugihan). Karena bisa beli rumah hanya dengan bengkel. Mereka rata-rata belum tahu kalau saya bekerja juga melalui dunia maya. Malah sampai ada orangtua yang melarang anaknya datang ke sini. Katanya takut dijadikan tumbal oleh saya," akunya.

Merasa perlu meluruskan info itu, Siboen pun berbagi ilmu kepada warga sekitar agar bisa mendapatkan penghasilan dari Youtube dengan kontennya masing-masing. Agar tidak ada lagi tuduhan negatif yang ditujukan kepadanya.