Patung Sejarah G30S/PKI Dibongkar, Letjen Dudung: Mantan Pangkostrad AH Nasution Merasa Berdosa Menurut Agamanya

ERA.id - Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letnan Jenderal Dudung Abdurachman angkat bicara menyusul tudingan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.

Dalam sebuah diskusi berjudul TNI vs PKI, Gatot diketahui menyinggung tentang hilangnya diorama peristiwa G30S/PKI di Museum Darma Bhakti Kostrad.

Mantan Panglima TNI itu menuding TNI sudah disusupi oleh PKI mengacu fenomena hilangnya patung diorama tersebut. Dudung menjelaskan patung tiga tokoh di Museum Darma Bhakti Kostrad, yakni Jenderal TNI AH Nasution (Menko KSAB), Mayjen TNI Soeharto (Panglima Kostrad), dan Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo (Komandan RPKAD) memang sebelumnya ada di dalam museum tersebut. Patung tersebut dibuat pada masa Panglima Kostrad Letjen TNI AY Nasution (2011-2012).

"Kini patung tersebut, diambil oleh penggagasnya, Letjen TNI (Purn) AY Nasution yang meminta izin kepada saya selaku Panglima Kostrad saat ini. Saya hargai alasan pribadi Letjen TNI (Purn) AY Nasution, yang merasa berdosa membuat patung-patung tersebut menurut keyakinan agamanya. Jadi, saya tidak bisa menolak permintaan yang bersangkutan," katanya, dalam keterangan tertulis, Senin (27/9).

Jika penarikan tiga patung itu kemudian disimpulkan bahwa TNI melupakan peristiwa sejarah pemberontakan G30S/PKI tahun 1965, Dudung menegaskan itu sama sekali tidak benar.

"Saya dan Letjen TNI (Purn) AY Nasution mempunyai komitmen yang sama tidak akan melupakan peristiwa terbunuhnya para jenderal senior TNI AD dan perwira pertama Kapten Piere Tendean dalam peristiwa itu," sambungnya.

Pernyataan Gatot bahwa TNI AD telah disusupi oleh PKI, menurut Dudung itu merupakan tudingan yang keji terhadap TNI AD.

"Seharusnya Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo selaku senior kami di TNI, terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan bisa menanyakan langsung kepada kami, selaku Panglima Kostrad. Dalam Islam disebut tabayun agar tidak menimbulkan prasangka buruk yang membuat fitnah, dan menimbulkan kegaduhan terhadap umat dan bangsa," katanya.