'Perjamuan Agung' ala Jim Jones di Jonestown, 'Si Tuhan Kematian' dari Surga Sosialis

ERA.id - Pada tahun 1960 hingga 1970-an, Amerika Serikat tengah menghadapi konflik Perang Dingin, juga perang Vietnam. Dalam carut-marut suasana perpolitikan Amerika Serikat, muncullah figur yang mungkin kehadirannya tak kamu inginkan. Ia adalah Jim Jones.

Sosoknya yang nyentrik, karismatik, misterius, tampan, dan memiliki pengikut yang amat loyal, membuat namanya sempat diabadikan menjadi sebuah nama kota di Guyana. Jim Jones bercita-cita memiliki kehidupan masyarakat yang serba sempurna, sebuah dunia yang utopis.

Kharismanya yang terpancarkan membuat pengikutnya begitu loyal dan melekat; ia percaya bahwa dirinya seperti Yesus dengan segala mukjizat-nya. Ia seperti jawaban atas keresahan, Ia dapat menyembuhkan. Sekali terpesona dengan sosoknya, sulit rasanya untuk keluar dari bayang-bayangnya. Jim Jones jawaban dari segalanya.

Di kala itu, isu rasial menjadi suatu isu yang begitu krusial. Ketidakadilan terhadap manusia berkulit hitam terjadi di belahan Amerika Serikat. Mereka dipandang rendah. Saat itu pula, sosok Jim Jones memiliki misi ingin menghilangkan jarak dan sekat-sekat itu.

Semasa kecil, sosoknya kian rapuh; hidup dalam penolakan, kemiskinan, dan keengganan masyarakat. Ia hidup di Indianapolis, dari keluarga kelas pekerja. Ibunya seorang buruh, sering kali bergabung kepada aktivisme kelas pekerja. Jones kecil merasa, seharusnya ia tidak pernah ada di sana. Karena itulah, ia dapat lebih begitu merasakan penderitaan yang dirasakan oleh orang-orang kulit hitam saat itu: penolakan.

Sang ibu tidak menginginkan kehamilan Jones; ia juga kecewa karena ia menjadi seorang ibu. Jones juga tumbuh tanpa dampingan orang tua yang lengkap. Ayahnya sakit-sakitan, sementara ibunya sering tidak berada di rumah, bekerja karena juga dikecam oleh keluarga terdekatnya. Keduanya absen dari masa kecil Jones.

Meski bibinya sering memberikan bantuan, namun Jones biasanya berkeliaran di jalan-jalan kota tanpa orang-orang yang peduli dengan dirinya. Bahkan, ia pernah jalan-jalan telanjang tanpa busana; tiada yang peduli atau memberikan kasih sayang kepada Jones.

Tetangganya pun merasa iba, hingga ia sering kali diminta untuk mampir ke rumah tetangga untuk diberikan makanan, baju, dan hadiah-hadiah lainnya.

Sering kali, Jones kecil menginap ke rumah keluarga Kennedy, di mana sang suami merupakan pastor dari Gereja Nazarene dan menganggap Jones spesial. Jones sering diajak ke gereja, memberi tahu kode suci Gereja Nazarene dan memberikannya sebuah kitab injil serta memintanya untuk mempelajarinya.

Sampailah ketika ia bergabung ke Gereja Pentakosta. Jim Jones menemukan apa yang didamba-dambakannya selama ini: sebuah penerimaan, pengakuan. Keinginan Jones untuk menjadi pendeta pun lahir dari sini. Pendeta terasa begitu didengarkan memiliki panggung dan waktu yang cukup lama, sehingga dapat ‘mencerahkan’ pendengarnya.

Dalam situasi yang penuh dengan isu rasial, ia tampil berbeda. Puluhan, ratusan orang tergugah oleh kata-kata yang diucapkannya di depan mikrofon. Ucapannya bukan sekedar kata-kata belaka, ia berdansa bersama gestur tubuhnya; matanya seperti berapi-api, meski terhalang kacamata hitam. Ia semakin mendapatkan pengakuan dan pengaruh.

Jones juga menciptakan sebuah perkumpulan yang terasa sulit sekaligus indah di kala itu. Gerejanya penuh warna, tidak hanya orang-orang dengan ras kulit putih saja. Setiap tempat duduknya berselang-seling manusia dengan berbagai ras warna. Seseorang berkulit hitam, berpelukan dengan kulit putih merupakan pemandangan langka di tahun itu.

Gerakannya juga masif. Ia membuat dapur umum, kemudian rehabilitasi untuk pecandu narkoba, ada semacam panti jompo untuk orang tua yang ingin tinggal di sana. Belum lagi rumah untuk orang yang tidak punya rumah, tempat penitipan anak, klinik, dan banyak lainnya.

Orang-orang yang tergabung dalam perkumpulan Jones, Peoples Temple, adalah orang-orang baik yang ingin melakukan kebaikan, dan menyebarkan kebaikan. Tepatnya, agen perubahan untuk situasi Amerika yang tengah berhadapan dengan isu ras.

Karena itulah, pelan-pelan, ia seperti jawaban atas muramnya masyarakat pada saat itu. Ia menjadi memiliki banyak pengikut loyal yang memiliki visi dan misi yang sama. Jones juga memberi validasi, peduli kepada orang yang terpinggirkan.

Tak hanya dalam organisasi, tapi dalam keluarganya pun begitu. Ia menciptakan apa yang dinamakan dengan The Rainbow Family. Jones dan sang istri Marcelline, mengadopsi anak angkat dari orang Korea, keturunan Afrika-Amerika yang diberi nama Jim Jones Jr., di mana saat itu tak lazim seorang Kaukasian mengadopsi orang berkulit hitam. Jones ingin ini menjadi sebuah refleksi, bahwa seperti inilah dunia seharusnya, bersatu dalam keberagaman. Kemudian lahir julukan untuk Jim Jones, “The Hero of the Cause”.

***

Jones menerima Martin Luther King, Jr. Humanitarian Award dari Glide Memorial Church. (Foto: Nancy Wong)

Tak bisa dipungkiri, ia manusia dengan sejuta talenta. Jones bermain pada dua sisi koin: baik dan buruk. Ia seorang komunikator ulung, meracik pesan dengan apa yang ingin pendengarnya dengar. Karena itu juga, ia seorang predator ulung. Dirinya begitu fasih dengan cara-cara persuasif untuk membius orang mengikuti kemauannya.

Mangsa-mangsanya pun tidak melihat gender. Ia melakukan seks dengan perempuan dan laki-laki, meski di beberapa kesempatan Jones mengatakan bahwa ia sebenarnya tidak ingin melakukannya. Tapi ia tetap harus melakukannya.

Secara kontradiksi, ia melakukan hubungan seksual dengan siapa pun yang menurutnya menarik dan tidak ada yang bisa menolak ke Jim Jones. Seks adalah cara yang dilakukan bukan hanya untuk kepuasan seksualnya saja, tapi untuk mengontrol orang-orang tidak hanya secara sosial, tetapi juga seksual dan pikirannya.

“Aku melakukannya untuk sosialisme,” ujar Jim Jones yang rekamannya ERA.id kutip dari tayangan ABC News bertajuk Jonestown.

Perlahan, popularitasnya kian melejit tak terbendung. Tema dalam ceramahnya mulai menghilangkan ajaran-ajaran injil; beralih kepada aktivisme sosial, meski ia sendiri menolak dihubungkan dengan aktivisme hak asasi. 

Jones mengaku sebagai nabi. Ialah juru selamat yang akan menuntunmu, melindungimu, dan memperhatikanmu, jika kamu adalah pengikutnya yang setia. Bahkan, ia merasa lebih dari seorang nabi; ialah Tuhan, ialah titisan Kristus.

"Banyak orang bilang mereka melihat ada Tuhan di tubuhku. Mereka melihat Kristus pada diriku," ujar Jones.

Di puncak ketenarannya, sang ‘bapa’ bagi pengikut setianya ini terkena tuduhan serius melakukan kekerasan secara fisik dan seksual kepada mantan pengikutnya, pengendali pikiran, hingga tindakan pemaksaan untuk menggunakan narkoba. Hal ini membuat media Amerika tertarik untuk menginvestigasi tuduhan-tuduhan yang mengarah pada Jones.

Berbanding terbalik dengan Jones yang dulu sempat membuat panti rehabilitasi narkoba, kini ia malah yang terjerumus mengonsumsi narkoba. Tindakannya semakin tidak rasional. Ia kecanduan dengan seks, obat-obatan, dan kekuatan.

Jim Jones benci kesendirian. Ia takut untuk ditinggalkan, ia paham rasa sakit akibat ditinggalkan. Karenanya, ia benci ketika orang mau keluar dari gerejanya. Ia melakukan segala cara untuk tetap mengontrol banyak orang, hingga kepada tindakan blackmailing. Dirinya semakin candu akan kontrol terhadap orang lain.

Tidak jarang ia dapat membuat konflik antar orang-orang yang sudah menikah di komunitasnya. Jones membuat seorang suami bertengkar dengan istrinya, begitu sebaliknya. Pun, ia juga membuat orang bertengkar satu sama lain hingga sampailah kamu tidak dapat mempercayai keluargamu sendiri. Bahkan efeknya banyak yang bercerai.

Kegilaannya akan kekuatan diimplementasikan dalam penerapan hukuman. Dari yang awalnya menulis dosa-dosanya dalam selembar kertas, hingga kepada hukuman di depan publik. Suatu ketika dalam perjamuan rapat yang terekam tape, Jones berteriak memanggil nama orang yang bersalah tersebut dan diminta menghadap.

Ironinya, para peserta rapat itu bersahut-sahutan, mendukung tindakan Jones yang tengah mempermalukan orang itu di tengah-tengah banyak orang, mempermalukan harkat dan martabat seseorang.

Hukuman pemukulan ini dilakukan hingga orang yang dianggap melanggar berdarah-darah. Apa yang dilakukan Jim Jones? Tertawa terbahak-bahak senang, sementara orang yang dianggap melanggar itu meringis kesakitan. Ia bahkan mengatakan sambil tertawa bahwa orang yang tengah dipukul itu badannya sudah membiru, sementara yang berkulit hitam masih saja hitam.

Kemudian, apakah orang-orang yang dihukum ini kemudian memberontak? Tidak. Mereka malah berusaha untuk memperbaiki diri agar kejadian ini tidak kembali terulang.

Jones juga bisa membuat orang berbohong hanya untuk membuktikan omongannya sendiri. Ia membuat orang mengakui dosa yang orang itu tidak lakukan, hingga orang tuanya entah mengapa mau menandatangani suratnya. Sesi penyembuhan iman yang ia lakukan juga sebuah kebohongan belaka. Itu adalah aksi teatrikal. 

Jones meminta jemaahnya yang disabilitas untuk mendengarkan instruksinya dari atas mimbar. Jemaahnya yang disabilitas ini seorang nenek-nenek yang duduk di kursi roda.

“Coba kamu perlahan berdiri. Ayo, berdiri, kemudian jalan pelan-pelan.” ujar Jones dalam mimbar, dikutip dari tayangan ABC News berjudul Jonestown. Nenek itu kemudian berdiri perlahan-lahan mengikuti perintah Jones, melangkahkan langkah kecil sedikit demi sedikit, hingga tiba-tiba ia dapat berlari.

Diketahui, ternyata nenek itu adalah sekretaris Jones.

***

Gerbang menuju Jonestown. (Foto: Jonestown Institute)

Di tahun 1977, ia pindah dari San Fransisco menuju Guyana, sebuah negara di Selatan Amerika bersama ratusan pengikutnya, membangun ‘komunitas’ di tengah-tengah hutan, 150 mil jauhnya dari ibu kota Georgetown.

Peoples Temple membangun tempat baru ini dengan harapan menjadi sebuah surga sosialis di bumi, yang disebut dengan Jonestown. Ya, tidak lain dan tidak bukan diambil dari sang pemimpin kharismatik ini: Jim Jones.

Jones memilih Guyana karena negara ini satu-satunya negara Amerika Selatan yang berbahasa inggris dengan harga tanah yang murah, serta memiliki latar belakang yang dekat dengan dunia sosialis. Ia mencari tempat di mana ia tak tersentuh, jauh dari hiruk-pikuk, akses yang sulit, sehingga semakin jadilah ia mengontrol semua kehidupan di sana.

Hutan itu dibakar, digusur, pengikut Jim Jones bekerja keras membangun peradaban kecil di Jonestown. Mereka kini memiliki nyaris semuanya sendiri. Sekolah, Rumah Sakit, peternakan, pertanian, dan apa pun itu untuk dinikmati bersama. Hutan rimba yang bertransformasi menjadi sebuah kota kecil impian Jones, yang disebutnya sebagai surga sosialis.

Meski sudah jauh dari peradaban, ia masih begitu paranoid suatu saat Jonestown akan diserbu oleh pemerintah Amerika Serikat. Ia membuat suatu kode untuk memanggil pasukannya, yakni “White Nights”. Jika kode itu dibunyikan Jim Jones, mestinya menurut Jones tengah ada bahaya yang akan menghampiri.

Perumahan di Jonestown. (Foto: Fielding McGehee and Rebecca Moore)

***

Pernah kah terbayang dalam hidupmu, bahwa satu hari bisa merubah segalanya? Begitulah yang terjadi pada 18 November 1978. Tragedi Jim Jones bukanlah tragedi biasa. Ada sebuah alasan mengapa kasus ini begitu beda, begitu luar biasa, begitu fantastis. Tragedi 18 November 1978 menjadi rekor ironis dalam sejarah manusia.

 

Setiap harinya, ia hidup dengan perasaan bahwa ia adalah seorang penipu ulung. Ia tahu bahwa dirinya adalah orang jahat. Hanya saja, dia tidak ingin orang lain tahu bahwa ia adalah orang jahat.

 

Ironinya, Jim Jones sudah latihan untuk bunuh diri masal ini. Di tahun 1973, ia mengumpulkan beberapa orang dan meminta semua orang di situ untuk minum bersama, mereplika perjamuan kudus.

 

Lima menit kemudian, Jones mengatakan, “Kamu semua sudah diracun, kamu punya sisa satu jam untuk hidup.”

Orang-orang terdekatnya kaget dan saling melihat satu sama lain. Keheningan kemudian pecah ketika ia tertawa seraya berkata, "Ini cuma bercanda,” ujarnya. “Kamu semua lulus tesnya, aku tahu kamu loyal kepada kami.”

“Aku berbicara tentang rencana kematianmu untuk kemenangan rakyat,” ujar Jones. “Untuk sosialisme, untuk komunisme, untuk pembebasan orang berkulit hitam, untuk pembebasan orang-orang yang telah tertindas.”

Jones kemudian berpikir, “Bagaimana jika kita bunuh diri untuk mendapatkan perhatian, untuk memprotes kapitalisme dan dalam rangka mendukung sosialisme? Bagaimana pendapatmu soal ini?”

Menurutnya, mungkin kita bisa melompat dari Golden Gate Bridge, mungkin juga membawa jamaah menaiki pesawat kemudian menembak sang pilot, dan terjadilah bunuh diri, ataupun pindah tempat yang amat jauh.

Anggota Kongres Leo Ryan (Foto: Kongres Amerika)

14 November 1978, anggota kongres Amerika, Leo Ryan, terbang ke Guyana untuk mencari bukti-bukti dan menginvestigasi laporan tentang kekerasan yang terjadi di Peoples Temple. Beberapa orang ‘penghianat’ Jim Jones turut menemani Ryan ke Guyana. Tak hanya itu, media pun turut ingin meliput perjalanan ke Guyana, melibatkan Don Harris dari stasiun televisi NBC, juga Tim Reiterman, jurnalis Los Angeles Times, untuk turut membuktikan, apakah tuduhan terhadap Jones itu benar.

Misi lainnya adalah, jika ada kerabat dari mantan pengikut Peoples Temple ingin pulang ke Amerika, Leo Ryan siap membantu sebisa mungkin untuk memulangkannya, bersiap menghadapi resiko-resiko yang hadir. Rombongan Leo Ryan tidak langsung disambut. Ia terkena penolakan-penolakan, hingga baru bisa menyambangi Jonestown satu hari sebelum tragedi besar, 17 November 1978.

Dari Amerika, ia terbang menuju Guyana, ingin menolong rakyatnya yang berada di Jonestown. Ia menjadi pelindung, dan tiket untuk para ‘penghianat’ ini tetap hidup, dan bebas dari Jonestown. Ia bertanya-tanya mengenai bagaimana kehidupan banyak orang di Jonestown.

Rombongan Leo Ryan disambut dengan cukup meriah, tarian-tarian dan sambutan hangat dari warga.

Warga di sana sudah latihan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para jurnalis. Mereka menjawab bahwa kehidupan di Jonestown adalah kehidupan surgawi, penuh kedamaian, penuh cinta dan persaudaraan. Meski begitu, Vernon Gosney, salah satu pengikut Peoples Temple yang ingin keluar dari sana memberi kode kepada orang yang dikiranya adalah Leo Ryan. Ia menjatuhkan sebuah kertas catatan permintaan tolong dan memberikannya ke orang tersebut.

Ia baru tahu kalau orang itu bukanlah anggota kongres Leo Ryan. Meski sempat gugup takut ia merupakan orang Jim Jones yang menyusup, tapi ternyata harapannya tak sirna. Orang yang diberikan pesan itu memberikan kertas tersebut kepada Leo Ryan. Sehingga ketika Ryan menyelesaikan pidatonya, ia langsung menghampiri Vernon Gosney. Ia memperingati bahwa Leo Ryan harus pergi sekarang juga, karena ancaman dari Jones begitu nyata. 

Rasanya, tak mungkin Jim Jones membiarkan orang pergi begitu saja. Tapi, Leo Ryan tetap gigih ingin pergi besok, sekaligus membawa orang-orang yang ingin keluar dari Jonestown.

Hari pun berganti, menuju detik-detik tragedi mengenaskan ini. Pagi itu terasa seperti pagi lainnya. Leo Ryan beserta rombongannya dibawa keliling Jonestown oleh Marcelline, istri Jim, dan cukup terkesan dengan kota kecil yang dibangun dengan waktu yang relatif singkat.

Marcelline Jones, istri dari Jim Jones.

Leo Ryan dan rombongan bersiap untuk kembali ke Amerika. Ia membantu Vernon Gosney yang kamarnya dijaga pasukan khusus Jonestown untuk dipersekusi karena ingin keluar dari Jonestown. Teriakan minta tolong pun bergema membuat dua orang penghianat menjadi lima belas orang yang menginginkan keluar dari Jonestown, tapi hal ini membuat Jim Jones amat marah.

Gosney secara tiba-tiba dihampiri oleh Jones. “Jangan bicara pada orang-orang itu, mereka semua pembohong.”

Ia pun menanyakan apakah benar bahwa ia ingin keluar dari Jonestown. Jones menerima dan menyodorkan sebuah surat yang harus ditandatangani oleh Gosney yaitu anaknya yang masih kecil harus tetap tinggal di Jonestown. Gosney pun menandatangani surat itu, dan itulah penyesalan terbesar yang pernah ia lakukan.

Di detik-detik terakhir sebelum angkat kaki dari Jonestown, jurnalis NBC menyempatkan untuk mewawancarai Jim Jones mengenai tuduhan adanya senjata api ketika pertemuan-pertemuan dilakukan, “Aku secara tegas melarang adanya senjata. Kalau mereka memiliki senjata, mereka harus menembakku terlebih dahulu.”

“Aku sudah mendedikasikan hidupku untuk rakyat, untuk melayani rakyatku,” ujarnya. “Bisa kah kamu pergi meninggalkan kami sendiri?”

“Penghianat, dasar penghianat!” teriak warga Jonestown seraya para ‘penghianat’ pergi meninggalkan Jonestown menuju truk arah bandara.

“Datanglah kapan pun kamu mau,” ujar Jim Jones mengantar ‘penghianat’ Vernon Gosney ke dalam truk menuju bandara. “Kamu selalu diterima di sini.”

Jones pun meminta orang kepercayaannya, Larry Layton, untuk turut menyusup ke dalam rombongan ‘penghianat’. Ia tersenyum simpul saat tahu orangnya sudah masuk ke dalam rombongan, sementara Leo Ryan masih berdiskusi menenangkan Jim Jones yang tetap terlihat gusar.

“Ini hanya lima belas orang, bukan 400 orang,” ujar Leo Ryan. “Aku juga akan gusar jika 400 orang yang pergi, tapi ini enam puluh orang yang aku tanya mereka bahagia di sini, dan inilah jawaban yang akan aku berikan ke kongres.”

Sontak, seorang rekan Jim Jones mengacungkan pisau ke leher Leo Ryan hingga ia tersungkur dan darah orang yang sengaja terkena pisau pun membekas di kemeja putih Leo Ryan. Ia langsung lari menyusul rombongan truk yang akan pergi ke bandara, dan tidak membawa beberapa orang yang masih tersisa untuk pergi kembali ke Amerika.

Tapi, ia tak pernah kembali. Ia mati ditembak di bandara Port Kaituma oleh orang-orang Jim Jones bersama jurnalis-jurnalis yang menemaninya. Kamera milik NBC pun masih sempat menyiarkan sekitar satu menit kejadian berdarah di bandara tersebut, meski sang juru kamera telah tertembak. Beberapa orang pun berusaha melarikan diri dari tembakan jebakan di bandara itu.

Secara cepat Jones pun memerintahkan pasukan khususnya untuk mencampur minuman berasa buah dalam bak dengan segala racun yang tersedia di sana, salah satunya sianida dengan dosis tinggi.

***

Regu bersenjata dari bandara pun kembali hadir ke Jonestown, membawa kabar kepada Jones di mimbarnya, bahwa rombongan Leo Ryan sudah mati. “Semuanya sudah selesai, anggota kongres Leo Ryan sudah dibunuh.” ujar Jim Jones di atas mimbar, mengumumkan kepada rakyatnya.

‘Revolusi’ pun dilaksanakan dengan segera. Tebak siapa yang meminum racun pertama kali? Anak-anak. Keengganan, tangisan, teriakan permohonan untuk hidup dari anak-anak tak lagi digubris. Jika kamu tidak mau minum, kamu akan dipaksa, atau bahkan disuntikkan.

“Tanggalkan kehidupanmu dengan kehormatan diri, jangan tanggalkan kehidupanmu dengan tangisan dan rasa sakit,” ujar Jim Jones dalam rekaman terakhirnya sebelum ia juga meninggal. “Sudah kubilang, aku nggak peduli berapa banyak teriakan yang kamu dengar, aku nggak peduli dengan banyaknya tangisan sedih yang kamu dengar, kematian sejuta kali lebih baik daripada kehidupan sepuluh hari lagi.”

“Kalau kamu tahu apa yang akan kamu langkahi, kamu akan bangga sudah melewatinya,” lanjutnya. “Kalau kita tidak bisa hidup dengan damai, marilah kita mati dengan damai.”

“Kita bukan melakukan bunuh diri, kita melakukan protes bunuh diri yang revolusioner dari kondisi dunia yang tidak manusiawi,” tutup Jones.

Ratusan orang meminum racun berbentuk minuman perasa dalam gelas styrofoam, merasakan kesakitan luar biasa menuju ajal yang tidak biasa, mati perlahan-lahan dalam kesia-siaan. Jim hanya menatap pengikutnya mati perlahan, tapi ia memilih untuk mati dengan cara yang lebih cepat: ditembak.

Hari itu, mayat bergelimpangan, tempat ini menjadi sunyi. Tubuh tanpa nyawa sebanyak 918 orang meninggal sia-sia; dengan diantaranya 304 orang merupakan anak-anak polos yang belum mengenal dunia.

Tak hanya itu, pengikut Jones yang berada di Georgetown juga melakukan misi serupa. Sang ibu dan anaknya yang telah dewasa membunuh dua anak lainnya yang masih kecil, kemudian saling menggorok leher satu sama lain untuk menjalankan misi ini.

Korban Jonestown, beserta bak minuman beracun. (Foto) Frank Johnston/AP Images)

***

Larry Layton, penembak rombongan Leo Ryan di bandara dipenjara selama 18 tahun, dan bebas dari penjara pada April 2002. Beberapa orang yang kabur dari bandara Port Kaituma masih hidup hingga sekarang, termasuk jurnalis Tim Reiterman, Vernon Gosney, anak dari Jim Jones, Stephan Jones, beberapa pembelot, juga beberapa orang yang masih ada di Jonestown. Beberapa kabur ke hutan, ada juga yang mengumpat di bawah tempat tidur, yaitu Hyacinth Thrash.

Tragedi Jonestown sering kali diasosiasikan sebagai tragedi bunuh diri; namun kini lebih sering menggunakan term tragedi pembunuhan massal. Inilah kisah Jim Jones dengan segala kompleksitasnya. Ialah ‘Tuhan’ dari surga sosialis.