Alasan Pemerintah Hanya Suntik Setengah Dosis untuk Vaksin Booster: Efek Samping Lebih Ringan

ERA.id - Pemerintah menggunakan skema heterologous untuk digunakan dalam progam vaksinasi Covid-19 dosis ketiga atau booster. Selain itu, seluruh vaksin booster diberikan sebanyak setengah dosis.

Adapun yang dimaksud dengan skema heterologous yaitu pemeberian dosis ketiga menggunakan merek vaksin yang berbeda dengan dosis 1-2.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, berdasarkan hasil penelitian dari dalam maupun luar negeri menunjukkan, skema heterologous mampu meningkatkan antibodi lebih baik ketimbang skema homologous atau pemberian dosis 1-3 menggunakan merek vaksin yang sama.

"Beberapa penelitian dalam dan luar negeri sudah menunjukan bahwa vaksin booster heterolog atau vaksin dengan kombinasi yang berbeda, menunjukan peningkatan antibodi yang relatif sama atau lebih baik dari vaksin booster homolog," kata Budi dalam konferensi pers yang disiarkan di kanal YouTube Kemenkes RI, Selasa (11/1/2022).

Budi juga mengatakan, pemberian vaksin booster setengah dosis juga berdampak pada peningkatan antibodi. Selain itu, dengan pemberian setengah dosis dapat mengurangi dampak Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) alias efek samping.

Hal tersebut berdasarkan hasil riset dari tim peneliti dari luar negeri dan dalam negeri.

"Hasil penelitian dalam dan luar negeri termasuk yang dilakukan tim Indonesia menunjukan, setengah dosis itu level antibodi yang relatif sama atau lebih baik dari vaksin booster dosis penuh, dan memberikan dampak KIPI yang lebih ringan," papar Budi.

Menurutnya, penggunaan skema dan dosis vaksin booster yang ditetapkan pemerintah ini sudah sesuai dengan rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Budi mengatakan, WHO memberikan rekomendasi pemberiaan vaksinasi booster dengan dua macam skema dan pelaksanannya dibebasan kepada masing-masing negara yang melakukan program vaksinasi booster.

"Hal ini kembali diberikan keleluasaan masing-masing negara untuk bisa menerapkan vaksin booster yang sesuai dengan kondisi ketersediaan dan logistik sesuai dengan masing-masing negara pelaksana pemberian vaksin booster," kata Budi.

Untuk diketahui, program vaksinasi booster akan mulai dilaksanakan pada 12 Januari 2022 dan diprioritaskan bagi kelompok lansia serta rentan.

Berdasarkan arahan Presiden Joko Widodo, vaksinasi booster diberikan secara gratis bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Adapun untuk tahap awal, pemerintah menetapkan tiga alternatif kombinasi vaksin booster. Yaitu kombinasi vaksin Sinovac dengan Pfizer setengah dosis, Vaksin Sinovac dengan AstraZeneca setengah dosis, dan Vaksin AstraZeneca dengan Moderna setengah dosis.