Profil dan Karya Remy Sylado: Mulai dari Wartawan hingga Produktif Menulis Sastra

| 12 Dec 2022 18:02
Profil dan Karya Remy Sylado: Mulai dari Wartawan hingga Produktif Menulis Sastra
Remy Sylado (Twitter - Ilham Khoiri)

ERA.id - Salah satu tokoh sastra kebanggaan Indonesia Remy Sylado meninggal dunia pada 12 Desember 2022. Beberapa dekade berkiprah di dunia seni dan sastra, berikut ini profil dan karya Remy Sylado yang monumental.

Sebelum meninggal Remy Sylado diketahui sakit stroke (Twitter)

Nama asli Remy Sylado adalah Yapi Panda Abdiel Tambayong yang lahir pada 12 Juli 1945. Remy Sylado adalah seniman multitalenta yang merupakan seorang penulis, aktor, dan musisi.

Profil dan Karya Remy Sylado

Berikut ini ERA rangkum mengenai biografi dan beberapa karya Remy Sylado sepanjang hidupnya:

  1. Remy Sylado Bukan Nama Sebenarnya

“Sylado” sendiri dikenal dengan berbagai nama samaran. Menariknya nama Remy Sylado, diambil dari nada pembuka lagu The Beatles "And I Love Her", yang jika diterjemahkan sebagai "Re Mi Si La Do".

Dilansir dari The Jakarta Post, nama julukan Remy Sylado (nada dalam angka 23761) juga mewakili tanggal ciuman pertamanya yaitu 23 Juli 1961. Menariknya Sylado juga menerbitkan karya dengan nama samaran di antaranya Dova Zila, Alif Danya Munsyi, dan Juliana C. Panda.

  1. Biografi Remy Sylado

Sylado lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 12 Juli 1945. Ayah Remy bernama Johannes Tambayong merupakan seorang penginjil dan juga penggubah musik. Remy muda kemudian pindah ke Semarang, Jawa Tengah pada usia sekolah dasar.

Sejak usia muda, Remy sudah menunjukkan ketertarikannya pada teater dan menulis drama panggung pertamanya saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Jika pendidikan awalnya seluruhnya di sekolah Katolik, Sylado mulai belajar di sekolah menengah atas seni teater di Surakarta dan Jakarta.

  1. Karir dan Karya Awal Remy Sylado

Pada awal 1960-an Sylado telah menjadi reporter di harian Tempo yang berbasis di Semarang dan menjadi pemimpin redaksi pada tahun 1965.

Remy Sylado adalah pelopor puisi mbeling (Twitter)

Kemudian pada tahun 1970-an Sylado tinggal di Bandung dan mengelola majalah Aktuil sambil mengajar di Akademi Sinematografi Bandung. Ia pertama kali terjun ke industri film pada tahun 1973 dengan menangani musik untuk Pelarian Frans Totok Ars, hingga pada tahun 1976 ia menikah dengan Maria Louise.

Kemudian pada tahun 1977 Sylado menulis dua film lagi yaitu Duo Kribo dan Ombaknya Laut Mabuknya Cinta (1978). Menjelang akhir 1970-an, Sylado dikenal karena puisinya, yang disebutnya mbeling: kritis namun lucu, bahkan kurang ajar.

Menurut kritikus sastra Sapardi Djoko Damono, "Banyak penyair yang terinspirasi oleh ide mbeling; itu melanggar konvensi puisi yang ada saat itu." Pada waktu luangnya, Sylado mulai menulis novel dan menerbitkan karyanya yang pertama—Gali Lobang Gila Lobang—pada tahun 1977.

Kemudian Sylado pindah ke Jakarta pada awal tahun 1980-an dan membentuk kelompok teaternya sendiri, dengan beberapa aktor diambil dari W. S. Rendra. Pada 1980-an, karya musik Sylado telah ditampilkan di 13 album berbeda, beberapa lagu dengan vokal Sylado, yang lain dengan musisi lain.

Lagu-lagu Sylado cenderung condong ke arah musik rakyat. Musisi Harry Roesli belajar di bawahnya. Ia memulai karir akting filmnya pada tahun 1986, dengan Tinggal Sesaat Lagi karya Eduart P Sirait. Pada tahun 1992 dia telah berakting di lima film lainnya dan kemudian berakting di serial televisi.

  1. Novel Ca Bau Kan Rilis

Pada tahun 1999 Sylado menerbitkan novel Ca Bau Kan (The Courtesan) yang membahas cobaan dan kesengsaraan orang Indonesia Tionghoa di Indonesia pra-kemerdekaan.

Pada tahun 2001 Nia Dinata mengadaptasi novel tersebut untuk film fitur pertamanya. Berjudul Ca-bau-kan, film tersebut mendapat sorotan kritis. Diketahui antara 1999 dan 2007 Sylado menulis rata-rata dua novel setiap tahun.

  1. Keunikan Remy Sylado

Salah satu yang membuat Sylado terkenal karena selalu mengenakan pakaian putih eksklusif. Ia juga dikenal sangat teliti dalam meneliti novel-novelnya, bahkan harus pergi ke Belanda untuk meneliti novelnya tahun 2003 yang berjudul Paris van Java.

Keunikan lainnya adalah Sylado selalu menggunakan mesin tik alih-alih komputer (menulis draf dengan tangan). Selain itu, Sylado biasanya menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, seringkali dalam waktu kurang dari tiga bulan.

Selain profil dan karya Remy Sylado, ikuti artikel-artikel menarik lainnya juga ya. Kalo kamu ingin tahu informasi menarik lainnya, jangan ketinggalan pantau terus kabar terupdate dari ERA dan follow semua akun sosial medianya! Bikin Paham, Bikin Nyaman

Rekomendasi