Mengenang Rosihan Anwar, Wartawan Lintas Zaman yang Absen Saat Proklamasi karena Mengidap Malaria

Tim Editor

Rosihan Anwar (Wikimedia Commons)

ERA.id - Tepat hari ini, 10 Mei 2022, Rosihan Anwar masuk 1 abad. Ia lahir pada 10 Mei 1922. Rosihan salah satu dari sedikit tokoh Indonesia yang melintasi beberapa zaman: zaman penjajahan Belanda, Jepang, pemerintahan Soekarno, Orde Baru, hingga Reformasi. 

Pada 14 April 2011, pukul 08.15 pagi WIB, ia meninggal dunia di Rumah Sakit Metropolitan Media Center (MMC) Jakarta dalam usia 89 tahun.

Rosihan memulai karier jurnalistiknya sebagai reporter di Asia Raya masa pendudukan Jepang tahun 1943. Di tahun 1945—1946, ia menjadi redaktur Harian Merdeka. Ia juga pendiri sekaligus pernah menjadi pemimpin redaksi majalah Siasat (1947—1957) dan Harian Pedoman (1948—1961 dan 1968—1974).

Tidak hanya menulis untuk koran, Rosihan juga melahirkan banyak buku. Misal, buku terakhirnya, Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia: Jilid 1—4.

Kawan-kawannya menyebut Rosihan Anwar adalah seorang pejuang kemerdekaan, pemikir, pelaku dan pencatat sejarah, serta guru para wartawan. Banyak yang menjadikannya sebagai sosok teladan.

Rosihan Anwar (kanan) berbincang dengan Jakob Oetama (Pendiri Harian Kompas) (KOMPAS)

 

Menurut Pradipta Pandu Mustika, dalam tulisannya “Seabad Rosihan Anwar, Sang Guru Pemberi Warna Pers Indonesia", Kompas, 9 Mei 2022, “Sematan itu memang tak berlebihan. Sebagai seorang yang lahir pada 10 Mei 1922, Rosihan memang pantas dipandang sebagai pejuang kemerdekaan karena telah menjadi wartawan pada usia 20 tahun pada masa pendudukan Jepang. Sejak saat itulah, Rosihan turut berjuang membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan lewat berbagai liputan dan tulisannya.”

Karier Rosihan tidak mulus-mulus saja, ia juga melewati rintangan dari para penguasa. Misal, pada 1974, setelah Peristiwa Malari, Pedoman dilarang terbit oleh pemerintah Soeharto. 

Karena ia sudah gandrung akan profesi wartawan, larangan itu tidak menghalanginya terus menulis. Ia menjadi wartawan lepas media dalam maupun luar negeri. Media luar seperti Asia Week (Hong Kong), The Straits Time (Singapura), New Straits Time (Malaysia), The Hindustan Times (India), Het Vriye Volk (Belanda), dan The Melbourne Age (Australia).

Ketika memimpin redaksi Pedoman, Rosihan masih menyempatkan masuk ke pelosok Wonosari, Yogkarta, bersama Letkol Soeharto dan fotografer IPPHOS Frans Mendu. Mereka mendatangi Jenderal Sudirman, Panglima Besar TNI yang bergerilya pasca Agresi Militer Belanda II.

Gerilya itu berakhir setelah meneken perjanjian Roem-Roijen pada 7 Mei 1949. Para gerilyawan akhirnya turunkan senjata. Tanggal 7 Juli 1949, Rosihan, Soeharto, dan Frans Mendu tiba di tempat Jenderal Sudirman. Ketika bertemu dengan Rosihan, Sudirman berucap, “Saudara Rosihan adalah wartawan Republik yang pertama saya temui pada masa bergerilya ini."

Wawancara eksklusif antara Rosihan dan Sudirman itu menjadi berita besar karena publik telah mengetahui sikap Sang Panglima Besar yang siap mengikuti haluan politik Soekarno-Hatta.

 

Rosihan Anwar (ANTARA)

 

Rosihan karib dengan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Dalam bukunya, Kisah-Kisah Jakarta setelah Proklamasi (Pustaka Jaya, 1977), Rosihan mengisahkan satu perjalanannya bersama Soekarno (sebagai presiden), Mohammad Hatta (wakil presiden), dan Sutan Sjahrir (perdana menteri). 

Mereka berangkat pada 16 Desember 1945 pukul 7.45 malam menumpang kereta api istimewa menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Rosihan naik kereta tersebut di stasiun Manggarai. 

Kata Rosihan, “Mengapa kami berangkat dari Manggarai? Lima hari sebelumnya stasiun kereta api di Priok dan di Kota diduduki oleh Inggris dan NICA.” 

Banyak mementum penting dihadiri oleh Rosihan Anwar, tetapi ada satu peristiwa sangat penting yang luput olehnya, yaitu ketika proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. 

Sebelum hari sakral itu terjadi, Rosihan pergi ke Sukabumi untuk berobat dan tetirah di rumah dr. Abu Hanifah, seorang kepala rumah sakit. Penyakit malaria tropika Rosihan sedang kambuh. Di zaman pendudukan Jepang, obat-obatan susah ditemukan. 

Dr. Abu Hanifah punya persediaan obat. Ia diundang oleh dr. Abu untuk beristirahat di Sukabumi. Menurut Rosihan, dr. Abu sudah menjadi abang jadi ia tidak bisa menolak ajakan tersebut.

Tanggal 18 Agustus 1945, Rosihan kembali ke Jakarta. Ia langsung menuju ke rumahnya di Jalan Kramat. Melihat di jalan-jalan lampu pada mati, Rosihan berujar “Saya juga dalam semacam kusyuu dalam kegelapan, tiada tahu apaa yang terjadi di Jakarta.”

Tag: Rosihan Anwar

Bagikan: