Mengenal Hutan Larangan di Kampung Adat Cireundeu

| 22 Feb 2023 12:58
Mengenal Hutan Larangan di Kampung Adat Cireundeu
Pengunjung Hutan Larangan di Kampung Adat Cireundeu (Reza Deny/Era.id)

ERA.id - Kampung Adat Cireundeu di Kota Cimahi memiliki hutan keramat dan mitos yang masih dipercaya hingga kini. Ada larangan dan pantangannya, jika ingin memasuki hutan tersebut.

Kampung Adat Cireundeu sendiri berada di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Kampung itu masih memegang teguh kelestarian tradisi dan budaya dari nenek moyang.

Berada di sebuah lembah yang diapit tiga gunung yakni Kunci, Cimenteng, dan Gajahlangu, kampung ini memiliki bentang alam yang menawan. Pesonanya berpendar lantaran kearifan lokal warga dalam mengelola anugerah alam.

Di tengah keindahan yang tidak pudar meski berada di daerah perkotaan, di Kampung Adat Cireundeu terdapat hutan yang dianggap keramat. Bahkan, ada larangan untuk berburu dan memikat satwa liar yang kawasan tersebut.

Ada tiga hutan yakni Hutan Larangan, Tutupan, Baladahan, hingga Puncak Salam. Konon, tempat ini tak bisa dimasuki secara sembarangan. Dahulu, warga yang hendak menjajakan kaki diwajibkan berpuasa secara total atau mutih.

Namun, seiring berjalannya waktu, tempat tempat-tempat mulai ramai dikunjungi oleh masyarakat umum. Pengunjung pun diperbolehkan masuk ke hutan larangan, dengan syarat melepas alas kaki baik sandal maupun sepatu.

"Hutan larangan dan tutupan konsepnya seserahan. Bukan kita tidak boleh masuk ke situ, tapi jangan sampai merusak alam," kata Ais Pangampih Kampung Adat Cireundeu, Abah Widi.

Warga Kampung Adat Cireundeu tak menutup diri dari perkembangan zaman dan teknologi. Namun aturan untuk memasuki kawasan hutan keramat yang dianggap keramat itu, hingga kini masih diterpakan, yakni tak menggunakan alas kaki hingga tak mengenakan pakaian berwarna merah. Hal itu dilakukan karena masyarakat adat Cireundeu percaya bahwa manusia dan alam merupakan suatu kesatuan.

Abah Widi memaparkan, tidak mengenakan alas kaki dilakukan agar manusia merasakan sentuhan alam secara langsung. Melepas alas kaki menggambarkan kepercayaan bahwa 'Gusti anu ngasih' (Tuhan yang mengasihi), 'alam anu ngasah' (alam yang mendidik) dan 'manusa nu ngasuh' (manusia yang menjaga).

Sementara warna merah merupakan perbentukan emosi yang harus ditahan oleh diri masing-masing. "Itu memang ada yang harus dipikirkan aturan Adat. Memang seperti itu kalau dibebaskan alam akan rusak, karena semua berani," jelas Abah Widi.

Untuk mencapai Puncak Salam, pengunjung akan melewati hutan adat terlebih dahulu. Dimulai dari hutan atau 'Leuweung Baladahan', 'Leuweung Tutupan' dan 'Leuweung Larangan'.

'Leweung Baladahan', merupakan lahan untuk bercocok tanam, khususnya singkong yang menjadi panganan utama bagi masyarakat adat Cireundeu. Masyarakat adat mengolah singkong tersebut menjadi rasi.

Kemudian, 'Leuweung Tutupan', tempat ini harus dijaga kelestariannya. Pohonnya boleh ditebang, tapi harus ditanami kembali. Saat melewati hutan ini hampir sebagian besar tanaman merupakan jenis bambu.

Perbedaan kontras antara Leuweung Tutupan dengan Hutan Larangan adalah kehadiran pohon pinus. Di sana terdapat balai yang bisa digunakan traveler untuk menghela nafas sejenak. Pasalnya, trek menuju Puncak Salam cukup terjal.

Abah Widi melanjutkan, kelestarian alam di wilayahnya masih terjaga meskipun tidak sepenuhnya. Pihaknya mempersilahkan warga yang membutuhkan pohon untuk ditebang, hanya saja dengan catatan harus ada pohon penggantinya yang ditanam. Hal itulah yang ditanamkan di Kampung Adat Cireundeu.

Sebab, kata dia, urusan adat di wilayahnya ada yang dinamakan makhluk cicing (diam) seperti pepohonan. Kemudian makhluk polang anting seperti satwa hingga makhluk eling yakni manusia.

"Jadi kalau ada orang bawa senapan angin ke sini, abah suruh pulang lagi. Jangan ganggu hewan yang ada di Cireundeu karena itu keindahan alam. Mudah-mudahan kita sadar jangan sampai sembarangan merusak alam, merusak tanaman," imbuhnya.

Abah Widi tak ingin bencana longsor tahun 2005 akibat tertimbun longsoran sampah terjadi lagi. Untuk itu, kata dia, masyarakat dan semua pemangku jabatan harus sama-sama menjaga dan melestarikan alam. "Mudah-mudahan ke depan menjadi oksigen dan kekuatan alam yang baik yang kita damba-dambakan," ucap Abah Widi.

Rekomendasi