Israel Tetap Serang Rafah Meski Hamas Setuju Gencatan Senjata, Lima Tewas

| 07 May 2024 14:10
Israel Tetap Serang Rafah Meski Hamas Setuju Gencatan Senjata, Lima Tewas
Israel tetap serang Rafah (Instagram/IDF)

ERA.id - Israel kembali menembakkan serangannya ke Rafah setelah Hamas menyetujui proposal gencatan senjata. Serangan itu menewaskan sedikitnya lima orang.

Menurut laporan AFP, rumah sakit Kuwait di kota itu menerima lima korban tewas dan beberapa terluka setelah serangan Israel semalam. Para saksi dan sumber keamanan Palestina mengatakan daerah tersebut saat ini menjadi lokasi aktivitas serangan militer Israel yang intens.

Serangan udara Israel secara intensif di Rafah terjadi sebelum pukul 10.00 malam waktu setempat. Serangan ini dilakukan pasukan militer Israel setelah mengeluarkan instruksi evakuasi untuk warga Palestina di bagian timur kota di Gaza Selatan.

Hamas sebelumnya menyetujui proposal gencatan senjata yang dimediasi oleh Qatar dan Mesir pada Senin (6/5/2024) waktu setempat. Proposal gencatan senjata itu terbagi dalam tiga fase, meliputi negosiasi tidak langsung melalui mediator mengenai pertukaran tawanan dan tahanan akan dilanjutkan.

Kemudian, penarikan sebagian pasukan Israel dari daerah tertentu juga akan terjadi bersamaan dengan kembalinya keluarga pengungsi ke rumah mereka tanpa hambatan dan aliran bantuan dan bahan bakar ke Gaza.

Pada fase kedua, proposal itu menyebut akan ada penghentian total dan permanen aktivitas militer di Gaza, dan yang terakhir akan fokus pada permulaan rekonstruksi di Gaza pascaperang, yang diawasi oleh Mesir, Qatar, dan badan-badan PBB.

Namun Israel dengan tegas menyatakan akan tetap melakukan serangan ke Rafah dan tidak akan terpengaruh dengan hal tersebut. Hal ini lantaran Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menilai isi proposal itu jauh dari tuntutan penting yang diajukan Israel.

"Israel terus melanjutkan operasi di Rafah untuk memberikan tekanan militer terhadap Hamas guna mempercepat pembebasan sandera kami dan tujuan perang lainnya," kata kantor Netanyahu.

Rekomendasi