China Disebut Robohkan Dua Masjid Muslim Uighur di Xinjiang

Tim Editor

Masjid Azna (RFA)

ERA.id - Otoritas kota Atush (dalam bahasa China, Athusi) di Daerah Otonomi Uighur Xinjiang (XUAR), China barat laut, dikabarkan merobohkan dua dari tiga masjid di desa Suntagh, kota Atush, Xinjiang. Situs suci umat Islam Xinjiang dilaporkan hancur dalam beberapa tahun terakhir.

Penggusuran Masjid Azna dan Masjid Destangah di Suntagh adalah upaya penghancuran terbaru oleh pemerintah China sejak mereka mulai menghancurkan masjid di Daerah Otonomi Uyghur secara massal pada akhir 2016, sebagai bagian dari kampanye yang dikenal sebagai 'Perbaikan Masjid'.

Upaya 'Perbaikan Masjid', disebut bagian dari serangkaian kebijakan keras di bawah pemimpin China Xi Jinping. Selain penghancuran masjid, pemerintah juga melakukan penahanan massal sebanyak 1,8 juta orang Uighur dan minoritas Muslim lainnya dalam jaringan luas kamp interniran di Xinjiang yang dimulai pada April 2017.

Seperti dikutip dari Radio Free Asia (RFA), Kamis (13/8/2020), pihak berwenang disebut telah menghancurkan sekitar 70 persen masjid di seluruh wilayah Xinjiang. Baru-baru ini, RFA melakukan wawancara telepon dengan petugas keamanan publik Uighur dari desa Suntagh di Atush. Atush merupakan kota setingkat kabupaten yang berpenduduk sekitar 270 ribu orang di bawah administrasi prefektur Kashgar di wilayah penghasil kapas dan anggur di barat daya Xinjiang.

Petugas yang tak disebutkan namanya itu membenarkan dua dari tiga masjid yang tersisa di desa itu telah dirobohkan sekitar tahun lalu. Sementara masjid yang dibiarkan oleh otoritas tetap berdiri adalah yang terkecil dan yang paling jelek.

"Masjid Azna dihancurkan tahun lalu. Saya pikir itu mungkin di musim gugur. Mereka membawa mesin untuk merobohkannya. Masjid Azna dan Destangah di Suntagh dihancurkan. Destangah dihancurkan pada saat yang sama (seperti Azna)," kata petugas itu tanpa memberikan alasan pembongkaran masjid tersebut.

Menurut petugas tersebut, pemerintah setempat memutuskan membiarkan masjid yang ketiga tetap berdiri, yakni Masjid Teres. Meskipun, masjid yang lain dalam kondisi yang lebih baik dan jauh lebih besar. Masjid Destangah misalnya berlokasi strategis di sebelah pasar Suntagh.

Selain itu, masjid Azna dan Destangah dibangun dari batu bata. Sedangkan masjid Teres memiliki dinding dari tanah liat "Masjid yang dihancurkan lebih kokoh karena atapnya dicurah dengan semen. Sementara atap kayu di masjid Teres nyaris tidak bisa menahan hujan," ujar petugas itu.

Lebih dari 22 juta Muslim tinggal di Xinjiang, termasuk sekitar 11 juta orang Uyghur. Masjid dan situs keagamaan lainnya di Xinjiang rusak parah selama pergolakan politik pada Revolusi Kebudayaan 1966-76 di China. Sejak 2016, otoritas China telah secara sistematis menghancurkan masjid, makam, serta bangunan dan situs keagamaan lainnya di seluruh XUAR.

Investigasi oleh Agence France-Presse mengungkapkan bahwa setidaknya 45 makam di XUAR telah dihancurkan dari 2014 hingga Oktober lalu, dengan 30 diratakan sejak 2017. Situs tersebut diubah menjadi taman atau tempat parkir, atau tetap menjadi lahan kosong.

 

Tag: china uighur

Bagikan: