Eropa Gulirkan Jam Malam, Angka Kasus COVID-19 Susul-menyusul

Tim Editor

Ilustrasi: Negara-negara Eropa memperketat aturan pembatasan sosial di tengah terpaan gelombang kedua COVID-19. (Foto: Gary Butterfield/Unsplash)

ERA.id - Pemerintah negara-negara Eropa berjibaku menanggulangi gelombang kedua infeksi COVID-19 sementara angka kasus harian mencapai level terburuk sejak awal pandemi. Warga harus rela tidak nongkrong di pub atau restoran pada malam hari. Sementara itu, rumah-rumah sakit mulai khawatir akan kelebihan pasien.

Kota-kota besar di Prancis, seperti Paris, Marseille, Lyon, Toulouse, dan Lille, akan menerapkan jam malam dari pukul 21.00 hingga 6.00, kata Presiden Prancis Emmanuel Macron, seperti dilansir The Guardian, Rabu (14/10/2020). Aturan akan berlaku mulai hari Sabtu pekan ini.

"Situasinya mengkhawatirkan, namun, masih bisa tertangani," kata Macron dalam sebuah wawancara TV, Rabu. "Kita sedang berada dalam gelombang kedua yang meliputi seluruh Eropa."

Kementerian kesehatan Prancis pada Rabu mengumumkan adanya 22.950 kasus infeksi COVID-19 baru dalam 24 jam, sembari menyampaikan bahwa 32 persen kapasitas ICU di negara itu kini dihuni oleh pasien korona baru. Presiden Macron sendiri menegaskan bahwa misi Prancis saat ini adalah menurunkan angka kasus COVID-19 harian menjadi antara 3.000 hingga 5.000. Ia juga mengingatkan bahwa warga Prancis bakal hidup bersama virus korona hingga musim panas, atau sekitar Juni, tahun depan.

"Para warga perlu merelakan tidak makan malam di restoran atau bertamu di malam hari," kata dia. Warga Prancis masih dipersilakan melakukan perjalanan, namun, bagi mereka yang melanggar aturan baru, bakal didenda 135 euro (Rp2.317.447).

Sementara itu di Jerman, Kanselir Angela Merkel dan kepala dari 16 negara bagian di Jerman telah menyetujui peraturan bahwa daerah yang memiliki 35 kasus COVID-19 per 100.000 penduduk harus menutup operasional pub dan restoran setempat mulai pukul 23.00. Jerman sendiri tidak pernah melarang minum-minum di pub di atas jam 11 malam selama 70 tahun terakhir.

Di Italia, negara yang melaporkan 7.332 kasus COVID-19 baru pada Rabu lalu, masker wajib digunakan ketika warga berada di dalam dan luar rumah. Perkumpulan dalam satu keluarga dibatasi untuk maksimal 6 orang, sementara restoran dan bar harus tutup saat tengah malam.

Penasihat kesehatan di Italia mengingatkan bahwa kasus COVID-19 harian di Italia bisa mencapai 16.000 pada November nanti. Sementara itu, Carlo Palermo, kepala serikat dokter di Italia, mewanti-wanti bahwa rumah sakit di Italia akan penuh dalam waktu dua bulan jika laju pertambahan kasus korona harian tidak direm.

Sementara itu, ketika Belanda menerapkan 'lockdown' bagi sebagian daerahnya, Belgia pontang-panting menampung jumlah pasien COVID-19 di rumah sakit, yang melonjak 80 persen dalam sepekan terakhir.

Sedangkan pemerintahan Catalan, yang otonom dari Spanyol, bakal membatasi jumlah pengunjung toko dan pasar menjadi maksimal 30 persen. Kafe dan restoran hanya boleh melayani pesanan yang dibawa pulang.

Pemerintah Swiss pada Rabu berunding tentang bagaimana caranya agar negara tersebut tidak 'lockdown' untuk yang kedua kalinya. Pada hari itu, angka kasus COVID-19 di Swiss melonjak ke 2.823 kasus, atau dua kali lipat dari sehari sebelumnya.

Di Polandia, para dokter mengatakan bahwa sistem kesehatan setempat kewalahan dengan 6.526 kasus COVID-19 baru dan 116 kasus kematian akibat virus korona itu. Negara tersebut berkejaran dengan waktu untuk melatih para perawat baru.

Mereka juga mempertimbangkan membangun rumah sakit militer untuk merawat para pasien COVID-19.

Tag: uni eropa pandemi COVID-19

Bagikan: