Pentagon AS: Ibu Kota Afghanistan Bisa Direbut Taliban dalam 90 Hari ke Depan

| 12 Aug 2021 14:17
Prajurit Tentara Nasional Afganistan (ANA) berpatroli di area di dekat pos perbatasan di distrik Alishing, Afghanistan, Kamis (8/7/2021). (ANTARA FOTO/REUTERS/Parwiz/pras/cfo).

ERA.id - Milisi Taliban berpotensi merebut ibu kota Kabul, Afghanistan, dalam waktu 90 hari jika melihat progres kebangkitan mereka yang tampak di seluruh negeri, ujar  pejabat pertahanan Amerika Serikat (AS).

Melansir Reuters, Pejabat pertahanan AS, Rabu, (11/8/2021), mengatakan penilaian ulang soal berapa lama lagi Kabul bakal direbut dilihat dari kemajuan Taliban menyusul perginya pasukan asing pimpinan AS.

"Tapi ini bukan kesimpulan yang sudah pasti," tambah pejabat itu, seraya mengatakan bahwa pasukan keamanan Afghanistan dapat membalikkan momentum dengan melakukan lebih banyak perlawanan.

Kelompok Taliban sekarang menguasai 65 persen wilayah Afghanistan dan akan mengambil alih 11 ibu kota provinsi, kata seorang pejabat senior Uni Eropa, Selasa.

Faizabad, di provinsi timur laut Badakhshan, pada Rabu menjadi ibu kota provinsi kedelapan yang direbut oleh Taliban.

Pertempuran sangat intens di kota Kandahar, kata seorang dokter yang berbasis di provinsi Kandahar selatan.

Semua pintu gerbang ke Kabul, terletak di lembah yang dikelilingi oleh pegunungan, dipenuhi warga sipil yang melarikan diri dari kekerasan, kata sumber keamanan Barat. Sulit untuk mengatakan apakah kelompok Taliban juga berhasil melewatinya, kata sumber itu.

"Ketakutannya adalah pelaku bom bunuh diri memasuki markas diplomatik untuk menakut-nakuti, menyerang, dan memastikan semua orang pergi secepat mungkin," katanya.

Taliban ingin mengalahkan pemerintah yang didukung AS dan menerapkan kembali hukum Islam yang ketat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Ned Price mengatakan serangan itu bertentangan dengan semangat kesepakatan 2020.

Taliban berkomitmen untuk melakukan pembicaraan tentang kesepakatan damai yang akan mengarah pada "gencatan senjata permanen dan komprehensif," kata Price pada Rabu.

"Semua indikasi setidaknya menunjukkan bahwa Taliban malah mengejar kemenangan di medan perang," sebut Ned Price

"Menyerang ibu kota provinsi dan menargetkan warga sipil tidak sesuai dengan semangat kesepakatan," katanya.

PBB mengatakan lebih dari 1.000 warga sipil tewas dalam sebulan terakhir, dan Komite Internasional Palang Merah mengatakan bahwa sejak 1 Agustus sekitar 4.042 orang yang terluka telah dirawat di 15 fasilitas kesehatan.

Taliban membantah menargetkan atau membunuh warga sipil dan menyerukan penyelidikan independen.

Kelompok itu "tidak menargetkan warga sipil atau rumah mereka di wilayah mana pun, melainkan operasi telah dilakukan dengan sangat presisi dan hati-hati," kata juru bicara Taliban Suhail Shaheen dalam sebuah pernyataan pada Rabu.

Rekomendasi