IAEA: Reaktor Nuklir Korea Utara Diduga Aktif Lagi, Bisa Untuk Senjata Atom

| 30 Aug 2021 08:22
IAEA: Reaktor Nuklir Korea Utara Diduga Aktif Lagi, Bisa Untuk Senjata Atom
Arsip: Sejumlah tentara tampak berada di belakang rombongan truk Parade Hari Kemenangan Korea Utara pada 2013. (Foto: Wikimedia Commons)

ERA.id - Korea Utara tampaknya telah mengoperasikan sebuah reaktor nuklir yang selama ini diyakini memproduksi plutonium untuk senjata nuklir, kata pengawas atom PBB dalam laporan tahunannya.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tidak memiliki akses ke Korut sejak pengawasnya diusir Pyongyang pada 2009. Sejak itu, Korut telah meneruskan program senjata nuklirnya dan segera melanjutkan pengujian nuklir. Uji coba terakhir Korut dilakukan pada 2017, melansir ANTARA, (30/8/2021).

IAEA kini memantau Korut dari jauh, sebagian besar lewat citra satelit.

"Tidak ada indikasi pengoperasian reaktor dari awal Desember 2018 hingga awal Juli 2021," sebut laporan IAEA tentang reaktor berkapasitas 5 megawatt (MW) di Yongbyon, sebuah kompleks yang menjadi pusat pengembangan nuklir Korut.

"Namun, sejak awal Juli 2021, ada sejumlah indikasi, termasuk keluarnya air pendingin, yang sejalan dengan pengoperasian reaktor."

IAEA menerbitkan laporan tahunan yang diunggah secara daring tanpa pengumuman, sebelum menggelar pertemuan dengan negara-negara anggotanya.

Laporan terakhir diterbitkan pada Jumat.

Pada Juni IAEA mengatakan ada indikasi tentang kemungkinan pekerjaan pemrosesan ulang di Yongbyon untuk memisahkan plutonium dari bahan bakar reaktor bekas yang dapat digunakan dalam senjata nuklir.

Laporan pada Jumat mengatakan durasi pekerjaan yang terlihat dari pertengahan Februari hingga awal Juli menunjukkan adanya penanganan sekelompok penuh bahan bakar bekas.

Durasi selama lima bulan itu kontras dengan waktu yang lebih singkat untuk mengolah limbah.

"Indikasi baru tentang pengoperasian reaktor 5MW(e) dan Laboratorium (Pengolahan Ulang) Radiokimia itu sangat meresahkan," kata IAEA.

​​​​Laporan itu menyebut ada indikasi "dalam rentang waktu tertentu" bahwa apa yang diduga sebagai pabrik pengayaan uranium di Yongbyon tidak dioperasikan.

Ada pula indikasi tentang aktivitas penambangan dan konsentrasi di tambang uranium dan pabrik di Pyongsan, sebut laporan itu.

Rekomendasi