Mencari Tahu Motif Tewasnya Satu Keluarga di Kalideres, Mungkinkah karena Praktik VSED 'Puasa Sampai Mati'?

| 23 Nov 2022 21:05
Ilustrasi. (ERA/Nisa Rahma Tanjung)

ERA.id - Asiung berkali-kali mendapat laporan bau busuk di Perumahan Citra Garden Extension 1, Kalideres. Petugas PLN mencium bau yang sama di Blok AC5 Nomor 7 saat memutus kabel listrik di rumah itu, Rabu (9/11). Mereka lantas melapor ke Asiung dan sebagai ketua RT setempat, ia tak bisa lagi tinggal diam. 

Keesokan harinya, bersama security komplek, Asiung mendobrak pagar rumah itu dan mengintip ke dalam. Seonggok mayat terbujur kering dan kaku di ruang tamu. Warga segera menghubungi Polsek Kalideres. 

Empat orang keluarga penghuni rumah itu ditemukan tewas: Rudyanto Gunawan (71) sang kepala keluarga, Renny Margaretha Gunawan (68) sang istri, Dian Febbyana Apsari Dewi (42) anak mereka, dan Budyanto Gunawan (68) adik Rudyanto. 

Hingga kini, jasad mereka berempat masih terbaring di RS Polri dan belum dikremasi sejak kematian mereka masih jadi misteri. Tidak ada tanda-tanda kekerasan dan pembunuhan. Waktu kematiannya pun berbeda-beda. Awalnya, polisi menduga mereka mati kelaparan karena dari hasil autopsi perut mereka kosong semua. 

Belakangan, polisi sendiri meragukan pendapat itu. Menurut berbagai kesaksian dan penemuan, keluarga Rudyanto tergolong mampu. Kemudian muncul dugaan bahwa mereka berempat bukan mati kelaparan, tapi melaparkan diri atau sengaja tidak makan dan minum. 

Fenomena itu dalam istilah medis disebut: Voluntary Stopping of Eating and Drinking (VSED), yaitu upaya seseorang untuk mempercepat kematiannya dengan sengaja dan sukarela tidak mengonsumsi makanan dan minuman, alias berpuasa sampai mati. 

Yang masih jadi pertanyaan sampai hari ini adalah apa motif keluarga Kalideres memutuskan mati pelan-pelan dalam rumahnya? Polisi pun belum membeberkan lebih lanjut hasil kesimpulan mereka. Menanggapi berbagai pendapat yang beredar, Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi enggan berspekulasi.

"Masih dalam penelitian. Ini kan ada dua, penyebab kematian dan motif," kata Hengki kepada wartawan, Rabu (23/11). "Motif sedang didalami sama-sama bersama psikologi forensik. Sekarang sedang diautopsi psikologi secara komprehensif."

Upaya mempercepat kematian dengan berpuasa

VSED sebagai metode kematian memang belum jamak terdengar. Meski di luar negeri seperti Swiss, negara yang masyhur dengan right-to-die society, fenomena ini dianggap proses yang alami dan legal. Menurut salah satu jurnal medis garapan Sabrina Stängle dkk, dari 66.971 kematian di Swiss pada 2017, setidaknya 183 orang memilih mengakhiri hidup dengan cara VSED.

Dalam sebuah penelitian berjudul Nurses’ Experiences with Hostice Patients Who Refuse Food and Fluids to Hasten Death, berdasarkan keterangan 102 perawat di Oregon, motif utama pasien memilih VSED adalah kesiapan untuk mati, keyakinan bahwa melanjutkan hidup tak ada gunanya, kualitas hidup yang dirasa rendah, keinginan untuk mati di rumah, dan hasrat untuk memilih cara kematian sendiri.

Para perawat itu bilang dua minggu terakhir kehidupan pasien terasa damai, dengan tingkat rasa sakit dan penderitaan yang rendah. Rata-rata kematian mereka juga dinilai “baik” oleh perawat. Dalam Islam ada istilah husnulkhatimah, akhir yang baik, mungkin seperti itu juga yang mereka yakini.

Mati dengan bangga, begitulah VSED diartikan di negara macam Swiss dan para lansia di luar sana yang memutuskan mati dengan berpuasa. Rosemary Bowen berusia 94 tahun saat memutuskan berhenti makan pada 2018, ia lalu meminta putrinya, Beth, untuk mendokumentasikan proses itu.

Rosemary dirawat di RS JSSA Montgomery pada tujuh hari terakhirnya. Ia mengisi penghujung hidupnya dengan banyak bercerita dan menelepon kerabat. Pada hari kelima puasanya, Rosemary berkata kepada putrinya, “Aku merasa lebih berat untuk bernapas dari sebelumnya, dan itu masuk akal.”

Pada hari keenam ia berkata lirih, “Aku harap aku siap untuk pergi.”

“Apakah Ibu punya penyesalan?” tanya Beth.

“Tentu saja tidak,” jawabnya.

Organ dalam Rosemary mulai meredup pada hari ketujuh dan berhenti berfungsi. Setelah 14 jam tidur yang dalam, ia dinyatakan meninggal dunia. Dokumenter itu lalu dirilis dengan judul Rosemary Bowen's Fast.

Yang berbeda antara VSED dengan kematian keluarga di Kalideres

Gambaran berpuasa sampai mati seperti yang dilakoni Rosemary jelas sangat kontras dengan yang terjadi pada keluarga di Kalideres. Setidaknya ada tiga hal yang sangat membedakan antara keduanya, yaitu keterbukaan, penerimaan, dan pendampingan.

Pertama, keterbukaan. Rosemary dan banyak lansia lain yang menjalani VSED terlebih dulu mengungkapkan niatan itu ke orang-orang terdekatnya. Mereka tidak ingin menutup-nutupi keputusan mereka dan menambah beban orang-orang tersayang. Bandingkan dengan keluarga Rudyanto yang secara tekun menyembunyikan diri di balik pagar besi tinggi.

Bahkan dari hasil penyelidikan terbaru, istri Rudyanto ternyata ditemukan tak bernyawa sejak enam bulan lalu. Pegawai koperasi berkunjung ke sana pada Jumat (13/5) untuk mengecek sertifikat rumah yang ingin digadaikan atas nama Renny Margaretha. Bau busuk sudah tercium sejak saat itu. 

Margaretha terbujur kaku dalam kamar yang gelap. Ketika pegawai koperasi menyalakan senter di ponselnya, perempuan itu sudah jadi mayat. “Allahu akbar!” teriaknya kaget dan segera kabur. Budiyanto lalu mengejarnya dan memohon agar kejadian itu tidak dilaporkan ke polisi atau warga. Pegawai itu menurut.

Kedua, penerimaan. Keluarga pasien yang memilih VSED berdiri di antara dua kutub, antara menghargai keputusan orang tercinta dan perasaan takut kehilangan. Maka proses ini menuntut penerimaan dan keikhlasan keluarga. Tanpa ada keterbukaan di awal, otomatis takkan ada penerimaan. Dua hal yang sama-sama tak dapat kita temukan pada kasus Kalideres.

Terakhir, pendampingan. Setelah seseorang membuka diri dengan pilihan kematiannya, dan keluarga menerima hal itu, yang tersisa adalah pendampingan hingga maut mengetuk pintu. Maka, para pasien VSED di luar sana berusaha menjalani hari-hari terakhirnya dengan bahagia didampingi orang-orang tercinta.

Sementara empat orang keluarga di Kalideres tampaknya tidak peduli dengan semua itu. Mereka tak pernah bilang mau mati, putus kontak dengan keluarga dan tetangga sekitar, dan meregang nyawa ditemani mayat-mayat hidup. Sebuah gambaran kematian yang sangat jauh dari baik, apalagi bahagia.

Rekomendasi